…
Efron bersama dengan Neo sekarang ada di ruang kerjanya, Efron akan membuat rencana untuk membalaskan dendam sang ayah pada orang di masa lalu mereka.
Dia akan menghancurkan gadis itu, gadis yang entah, Efron tidak tahu.
Efron akan menghancurkan semua kebahagiaan mereka.
"Untuk saat ini, belum ada rencana. Aku masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri,"
"Bukankah kau sudah paham dengan dunia ayahmu? Kenapa kau membutuhkan waktu lagi,?"
"Entahlah, aku hanya belum yakin. Kau lihat sendiri, bukan? Gadis itu terus saja mengikuti ku,"
Neo pun menghela napas, lalu mengangguk kecil.
"Efron, tidak bisakah kau berbuat baik pada gadis itu? Aku rasa dia benar-benar tulus padamu," Neo menatap Efron dengan seksama.
"Kau tahu, kau menolak usahanya sama dengan kau membuatnya kecewa, bahkan bisa saja dia merasa sakit hati. Setidaknya, hargailah usahanya. Dia sudah datang kesini sejak pagi, dia bahkan belum makan sejak dari rumahnya,"
Efron menaikkan sebelah alisnya,
"Darimana kau tahu jika dia belum makan?"
"Aku mendengar gumamannya, Efron. Kau benar-benar akan menyia-nyiakan gadis secantik Elena? Jika iya, maka biarkan aku yang mendekatinya."
"Jangan!" teriakkan refleks Efron membuat Neo terkekeh,
"Baiklah, kau temui dia. Mungkin saja ia sedang menunggumu diruang makan,"
"Ck, menyusahkan saja." gerutu Efron, namun ia tetap berjalan keluar dari ruang kerjanya.
Ia berjalan mencari Elena, lalu bertemu dengan salah satu maid dirumahnya.
"Dimana Elena?"
"Nona ada di kamar tamu, Tuan."
Efron pun mengangguk sekilas lalu ia melanjutkan langkah kakinya menuju kamar tamu.
Dia membuka pintu kamar itu perlahan, dilihatnya Elena sedang berbaring.
"Lena," panggilnya dan sontak membuat Elena terduduk.
"Kak Efron," sahutnya dengan senyum manisnya, Efron menautkan kedua alisnya saat melihat wajah pucat Elena.
Namun, Efron tetap saja gengsi untuk menanyakan hal itu.
Efron semakin mengernyitkan dahinya saat melihat Elena berjalan mendekatinya dengan sedikit ringisan di wajahnya seperti menahan rasa sakit.
"Kak Efron mau makan?"
"Apa kau belum makan?" tanya Efron dengan tatapan tajam pada Elena.
"I-itu, a-aku, aaah…" tubuh Elena terhuyung saat ia merasakan pusing di kepalanya, beruntung Efron segera menangkapnya.
"Kau tidak apa-apa, Lena?"
Bukannya menjawab, Elena justru tersenyum manis.
"Kak Efron, Lena suka sama kak Efron," lirih Elena, namun Efron tak menggubris ucapan gadis itu.
Efron membawa Elena ke tepi ranjang dan mendudukkannya disana.
"Apa kau bodoh, kenapa kau tidak makan, huh? Kau ingin mati?" ucap Efron dengan nada pelan namun menakutkan.
Elena dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Lena belum mau mati, Kak. Lena mau nikah dulu dengan Kak Efron,"
"Ck, jangan berharap terlalu jauh, kau bukan tipeku." Ketus Efron,
"Sebutkan, seperti apa tipemu, aku akan menjadi seperti yang kau mau,"
"Hentikan omong kosong ini, Lena!" desis Efron,
Elena hanya terkekeh melihat Efron memarahinya.
Efron menaikkan sebelah alisnya, menatap Elena yang sedang terkekeh kecil.
"Apa ada yang salah dengan ucapanku?"
Elena menggelengkan kepalanya,
"Kak Efron benar-benar sangat tampan dan sexy, Lena suka," ucap Elena dengan jujur dan membuat wajah Efron bersemu merah karena malu.
"Lena suka dengan kak Efron,"
"Secepat itu?"
Elena mengangguk kuat,
"Lena beneran suka sama kak Efron,"
Efron mengangguk lalu berkata…
"Nanti semua rasa suka itu akan hilang, jadi jangan terlalu berharap."
"Lena, mau jadi kekasih kak Efron,"
Efron tak menggubris ucapan Lena, dia berjalan keluar kamar itu dan pergi menuju dapur.
Dia meminta maid menata makanan yang dibawa oleh Elena di piring, lalu membawanya kembali ke kamar dimana Elena berada.
"Kau makanlah, aku tidak mau di bunuh oleh papamu,"
"Tidak jika kau tak menyuapiku," Rajuk Elena.
"Keu benar-benar menyusahkanku,"
Elena terkekeh dan dia menerima suapan pertama dari Efron.
"Aku menyukaimu, kak."
Efron benar-benar tak menggubris ucapan Elena.
Tak lama kemudian terdengar suara dering ponsel Efron, dia pun segera menjawab telepon dari Daddy-nya.
"Ada apa, dad?"
"Bisakah kau membantu dad, son?"
"Apa itu, dad?"
"Kau datanglah nanti malam, ini benar-benar mendesak."
"Baiklah, dad. Sampai jumpa nanti malam,"
Lalu sambungan mereka pun terputus.
Efron terlonjak kaget saat melihat Elena berada dekat dengan telinganya tempat ia menerima panggilan dari sang Daddy.
"Sedang apa kau, hah?" bentak Efron membuat Elena terpekik.
Elena benar-benar merasa ketakutan melihat wajah menyeramkan Efron,
"Kau benar-benar tidak punya sopan santun, kau menguping pembicaraan orang lain. Sebaiknya kau pergi dari rumahku,", ucap Efron dengan nada dingin.
"M-maafkan aku," lirih Elena membuat Efron merasa sedikit tercubit saat melihat wajah Elena yang ketakutan dan merasa bersalah padanya.
"Kau pergilah dari rumahku, kita hanya orang asing. Kau akan menyesal jika mengenalku lebih jauh,"
",Tidak, Elena tidak akan menyesal,"
"Sudahlah, aku harus pergi. Aku tidak membutuhkan ini, kita tidak saling mengenal dan dekat, tolong pergilah." Setelah mengatakan itu, Efron pun meninggalkan Elena seorang diri.
Elena merasakan sesak saat mendengar ucapan Efron, memang benar adanya jika mereka adalah orang asing.
Tapi, tekat Elena benar-benar ingin menjadikan Efron pasangannya.
Elena menyukai Efron, Elena merasa sakit hati namun ia tidak menangis.
Dia keluar dari rumah Efron tanpa permisi, toh Efron sudah mengusirnya, bukan?
Elena berjalan gontai, dia benar-benar lupa jika rumah Efron sangat jauh dari jalan raya.
Terpaksa Elena berjalan menuju jalan raya, dia akan mencari taksi disana.
Langkah Elena terhenti saat melihat sebuah mobil berhenti di hadapannya, lalu orang di dalam menurunkan kaca mobilnya.
"Elena," panggilan itu membuat Elena menoleh.
"Kak Neo," Elena tersenyum lebar saat melihat Neo di dalam mobil.
"Ayo sini, naik…"
Elena pun mengangguk dan dengan cepat masuk ke dalam mobil Neo,
"Kak, punya air putih? Lena haus,"
"Punya, kau ambil saja di jok belakang,"
Elena pun mengangguk dan mengambil botol mineral di kursi belakang.
"Terimakasih, kak." ucap Elena setelah meneguk setengah botol air mineral.
Neo pun mengangguk, dia hanya terdiam dan berpikir, bagaimana mungkin Efron membiarkan gadis secantik Elena berjalan seperti ini.
Neo melirik Elena yang menyandarkan kepalanya menghadap ke luar jendela.
"Apa Lena begitu merepotkan, kak?"
Neo sedikit terkejut mendengar pertanyaan Elena.
"Tidak, kamu tidak merepotkan. Memangnya kenapa, hm?"
"Hm, tidak apa-apa. Sepertinya, mama dan papaku benar, kalau aku memang harus berada di dalam rumah saja." gumam Elena namun masih jelas terdengar di telinga Neo.
"Jangan pikirkan ucapan Efron, dia memang seperti itu."
"Hm, tapi, kak.. aku benar-benar menyukai kak Efron," lirih Elena.
"Elena, Efron itu laki-laki yang sulit ditaklukan, jadi jangan berharap lebih. Maaf, bukannya aku membuat harapanmu hancur, tapi aku memberitahumu sebelum kau benar-benar hancur, Lena."
"Iya, kak. Lena mengerti,"
"Kau gadis yang cantik, Elena…"
"Selalu, kak.." jawaban Elena membuat mereka berdua tertawa.
Bersambung...