“Sazana, tunggu!” titah seorang lelaki yang sudah menunggunya sejak pagi, tetapi Sazana justru baru muncul dan dengan tenang datang ke kantor bersama Jovan. Padahal sebelumnya, ia patuh saja ketika Ramandaka memintanya untuk datang dan pulang kantor bersama dengannya. Sazana menghentikan langkah. Ia tak mungkin terus-menerus menghindari lelaki itu. Ia pun berat melakukannya, tetapi apa yang ayahnya katakan tak mungkin ia tentang begitu saja. Sazana tak menoleh, ia biarkan suara langkah kaki itu terus mendekat padanya. Siap atau tidak, ia harus hadapi kekecewaan Ramandaka atas keputusannya yang sangat mendadak ini. “Dari mana aja kamu? Saya pagi-pagi sekali ke rumah kamu dan ayah kamu bilang kamu gak di rumah. Lalu kamu datang ke kantor bareng laki-laki itu. Apa kamu tahu, saya gak suka

