William berjalan mondar-mandir selama lima belas menit. Pergerakan William yang gusar membuat Andrew menjadi jengah.
“Will, tak bisakah kau duduk? Sedari Brian masuk ke dalam ruang konsultasi, kau tak berhenti mondar-mandir seperti itu,” Andrew menegur.
Huh!
William mendegus, “Aku tak sabar ingin segera kembali ke ruang perawatan Mauren, Drew.”
Benar saja, selama Brian berkonsultasi di dalam ruang Spesialis Dokter Ortopedi, William tak henti berjalan ke sana ke mari. Ia bak setrikaan yang digunakan oleh para ibu-ibu di rumah.
Tak lama kemudian,
Ceklek!
Pintu ruang konsultasi terbuka. Seorang perawat mendorong kursi roda Brian.
“Jadi, gimana? Apa gipsmu itu sudah boleh dilepas?” Andrew bertanya. Sesaat usai menjumpai Brian di depan mata.
“Belum, Drew. Dokter bilang aku butuh dua minggu lagi untuk menggunakan gips ini,” Brian menyahut kesal. Menggerakkan tungkai kanan yang terasa berat.
Sementara itu, William berlari pergi ke kasir. Ia bak manajer Brian yang membawa kartu untuk menuntaskan pembayaran.
“Sepertinya, William bergegas sekali, Drew? Lihatlah, dia bahkan tak meminta kartuku. Justru membayarnya dengan kartu miliknya,” Brian berkomentar. Menatap salah seorang sahabat dari kejauhan.
Dengusan heran kembali terdengar. Kali itu berasal dari Andrew yang enggan memberi Brian jawaban. Bisa-bisa Brian akan kembali cemburu, saat mendapati kegusaran William dikarenakan ia enggan meninggalkan Mauren terlalu lama.
******
Kini, tiga orang pemuda itu telah berada di satu tempat. Andrew mengajak dua sahabatnya untuk menuju lobi. Bagaimana pun, mereka harus pulang. Beristirahat, sebelum hari esok kembali memadat.
Andrew mengarahkan Brian menuju mobil SUV miliknya. Sudah pasti, karena Brian tak mungkin menaiki mobil sport milik William. Jadi, harus Andrew yang mengantar Brian pulang.
“Bro, kita balik duluan,” Andrew berpamitan. Menyapa William yang malam itu berbeda arah. Mobil mereka terparkir di tempat yang tak sama.
Sementara Andrew dan Brian telah melaju pergi, tak sama halnya dengan William. Pria itu ternyata kembali melangkah ke dalam lobi rumah sakit. Memutuskan untuk bermalam di ruang tunggu ICU.
Jika dahulu, Brian terkesan bucin pada Mauren, entah mengapa sekarang kebucinan itu berpindah pada William.
Empat tahun berada di sisi seorang Mauren, membuat William tak bisa jauh sedikit pun dari sosok wanita itu. Seorang wanita yang berhasil mengubah hidup William menjadi lebih berwarna.
Drrt drrt!
Di sela William menekan tombol lift, ponselnya bergetar. Memunculkan panggilan video dari seseorang.
“Sedang apa wanita ini melakukan video call padaku?” William bertanya heran. Menolak panggilan.
Namun, si penelepon yang keras kepala itu tak menyerah begitu saja. Ia kembali memanggil William melalui panggilan video yang sama. William terpaksa menyahut panggilan.
Seketika, bola mata William melebar. Ia mendapati Priscilla berdiri dengan latar belakang kediaman Maxim Haryasa yang megah.
“Kau sedang apa di rumah Papaku?” William bertanya. Dahi pria itu berkerut tak mengira.
“Aku akan mengatakan pada Papamu, jika kau membuka studio band. Itu adalah resiko karena kau tak mau kembali bersekongkol denganku,” Priscilla mengancam.
Haish!
William mengeram, “Kau benar-benar wanita licik, Prisc.”
Alih-alih takut dengan William, Priscilla justru mendecik senang, “Ck.”
“Jadi, bagaimana? Apa kau akan membiarkan aku mengatakannya pada Papamu?”
Spontan bibir William mengembang. Membalas senyum culas yang Priscilla suguhkan.
“Baiklah, katakan saja pada Papaku. Aku tak takut dengan ancamanmu itu,” pria tampan tersebut menyahut.
Kemudian,
Tut tut tut!
Panggilan berakhir. William sengaja mematikan panggilan video yang semula terhubung.
Ting!
Lift berdenting. Namun, William mengurungkan niat saat menaiki lift kedua. Sesaat seusai lift pertama terlewat; karena sibuk menanggapi panggilan video dari Priscilla. Pria itu teringat pada hal yang harus ia pertahankan.
William berlari secepat kilat. Menuju parkiran mobil. Menyalakan kunci otomatis dari kejauhan. Melesat cepat ke dalam jok kemudi mobil. Menggunakan sabuk pengaman. Menyalakan mesin.
Dan, Brum!
Cit!
Ban mobil sport milik William berdecit. Pria itu bergegas meninggalkan halaman parkir rumah sakit. Membahu jalanan sembari mengepalkan tangan kekar pada kemudi. Sesekali, ia memukul setir. Melampiaskan amarah yang ia tahan pada seorang wanita bernama Priscilla.
Tak menunggu lama, William menepikan mobil di halaman rumah yang megah. Tak ada mobil Priscilla di sana. Benar saja, wanita itu memang belum mengendarai mobil usai kecelakaan. Tangan kanannya masih tersanggah oleh arm sling. Memaksa Priscilla menggunakan taksi sebagai alat transportasi.
Ceklek!
William melangkah masuk ke dalam rumah. Bersamaan dengan bunyi alarm mobil yang mengunci otomatis.
Dan, yah! Sang ayah sedang duduk bersama Priscilla di ruang tengah. Dua orang berbeda usia itu sedang berbincang di sana.
William melangkah melewati ruang tengah. Tak menghiraukan dua orang yang semula ia bidik dari kejauhan. Berlalu menaiki anak tangga. Menuju kamar pribadi yang berukuran sama luas dengan kamar utama.
Pria itu menarik laci penyimpanan. Menatap lega saat mendapati surat tanah studio band yang sudah dibeli olehnya.
Tiba-tiba,
Ceklek!
Seseorang membuka pintu kamar William tanpa mengetuk. Orang tak tahu sopan santun itu adalah Priscilla.
“Kau?” William memekikkan suara. Menutup kasar laci penyimpanan yang semula terbuka setengah.
Priscilla mendecap bibir, “Apa yang sedang kau sembunyikan di dalam laci itu?” wanita itu bertanya. Bercelingukan ke arah laci di samping William.
“Tak ada urusannya denganmu,” William menyahut ketus.
“Lagi pula, sedang apa kau ke kamarku? Apa ini adalah hobimu masuk ke dalam kamar pria?”
Cih!
Priscilla berdecik, “Kau kira aku serendah itu?”
Wanita itu beralih duduk di tepi ranjang yang empuk. Menopangkan dagu dengan tangan kiri yang terbebas dari arm sling. Lalu berkata, “Kau harus berterima kasih padaku. Aku membatalkan niat, saat hendak bercerita perihal studio band yang kau dirikan diam-diam itu.”
William menarik sudut bibir, “Lantas, setelah niatmu itu urung, sekarang kau hendak memprovokasiku dengan cara apa lagi?”
Priscilla mengedikkan bahu.
“Entahlah, belum terpikir olehku.”
William menggeleng heran. Tak pernah menyangka, jika ia akan berhubungan dekat dengan seorang wanita yang licik seperti Priscilla.
“Lagi pula, kau itu cantik, Prisc. Mengapa kau tak mengejar pria lain saja? Mengapa harus Brian? Kau jelas-jelas bisa mendapat yang lebih dari Brian.”
Priscilla beranjak dari duduk. Mendekati William. Berjinjit. Lalu berbisik, “Lantas, mengapa kau sendiri mengejar Mauren? Bukankah pria tampan dan kaya sepertimu, bisa mendapat wanita yang lebih dari Mauren?”
Huh!
William mendengus. Ucapan yang ia lontarkan, menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
“Sudahlah, sekarang kau temani aku saja,” Priscilla mengajak. Menarik paksa lengan William.
Sesampainya di ruang tengah.
“Om, kami berangkat dulu ya,” Priscilla berpamitan. Tangan kanannya masih menggandeng tangan William.
Maxim mengangguk mengiyakan.
Kini, muda mudi tersebut berada di depan halaman rumah.
“Terserah kau mau berangkat ke mana. Kau pergilah sendiri,” William berucap. Menyalakan kunci mobil. Dan, segera masuk ke dalam sisi kemudi. Berniat menghampiri apartemen Andrew. Menginap untuk semalam di sana.
Namun, langkah Priscilla yang bertungkai jenjang, membuat tangan wanita itu berhasil menggapai pegangan pintu mobil sport milik William. Pintu itu terbuka lebar ke arah atas. Priscilla menjejalkan p****t. Bahkan, sebelum William menyalakan mesin mobil di sana.
“Apa kau tidak dengar, jika aku menyuruhmu untuk pergi sendiri?” William mengulang perintah.
“Lagi pula, aku tak berniat menemanimu pergi. Entah kau hendak ke mana, aku takkan peduli.”
Issh!
Priscilla mendesis, “Apa kau tak tahu terima kasih?”
“Memang apa yang kau lakukan hingga aku harus berterima kasih?”
Tanpa menyahut, Priscilla menyodorkan ponsel pada William. Ponsel dengan layar menyala itu menunjukkan sebuah undangan pertemuan. Undangan itu ditujukan pada seluruh CEO Perusahaan. Termasuk, Perusahaan Haryasa, Wijaya dan perusahaan keluarga Priscilla.
“Aku tahu, kau pasti enggan datang ke acara perusahaan seperti itu. Kau pasti tak ingin bertemu Brian di sana. Jadi, tadi aku berhasil membujuk Papamu, agar tak memaksa kau turut serta pada acara itu di akhir pekan,” Priscilla menjelaskan.
Issh!
William berdecik. Mengembalikan paksa ponsel milik Priscilla. Lalu, menyalakan mesin dan mulai melajukan mobil.
******
Usai membahu jalanan ibu kota, William menepikan mobil pada sebuah bar ternama. Pria itu terpaksa turun dari dalam mobil. Mengikuti jejak Priscilla yang tak berubah.
Semenjak lulus SMA, Priscilla sudah mengantongi ijin untuk mengunjungi bar. Wanita itu bahkan sudah merasakan berbagai minuman beralkohol yang disuguhkan. Kehidupan bebas di negeri orang, nyatanya terbawa hingga ia kembali ke Indonesia. Mau tak mau, William harus menjadi pengawal pribadi. Menjaga Priscilla, agar tak jatuh kepelukan p****************g di sana.
Satu jam kemudian.
Haish!
“Mengapa kau mabuk sekali?” William bertanya kesal. Menyentuh pundak kanan dan kiri Priscilla.
Kini, wanita itu benar-benar mabuk. Kehilangan kesadaran diri. Dan, itulah alasan Priscilla mengajak William ke sana. Bagaimana pun, William adalah pria baik-baik. Seorang pria yang akan menjaga setiap wanita di sampingnya.
“Will?” Priscilla tiba-tiba bersuara. Memaksakan diri untuk mengangkat kepala yang semula bertopang pada table bar.
“Hhm?” William berdehem.
“Bagaimana pun caranya, aku harus mendapatkan Brian, Will,” wanita mabuk itu berucap. Menunjukkan cengiran tak bersalah. Lalu, menepuk lengan William. Memberi isyarat agar pria itu mengantar ia pulang.