HALF THE MEMORY

1381 Words
Sejak William berjumpa dengan Mauren. Pria itu tak sekali pun pergi dari sisi wanita tersebut. Sesekali, William hanya beranjak dari duduk untuk pergi ke toilet. Lalu, kembali mendampingi Mauren di sisi ranjang perawatan. “Will, bisakah kau bercerita padaku perihal yang aku alami ini?” Mauren berceletuk. Memandang beberapa bagian tubuh yang terbalut perban berwarna putih. William mengangguk. Ia paham perihal pertanyaan yang terngiang di kepala Mauren. Sudah pasti, seusai wanita itu sadar diri, ia penasaran terhadap hal yang menimpa. Hingga menyebabkan ia harus menginap pada sebuah rumah sakit ternama. “Sebenarnya, dua minggu yang lalu kau mengalami kecelakaan mobil bersama Brian dan Priscilla, Mauren,” William menyahut. Tiba-tiba, Ngiiing! Kepala Mauren merasakan sakit yang teramat hebat. Wajah Mauren sontak memucat pasi. Bibir wanita itu hampir membiru. Wanita itu bahkan memejamkan mata untuk menahan rasa nyeri yang terasa. “MAUREN? Mauren? Apa yang terjadi padamu?” William memekikkan suara. Menatap lekat perubahan garis wajah pada paras Mauren. Tanpa banyak bicara, William berlari keluar kamar. Memanggil beberapa perawat yang sedang berlalu lalang di sana. “Sus, tolong Sus. Bantu saya,” William mengarahkan. Perawat itu bergegas masuk ke dalam sebuah kamar perawatan. Ia segera menghampiri pasien yang terlihat menahan rasa pusing dan mual. “Sebaiknya, Tuan keluar dari dalam ruangan,” perawat itu menyarankan. William melongo. Ia takut hal buruk terjadi pada Mauren. Namun, William tak dapat bertindak banyak. Ia hanya bisa menurut. Lalu, beranjak keluar dari dalam kamar perawatan. Pada saat bersamaan, seorang dokter dan perawat lain berlari. Mereka melintas cepat melewati William. Dokter itu segera tiba, usai mendapat kabar dari seorang perawat di dalam ruangan. William menggertakkan gigi berulang. Pria itu hanya bisa melihat bayangan Mauren dari balik kaca tembus pandang. Yakni, kaca berukuran tiga kali empat yang terpatri pada daun pintu berwarna cokelat. Mauren, apa yang terjadi padamu? William bergumam. Lalu, pria itu mengambil ponsel dari dalam saku celana. Menekan panggilan keluar. Menujukan sambungan telepon pada sebuah nomor yang sudah ia hafal. Tut.. tut.. Panggilan terhubung. “Halo, Will?” Andrew menyahut dari seberang. “Drew, kau sedang berada di mana? Bisakah kau datang ke rumah sakit? Aku sedang ingin kau temani. Aku terlalu gusar, Drew. Aku takut suatu hal menimpa Mauren,” William berucap khawatir. “Baiklah, baiklah. Kau tenanglah dulu. Mauren pasti akan baik-baik saja. Aku akan segera menjumpaimu,” Andrew memutuskan. Panggilan berakhir. Dapat dipastikan, jika Andrew segera melajukan mobil menuju rumah sakit pada detik itu juga. Sementara William? Ah! Pria itu masih berjalan mondar-mandir dengan perasaan tak karuan. Tak lama kemudian, Sret! Pintu kamar perawatan bergeser. Seorang dokter berjubah putih menampakkan diri. “Dok, bagaimana kondisi Mauren?” William spontan mengajukan kalimat tanya. Pria itu memandang lekat sosok dokter berwibawa di hadapannya. Dokter Spesialis tersebut menaikkan kaca mata baca. Membenarkan posisi kaca mata pada batang hidung miliknya. Lalu berkata, “Sebaiknya, kita mengobrol di ruangan saya.” Seketika, degup jantung William berdetak tak karuan. Apa obrolan ini pertanda buruk bagi kondisi Mauren? William bertanya-tanya. Setibanya, di ruang dokter. Drrt drrt! “Halo, Drew?” William menyahut panggilan masuk. “Kau sedang berada di mana, Will? Aku tak menjumpaimu di lantai ruang perawatan ICU.” William segera menginformasikan keberadaannya saat itu. Tanpa banyak bicara, Andrew menuju ruang konsultasi dokter yang sedang dihampiri oleh William. Tok-tok! Di sela, William berbincang dengan dokter penanggung jawab, Andrew mengetuk pintu. Seorang perawat mempersilahkan pria itu masuk ke dalam ruang yang sama. “Apa yang terjadi pada Mauren, Will?” Andrew bertanya cemas. Dokter tersebut baru saja berkata, jika Mauren mengalami salah satu jenis amnesia. Amnesia yang diderita Mauren menyebabkan pasien tak bisa mengingat kenangan di masa lalu. Termasuk, beberapa orang di masa lalu. Cidera otak dan dampak dari operasi kepala yang Mauren jalani, membuat wanita tersebut harus kehilangan sebagian memori ingatan. Maka dari itu, Mauren tak bisa mengingat sosok Brian; sewaktu William menyebutkan nama pria tersebut kepadanya. “Apa yang dialami pasien baru saja, adalah reaksi alami. Ketika pasien berusaha mengingat kejadian atau orang yang ada di masa lalu, maka saat itu ia akan mengalami pusing hebat. Bahkan, pasien bisa sampai mual seperti tadi,” Dokter tersebut menambahkan penjelasan. Saat itu, barulah William tahu alasan dibalik wajah Mauren yang berubah total saat ia menyebut nama Brian. Jadi, Brian termasuk dalam ingatan masa lalu Mauren, yang tak bisa ia ingat? William bergumam. Lalu, menyimpulkan. Usai berbincang perihal banyak hal mengenai kondisi Mauren dengan dokter tersebut, William dan Andrew berpamitan. “Baiklah, Dok. Terima kasih banyak atas penjelasan Anda,” William berucap. Dua orang pria tampan itu beranjak dari duduk. Berjalan bersamaan, keluar dari dalam ruang konsultasi dokter. Andrew menepuk pundak William. Berusaha memberi kekuatan. “Sebentar, Will. Jika memang benar Mauren hanya kehilangan ingatan di masa lalu, apakah itu berarti ia masih mengingat kita?” Andrew bertanya. Memastikan. “Kau benar, Drew. Sewaktu Mauren sadar, aku menyapanya. Dan, ia mengingat namaku. Kemungkinan besar, Mauren juga akan mengingatmu.” Benar, beberapa waktu sebelum Mauren mengalami kecelakaan, William dan Andrew-lah yang selalu berada di samping Mauren. Mereka bertiga kerap pergi bersama-sama. Mengabiskan waktu. Meski, tak jarang Mauren hanya pergi berdua saja bersama William. ****** Tak terasa, pijakan lebar dua pemuda tersebut telah sampai pada kamar perawatan VIP. Mereka segera masuk ke dalam kamar berukuran besar di sana. “Will? Kau baru saja pergi ke mana?” Mauren menyapa. Ia menoleh seketika saat mendapati pintu kamar terbuka. William tersenyum. Mauren benar-benar mengingat sosoknya. Tak lupa meski sedikit saja. “Aku hanya pergi sebentar, Mauren. Apa kau menungguku?” William menyahut. Meraih tangan Mauren. Menggenggam tangan itu. “Tentu,” Mauren mengangguk. Lalu, Andrew menelengkan kepala pada Mauren. Berharap wanita itu juga menyebut namanya. “Apa yang sedang kau lakukan, Drew? Mengapa memandangku dengan kepala meneleng seperti itu?” Mauren berucap. Andrew menyentuh sisi depan tubuh yang yang mengembang, “Syukurlah, kau mengingatku juga, Mauren,” Andrew berdecak keras. Ingin rasanya ia menguncang tubuh sang pasien karena rasa senang. Aw! Mauren memekik. Salah satu bagian tubuh yang nyeri baru saja disentuh oleh Andrew. “Apa yang sedang kau lakukan?” William menyergah. “Apa kau tak lihat, beberapa tubuh Mauren masih terbalut perban?” William berucap menyeramkan. “Baiklah, baiklah. Aku hanya ingin melampiaskan rasa senang saja,” Andrew menjawab. Mauren tersenyum. Dua pria di hadapannya memang kerap memperdebatkan hal-hal kecil. Membuat Mauren merasa heran, sekaligus merekahkan tawa senang. Mereka bak tom dan jerry yang berkejar-kejaran. Yah! Itulah yang selalu Mauren simpulkan. Di sela muda-mudi tersebut bersenda gurau, ponsel William berdering. Memunculkan nama Brian di dalam layar. William sontak memberi isyarat mata pada Andrew. Menginfokan jika penelepon itu adalah Brian. Andrew mengangguk. Mengijinkan William keluar dari dalam kamar; untuk menyahut panggilan. “Halo, Brian?” “Will, kau sedang berada di rumah sakit, bukan? Lantas, mengapa kau tak ada di ruang tunggu ICU. Dan, aku tak menemukan Mauren dari balik kaca tembus pandang. Tak ada suatu hal buruk menimpa pada Mauren, bukan?” “Tenanglah, Brian. Tadi pagi, observasi Mauren sudah tuntas. Dan, dokter memperbolehkan Mauren berpindah ke kamar perawatan umum.” Belum sempat William melanjutkan ucapan, Brian segera menyergah kalimat William, “Lantas, mengapa kau tak mengabariku?” pria itu memekikkan suara karena kecewa. “Maafkan aku, Brian. Ini terjadi begitu cepat. Tadi, kami juga sempat mengalami kendala. Jadi, aku tak sempat menghubungimu,” William menjelaskan. Namun, Brian tak mau tahu. Ia terlanjur kecewa. Perasaan kecewa itu dibaluti dengan cemburu yang menggebu. “Sudahlah, sekarang katakan saja padaku, Mauren sedang dirawat di lantai berapa?” Usai mendapati lokasi Mauren, Brian meminta Lucia melajukan kursi roda dengan cepat. Ting! Lift berdenting. Brian tak sabar untuk masuk ke dalam lift. Seandainya, gips ini sudah dilepas, pasti aku akan menaiki anak tangga agar lebih cepat. Batin Brian dengan segenap rasa tak sabar. ****** Sesampainya di kamar perawatan umum. Brian dan Lucia mendapati tiga orang muda-mudi di sana. Tak menunggu lama, Lucia mengarahkan kursi roda Brian mendekat ke ranjang perawatan. “Mauren, akhirnya kau sudah sadar,” Brian berucap. Memandang nanar manik mata sang pujaan. Sementara itu, Mauren justru memandang kikuk. Ia benar-benar tak mengenal sosok pria dan wanita yang baru saja tiba menghampiri. “Ka-kalian siapa?” Mauren bertanya. HAH? Brian dan Lucia ternganga. Kakak beradik itu melongo, saat mendapati Mauren tak mengenali mereka. “Apa yang terjadi pada Mauren, Will, Drew?” Brian bertanya gusar. Andrew menghempas kasar puncak kepala. Sementara itu, William memandang dengan iba.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD