Seperti biasa Jenny selalu pulang larut malam setelah setengah hari mengurusi tesis lalu disambung dengan rapat anggota di unit kegiatan mahasiswa karate. Kesibukannya sehari-hari sudah membuat tubuhnya kebal dengan udara malam. Dia sudah tidak lagi masuk angin seperti awal-awal dia mulai kuliah S2. Beruntung apartemen tempat tinggalnya hanya berjarak 3 menit dengan jalan kaki dari halte bus, karena itulah pertimbangan pertamanya saat memilih tinggal di daerah ini.
“malam Kak Jenny” sambut salah satu penjaga saat dia tiba di lobby. Dia membukakan pintu kaca yang bergagang panjang setelah melihat Jenny mendekati lobby.
“malam juga, makasih ya”
“sama sama Kak. Oiya ini surat-surat hari ini”
Jenny menerima beberapa kiriman pos. Dia memeriksa sesaat. Tidak ada yang berbeda, semuanya hanyalah surat tagihan dari bank. “oke, trims ya”
“sama-sama”
Jenny berjalan mendekati lift sambil memasukkan surat-surat tagihan ke dalam tas jinjingnya. Tak ada seorang pun yang ikut masuk. Dia baru ingat kalau sedang beredar gosip tentang adanya hantu seorang wanita berambut panjang yang terlihat berkelebat di depan lift saat malam tiba.
“sial semua gara-gara Ce Fanny aku jadi parno kayak gini” gerutu Jenny.
Meskipun dia merupakan atlet bela diri, tapi dia paling takut dengan hantu. Pintu lift terbuka dan dia berdoa sebelum memasuki lift. Dia juga mengeluarkan payung lipat. Bukan untuk melindungi dirinya dari hujan, melainkan untuk menghalau hantu. Dia memeriksa suasana dalam lift. Kakinya serasa berat sekali untuk melangkah. Tangannya cepat-cepat menekan tombol lantai 15. Pintu mulai menutup secara perlahan malah terlalu pelan. Dia berdiri di memojok di sebelah kanan pintu.
Tiba-tiba pintu terbuka kembali. Jenny tersentak mundur lalu mengacungkan payungnya. Tidak ada seorangpun yang masuk. Bulu kuduknya langsung berdiri, dia ingin berteriak tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Dia menekan tombol “close” lagi. Kali ini ada tangan yang menahan pintu lift. Jenny mengayunkan payung ke arah pintu sambil memejamkan mata karena takut.
“hey..hey ..hey wait a minute, what are you doing young lady!”
Jenny seketika menghentikan gerakannya dan mulai tersadar kalau itu bukan hantu.
Pintu lift tertutup, Raymond lantas menekan tombol angka 15 dan liftnya mulai bergerak. “kamu tidak apa-apa?” tanya Raymond setelah melihat Jenny meringkuk di pojokan.
“a...iya huuff...” Jenny menyeka keringat di keningnya.
“kelihatannya kamu sakit? Mukamu pucat”
Jenny mendongak lalu bediri. Jantungnya sudah berdetak normal kembali. “apa kamu tidak mendengar gosip akhir-akhir ini?” tanya Jenny.
“gosip apa?” jawab Raymond sambil mengerutkan keningnya. Alisnya yang tebal dan hitam pekat hampir menyambung.
“katanya setiap malam ada hantu wanita berambut panjang yang bergentayangan”
“hantu wanita? Kata siapa?”
“iya, kata Ce Fanny, penghuni apartemen 1510”
“Fanny?” Raymond berusaha mengingat-ingat rupa seseorang yang dimaksud Jenny. Seketika otak kirinya bekerja mencari-cari informasi yang dia butuhkan. “aaa..Fanny yang gemuk itu?!” ulang Raymond.
Jenny kembali tersentak kaget mendegar suara Raymond yang membesar. “e..iya”
“saya sudah ingat. Gosh... bahkan dia bilang kalo saya adalah hantu? Hahhahaha”
“maksudnya?” tanya Jenny kebingungan.
“saya ingat pernah bertemu dengan Fanny waktu pulang kerja. Saat itu diluar sedang hujan dan saya memakai coat panjang serta handuk untuk menutupi kepalaku. Saya berlari menuju lift yang hendak menutup. Ada Fanny di dalamnya, tapi tampaknya dia kaget melihatku dalam kegelapan, jadi dia menekan tombol Close cepat-cepat” cerita Raymond.
“jadi? Ya ampuuun... Ce Fanny salah lihat?” mereka berdua tertawa karena kesalah pahaman itu.
“saya nggak mengira kalau dia jadi ketakutan hahaha” kelakar Raymond.
Ting..Pintu lift terbuka. Mereka berdua siap-siap keluar.
“eh..” Jenny menahan lengan Raymond. “ini masih lantai 13...”
Mereka berdua saling bertatapan. Pintu terbuka tapi tidak ada seorangpun di depan lift. Raymond buru-buru menekan tombol close.
“Sh*t, apa itu tadi?” ujar Raymond. Mereka berdua kembali terdiam. Suasana kembali mencekam. Lift kembali bergerak. Mungkin cerita Ce Fanny benar adanya.
Lift berhenti sesuai dengan lantai yang mereka tuju. Mereka keluar dengan muka tegang. Berjalan beriringan dalam keheningan malam. Mereka sudah sampai di depan pintu masing-masing.
“kamu penghuni apartemen ini?”
“iya”
“ooow” dia baru sadar kalau Jenny adalah penghuni apartemen yang ia salah masuki. “saya minta maaf karena kejadian tempo hari ya, itu karena saya sedang mabuk”
“iya tidak apa-apa” jawab Jenny
“tapi, kamu tidak apa-apa?” tanya Raymond berusaha tegar, tampak dari suaranya yang sengaja ia buat setegar mungkin. Kejadian mistis tadi juga cukup membuatnya tidak nyaman.
“ookay.. nggak apa-apa” jawab Jenny galau. “good night” pamit Jenny. Dia masuk terlebih dahulu ke apartemen.
“oke” timpal Raymond. Dia masih celingukan melihat ke lorong. Angin dingin berhembus tak sengaja menyentuh belakang lehernya. Dia mempercepat gerakan lalu masuk dan menutup pintunya.
---------------------------
Tiga jam yang lalu taksi dari bandara Changi dengan lancar mengantarkan Clara menuju apartemennya. Dia menghempaskan tubuhnya di ranjang berusaha meluruskan otot punggung dan kakinya yang kaku karena terlalu lama mendekam di bangku pesawat. Jam di tangannya menunjukkan pukul 5 pagi. Meskipun badannya yang lelah tapi matanya mengantuk. Jadi dia memutuskan untuk mandi saja, sambil berendam di air hangat.
Segera setelah bathtub penuh dengan air hangat, dia menyalakan lilin aromaterapi dengan wangi rosemary yang berkhasiat untuk menyegarkan badan sekaligus pikiran. Dia mendapat terapi yang menyenangkan ini karena Raymond. Dulu sebelum pindah ke Restoran cabang Singapore dia sering sekali stress menghadapi pekerjaan yang padat. Tekanan dari atasan yang perfeksionis hampir membuatnya mati karena overdosis obat penenang. Oleh karena itu Om Vino menyuruhnya pindah ke cabang Singapore dengan jadwal yang bisa diatur oleh Om Vino.
Lalu bertemulah dia dengan Raymond yang sejak pertama kali bertemu sudah memberikan kesan menyenangkan di matanya. Clara baru ingat kalau hari ini adalah anniversary pertama pertunangannya dengan Raymond. Setelah badannya sudah terasa lebih enteng dia menuntaskan mandinya dan bersiap-siap untuk pergi ke apartemen Raymond untuk memberi kejutan.
Sebelum itu, dia mampir ke minimart untuk membeli kebutuhan rumah, tak lupa juga dia membawakan roti serta pelengkapnya yang akan ia nikmati bersama dengan Raymond. Dia memasuki lobi sambil menenteng kantong plastik di kedua tangannya. Setelah menyapa penjaga apartemen yang sudah sangat mengenalnya, Clara menaiki lift menuju ruangan Raymond.
Tangannya yang langsing dan lentik menekan tombol kode. Pintu terbuka, dan diapun masuk bersama angin pagi yang sejuk dan menyegarkan. Dengan sedikit berbungkuk dia masuk dan meletakkan kantong belanjaanya di dapur. Dia lalu berpindah menuju kamar Raymond. Tampak jelas kekasihnya masih belum bangun. Dia memeriksa ke segala penjuru ruangan yang lain. Tidak ada yang berubah dari ruang tamunya, karena memang Raymond yang rapi tidak akan suka apabila ada barangnya yang berantakan. Di ujung matanya terlihat ada tumpukan selimut putih di sofa. Selimut yang lentur itu mengikuti kontur tubuh orang yang ditutupinya dari ujung ke ujung.
Raymond ada di kamar lalu siapa yang tidur di sofa ini?. Clara menyodok tubuh itu. Dia bergerak memberikan respon, kemudian berhenti. Kali ini Clara menarik selimutnya dengan cepat.
“Jenny?!”
Pemilik tubuh yang ada di sofa itu mendadak bangun karena kaget mendengar suara Clara.
“Clara?!” jawab Jenny yang sama kagetnya dengan Clara.
“kamu ngapain ada sini?” Clara mundur selangkah, secara impulsif kakinya langsung menuju kamar Raymond.
“Ray.. bangun.. Ray...” Clara menggoyangkan tubuh Raymond.
Setengah sadar Raymond bangun karena hentakan di badannya. Matanya yang bengkak terbuka lebar tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“baaae.. kamu sudah pulaang?” melihat Clara ada di hadapannya membuat tangannya otomatis memeluk Clara.
“lepasin!”
“kenapa sayang?” wajah Raymond menunjukkan kebingungan.
“kenapa ada cewek disini?!” tanya Clara sambil menunjuk keluar kamar.
Dari balik punggung Clara, Raymond melihat seorang wanita sedang berdiri di ambang pintu. Wajahnya juga menunjukkan ekspresi shock lebih daripada Raymond.
“dia...Jenny..” jawab Raymond terbata-bata.
“lalu kenapa ada di tempatmu?!”
“Clar, kamu ada hubungan apa sama Ray?” tanya Jenny hati-hati.
“dia ini tunangan aku, calon suami aku Jen”
“a..Clar sorry aku nggak tau...tapi..”
“sayang..kamu mau dengerin penjelasan aku?” Raymond berdiri disamping Clara menarik tangannya dan menghadapkan wajahnya menuju dirinya.
“nggak!” Clara melepaskan diri, lalu berhambur keluar kamar. Dengan sengaja dia menyerempet tubuh Jenny sehingga tubuh Jenny sedikit terhuyung ke belakang.
“Clara..!” teriak Jenny.
“sebaiknya kamu pulang saja” cegah Raymond. Lalu dia pergi menyusul Clara yang terdengar sudah keluar dari apartemen.
“o..oke..” jawab Jenny.
Dia berjalan menuju ruang tamu. Sebelum pergi dia sempat merapikan selimut yang dia pakai semalaman. Dia juga melihat kantong plastik belanjaan yang ada di meja dapur. Kenyataan bahwa ternyata Raymond sudah bertunangan cukup membuatnya shock, ditambah lagi ternyata kekasih dari pria pujaannya adalah sahabatnya sendiri. Dia mengutuk dirinya sendiri. Kutukan sebagai perusak hubungan pasangan kekasih yang diterima sejak sekolah menengah akhir masih saja melekat dirinya. Entah bagaimana caranya menghilangkannya. Meskipun itu hanyalah sebuah kesalahpahaman saja.
Dengan langkah berat dan penuh penyesalan dia berpindah menuju apartemennya sendiri. Pagi yang seharusnya cerah dan membahagiakan berubah menjadi menjengkelkan, rasanya seperti melihat kaleng khong ghuan dan mengharap ada biskuit kesukaan tapi setelah dibuka ternyata hanya setumpuk rengginang yang berwarna kuning keemasan. Dan itu selalu terjadi saat Jenny berkunjung ke salah satu rumah saudaraya yang memang terkenal pelit.
Semua berawal gara-gara cerita hantu dari Ce Fanny. Kalau saja dia tidak menyebarkan gosip itu, tidak akan seperti ini kejadiannya. Rasa takut terhadap adanya hantu di komplek apartemen ini mendorong sisi feminimnya untuk mengetuk pintu apartemen Raymond semalam. Tidak ada yang terjadi diantara mereka. Raymond langsung tidur di kamarnya setelah mengobrol sebentar tentang diri mereka masing-masing. Sedangkan Jenny memilih untuk tidur di sofa saja.
Dengan langkah gontai Jenny berjalan kembali ke apartemennya.