A MIRACLE

1067 Words
Pasien atas nama Mauren Alisea Manopo saat ini sudah kembali ke ruang perawatan ICU. Usai menjalani operasi kedua di kepala, Mauren harus terbaring lagi di ranjang yang sama. William dan Lucia merasa senang dengan keadaan tersebut. Setidaknya, Mauren belum menyerah. Atau bahkan, wanita itu takkan menyerah sedikit pun. Meski, orang lain tahu, jika kondisinya benar-benar parah. Bahkan, Mauren masih tak bisa terlepas dari alat bantu napas, yang memenuhi sedikit garis di wajah. “Lucia, kau pulanglah. Mamamu pasti khawatir,” William mengingatkan. Lucia mengangguk mengiyakan. “Baiklah, Kak. Sampai jumpa. Jika ada apa-apa, tolong kabari kami secepatnya ya,” Lucia berpamitan. Berbalik arah. Menyudahi aktivitas yang semula menatap Mauren dari balik kaca tembus pandang. Drrt drrt! Bayangan Lucia yang menghilang, digantikan oleh panggilan masuk dari seberang. William segera menyahut si penelepon yang sedari tadi tak sabar. “Halo, Pa,” William menyapa. “Kau ini sedang berada di mana? Sedari pagi, kata Bik Sum kau tak ada di rumah.” William spontan menjauhkan ponsel dari gendang telinga. Suara sang ayah benar-benar memecah pengeras suara di dalam benda elektronik berukuran sedang. “William sedang ada urusan, Pa.” “Urusan apa? Kau itu sedari lulus kuliah, hanya keluyuran saja. Papa sudah bilang kan, padamu. Jika seharusnya, kau masuk kuliah kedokteran saja. Sekarang, lihatlah. Kau jadi pengangguran karena tak mengambil jurusan yang Papa sarankan,” Maxim melanjutkan ocehan dari seberang. Sementara, William? Ah, pria itu sedari tadi tak menempelkan ponsel pada sisi telinga, baik di sebelah kiri mau pun kanan. Biar saja, pria tua ini mengoceh sesuka hati. Batin William berdecak. Membangkang sang ayah. “Tuan Maxim?” Tiba-tiba suara seorang wanita terdengar dari seberang. Tampaknya, wanita itu adalah sekretaris Maxim Haryasa. Panggilan sang sekretaris, membuyarkan ocehan Maxim pada sang putra. William akhirnya bernapas lega. Seharusnya, aku blokir saja nomor telepon Papa. William bersimpul, sesaat usai memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Di sela William hendak kembali memperhatikan Mauren dari balik kaca tembus pandang, seseorang menepuk pundak William dari belakang. “Kau?” William mengeluarkan suara. “Bukankah kau sedang berada di studio band? Katamu, kau akan mengurus penyewa band pada hari ini?” William bertanya pada Andrew yang tiba-tiba datang menghampiri. Pria serampangan itu, berdecak keras. “Apa kau tak melihat sekarang sudah jam berapa, hah?” William terperangah. Mengedarkan manik mata pada jam tangan miliknya. Pukul empat sore bertengger di dalam angka digital yang ada. “Makanya, kau itu tahu waktu. Giliran kau sedang bersama Mauren saja, kau tak pernah ingat waktu. Lagi pula, kau pasti belum makan siang, kan?” Andrew menimpali gurat terkejut di wajah William. Yah! Sedari pagi, William sibuk menunggu Mauren di rumah sakit. Pria itu bahkan tak meninggalkan ruang tunggu operasi, kecuali untuk pergi ke toilet. Rasanya, William benar-benar tak ingin pergi walau sedetik. Pria itu khawatir jika tiba-tiba hal buruk menimpa Mauren saat operasi sedang berlangsung. Beruntung, Tuhan masih mengijinkan William mendapati sosok Mauren, keluar dengan keadaan baik dari dalam ruang operasi. Meski, hingga kini wanita itu belum juga sadarkan diri. “Sudahlah, kau harus mengisi perutmu,” pungkas Andrew. Pria itu mengarahkan sang sahabat untuk mengisi perut di kantin rumah sakit. ****** “Bagaimana kabar Tante Letta?” William memecah keheningan saat mereka berdua sedang duduk di meja makan yang sama. “Nyokap baik-baik aja, Will. Hanya saja, aku tak tahan melihat tubuhnya yang semakin kehilangan berat badan,” Andrew menyahut lirih. Setiap laki-laki akan menjadi insan terbaik dalam hal menyembunyikan perasaan. Bagaimana pun, laki-laki tak pernah ingin terlihat ringkih. Dan, itulah yang Andrew rasakan saat ini. “Sabar ya, bro. Tante Letta pasti bertahan. Dia wanita yang kuat,” William menepuk bahu bidang sang sahabat. Memberi ucapan semangat. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul lima. William dan Andrew bergegas kembali ke ruang perawatan ICU. Keduanya, kini berada di dalam ruang yang sama dengan Mauren. William tak henti menggenggam tangan wanita yang ia cinta. Mauren, apa kau baik-baik saja? Apa operasi keduamu tadi, membuatmu ingin segera bangun? Jika, iya. Katakan padaku, sekarang. Aku akan menuruti apa saja maumu jika kau tersadar. William membatin. Berharap Mauren mendengar ucapan di dalam hati yang baru saja ia tujukan. Titt titt titt! Suara monitor terdengar bersahut-sahutan. William mulai terbiasa dengan benda berukuran persegi, yang kerap menunjukkan kondisi sang pasien di sana. Titt Titt Titt! Tiba-tiba, William kembali merasakan tangan Mauren bergerak. Namun, pria itu tak ingin segera terlonjak seperti kali pertama. Ia ingin memastikan jika sensoris di tangan benar-benar tak bermasalah. “Drew? Drew?” William berseru. Menepuk Andrew menggunakan salah satu tangan yang terbebas. “Ada apa, Will?” “Apa kau juga melihatnya?” William berucap. Mengarahkan pandang menuju tangan kanan yang sedang digenggam oleh Mauren. “Kau melihat Mauren menggenggam tanganku, bukan?” William memastikan. Kini, jemari Mauren sedikit bergerak. Seraya membalas genggaman tangan William. “Dokter? Suster?” Tanpa banyak bicara, Andrew berseru. Memanggil dokter dan perawat yang sedang berjaga. Mereka sontak menghampiri ranjang perawatan Mauren. Salah satu dokter penanggung jawab segera mengecek keadaan pasien. Dokter itu mengarahkan beberapa alat medis untuk mengecek indera, tanda vital dan sensoris Mauren. Dan, benar saja. Kali itu Mauren memberikan rangsangan nyeri. Meski, masih minimal sekali. Setelahnya, “Selamat ya, pasien atas nama Mauren Alisea Manopo sudah tersadar. Kami akan melakukan observasi ulang. Untuk keluarga pasien, kami harap bisa menunggu di luar,” Dokter tersebut berucap. William spontan merekahkan senyuman. Pria itu memeluk berat tubuh Andrew, sang sahabat. “Drew, akhirnya Mauren tersadar,” William memekikkan suara. Nada bicara pria itu terdengar senang. William menepuk pundak belakang Andrew. Sesekali, ia bersyukur akan keajaiban Tuhan. “Baiklah, Will. Kita harus keluar. Agar dokter dan para perawat bisa leluasa melakukan tugas mereka. Lagi pula, kita harus mengabari Brian,” Andrew memutuskan. William mengangguk cepat. Melangkah keluar dari dalam ruang perawatan. Tak henti mengukir bibir mengembang di wajah. “Drew, aku senang sekali,” William berucap sekali lagi. Melampiaskan ekspresi bahagia. Sementara itu, Andrew membalas seutas senyum yang William tujukan. Tangan kanannya sibuk meletakkan ponsel pada telinga. Berharap Brian segera menyahut panggilan. Tut.. tut.. Panggilan tersambung. Tak lama kemudian, “Halo, Drew?” Brian menyahut dari seberang. “Brian, aku tak akan basa-basi. Aku dan William hanya ingin berkata, jika Mauren sudah sadar,” Andrew berucap lantang. Senyum di bibir tak lupa merekah. Apa lagi, usai melihat William dipenuhi tawa bahagia. “Benarkah?” Brian memekikkan suara. Jakun pria itu serasa terlonjak dari dalam kerongkongan. Andrew mengiyakan. “Baiklah, aku akan segera ke rumah sakit sekarang juga.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD