WANNA A CRY?

1116 Words
Sudah beberapa hari ini Brian mondar-mandir dari kamar perawatan ke ruang ruang ICU. Selama itu pula Martin dan Jessy tak menampakkan batang hidung mereka. Rasa geram mulai menghinggapi diri Brian. Bagaimana mungkin orang tua kandung seperti Martin dan Jessy begitu tega? Mereka lebih mementingkan pekerjaan dibanding putri semata wayang yang sedang koma. Entahlah, Brian hanya bisa membatin dengan segenap amarah di dalam d**a. Beruntung, Mauren memiliki kekasih seperti Brian yang amat mencintainya. Tak sekali pun Brian absen dari jam besuk yang telah dijadwalkan. Namun, takdir seraya berkata lain. Mauren belum juga membuka mata walau sekali saja. Wanita berparas cantik itu seakan tak ingin memberi tanda kehadiran. Hal tersebut membuat Brian menjadi sedih. Pikirannya kerap dikelilingi rasa bersalah. Hari itu, tepatnya hari Sabtu. Usai mendapat hasil pemeriksaan terakhir yang Brian lakukan, dokter telah memastikan jika pria tampan tersebut sudah diperbolehkan untuk pulang. Jonathan dan Fransiska merasa senang. Akhirnya, anak sulung mereka kembali menginjakkan kaki di rumah. “Ayo sayang,” Fransiska mengajak dengan hati suka cita. Jonathan tampak mendorong kursi roda milik Brian. Gips yang terpasang pada tungkai Brian, masih harus ia kenakan sampai beberapa minggu ke depan. Membuat Brian harus bergantung pada kursi roda sebagai alat bantu jalan. Sebelum keluarga kecil itu meninggalkan rumah sakit, Brian meminta untuk mampir ke ruang ICU. Meski hanya melihat Mauren melalui kaca tembus pandang, setidaknya hal tersebut membuat Brian merasa cukup tenang. Benar saja, sesampainya di ruang ICU, Mauren masih terbaring di ranjang perawatan yang sama. Alat-alat penunjang kehidupan masih terpasang tanpa ada yang terlupa. Meski, mulut Mauren masih harus menggunakan alat bantu napas, namun raut wajah wanita itu tetap menampakkan mimik senyum yang khas. “Kita pulang ya, nak,” Jonathan berseru mengingatkan. Lima belas menit berdiam di sana, membuat kedua orang tua itu harus memecah lamunan putra mereka. Brian pasrah. Ia membiarkan sang ayah mendorong kursi roda. Berjalan menjauh dari ruang bertuliskan ICU. Ting! Lift berdenting. Mereka bertiga segera masuk usai para pengunjung keluar dari dalam lift. Di dalam lift, Fransiska tak henti memandang sang putra melalui pantulan cermin. Gurat wajah bersedih jelas tertampak pada wajah tampan Brian Stevan Wijaya. Fransiska berusaha menahan isak tangis. Sebenarnya, ibu muda tersebut juga enggan meninggalkan Mauren seorang diri. Selama Brian berada di luar negeri, Mauren tak henti berkunjung ke rumah keluarga Wijaya. Tak jarang Mauren membantu aktivitas berkebun Fransiska di halaman belakang rumah. Entah Fransiska yang meminta atau pun Mauren yang berinisiatif untuk datang, yang pasti keluarga Wijaya selalu menerima kehadiran Mauren di sana. Sosok Mauren sudah seperti anggota baru di dalam keluarga Wijaya. ****** Deru mesin kendaraan terdengar lirih. Mobil yang dilajukan Jonathan telah sampai pada sebuah halaman rumah yang luas. Jonathan dengan telaten membantu sang putra untuk turun dari dalam mobil. “Ma? Mama tidak ingin keluar?” Jonathan bertanya. Suara beratnya berhasil menyadarkan Fransiska dari lamunan. Ketiganya kini menuju hunian megah Wijaya. Sebuah pintu besar berwarna cokelat menjadi titik pusat. Kedatangan Brian segera disambut baik oleh seorang adik perempuan. “Lucia senang Kakak sudah pulang,” Lucia berucap. Tak lupa wanita itu memeluk tubuh sang kakak. “Bukankah kau masih harus berada di luar negeri?” Brian bertanya. Lucia Stevani Wijaya -adik Brian. Ia juga bersekolah di luar negeri. Bedanya, Lucia enggan berkuliah di Inggris seperti Brian. Sehingga mereka jarang sekali bisa bertemu dan berkumpul. Namun kecelakaan tragis, membuat wanita berparas cantik dengan tubuh jenjang itu kembali pulang untuk menjumpai sosok Brian. “Maafkan aku, aku tidak bisa menjenguk Kakak selama berada di rumah sakit. Pesawatku baru tiba tadi pagi,” Lucia berujar. Memberi jawaban. Brian spontan menoleh. Melihat ke arah Lucia yang saat itu mendorong kursi roda; menggantikan sang ayah. Sosok Lucia mengingatkan Brian pada Mauren. Bagaimana pun, dua orang wanita berbeda usia itu dulunya sangat akrab. Bahkan, keakraban mereka bak saudara kandung semestinya. Lucia dan Mauren sama-sama berhati baik, ceria, tangguh, mandiri dan pemberani. Sayangnya, salah satu dari mereka kini tak ada di samping Brian. Membuat pria itu kembali merutuki kesalahan. ****** Keduanya baru saja tiba di ruang tengah. Lucia terlihat duduk pada sebuah sofa. Menghadap ke arah layar televisi yang menyala. Keheningan sempat terjadi beberapa saat. Hingga pada akhirnya, Lucia mengeluarkan suara. Mengajukan sebuah pertanyaan mencekat, “Lucia dengar, Kakak kembali ke Indonesia bersama Kak Priscilla?” Bagaimana Lucia bisa tahu? batin Brian bertanya ragu. Ah! Iya sudah pasti karena kedua orang tua mereka yang memberitahu. Simpul Brian kemudian. Lalu, Brian mengangguk mengiyakan. Sementara itu, Lucia terlihat sedang menerawangkan pikiran. Sewaktu SMA, Lucia dan Priscilla bersekolah di sekolah yang sama. Bedanya, Priscilla berada dua tingkat di atas Lucia. Benar, Brian dan Lucia memang hanya terpaut usia dua tahun saja. Membuat Lucia berada dua tingkat di bawah Brian, Mauren dan Priscilla. Entah bagaimana ceritanya, kakak kelas Lucia yang bernama Priscilla itu bisa mengenal seorang Brian Stevan Wijaya. Padahal, mereka bersekolah di SMA yang berbeda. Brian memang satu sekolah dengan Mauren, tapi tidak dengan Priscilla. Setahu Lucia, Priscilla adalah seorang wanita yang cukup licik. Semasa masih duduk di bangku sekolah, wanita itu sering kali digosipkan merebut kekasih wanita lain di sekolah. Sehingga saat Lucia mengetahui kedekatan Priscilla dengan sang kakak, spontan hal itu membuat Lucia terkejut. Bagaimana pun, Lucia lebih mendukung hubungan Brian dengan Mauren Alisea Manopo; sosok wanita yang sedang terbaring koma. “Lucia, mengapa kau melamun?” Brian bertanya. Menatap lekat manik mata berwarna biru milik Lucia. “Sebenarnya, Lucia penasaran. Bagaimana bisa kalian bertiga kecelakaan sewaktu berada di dalam satu mobil yang sama? Dan, tak biasanya Kak Mauren gagal mengendalikan kemudi mobil,” Lucia memberanikan diri untuk bertanya. Brian mulai menceritakan semua prank konyol yang ia lakukan. Sebuah prank yang menyebabkan Mauren terbaring koma di ranjang perawatan. Lucia spontan memekik keheranan. Bagaimana bisa Brian setega itu pada Mauren? Tak tahukah ia bagaimana Mauren merindukan sosoknya? Hhh! Helaan napas terdengar berat. Lucia mengepalkan tangan karena rasa geram. Hanya saja, semua nasi sudah menjadi bubur. Tak mungkin ia menyalahkan Brian atas kecelakaan tragis yang menimpa. Bagaimana pun, Brian juga merupakan salah satu korban di sana. Menatap manik mata Brian yang berkaca, membuat Lucia tersadar akan penyesalan yang dirutuki oleh Brian. Tanpa banyak bicara, Lucia beranjak dari duduk. Mengantar Brian ke dalam kamar. Sudah pasti, pria tampan itu ingin menenangkan diri. “Beristirahatlah, Kak,” Lucia berpesan. Lalu, membalikkan badan. Seketika kepala wanita itu kembali menoleh. Menatap sosok Brian yang telah berpindah ke atas ranjang. Dilihatnya manik mata Brian yang mengedar. Memusatkan perhatian pada sebuah bingkai foto di atas nakas. Sebuah foto yang menyiratkan kenangan Brian bersama sang pujaan. “Menangislah, Kak. Lucia tahu, ini berat untuk Kakak.” Brian tercekat. Sekuat apa pun ia menahan rasa sedih, keinginan untuk menangis seakan tak terhindari. Lagi pula, laki-laki juga bisa menangis bukan? Meski begitu, masih pantaskah Brian menumpahkan semua bulir air mata? Bagaimana pun, Mauren terlanjur terbaring koma.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD