Malam itu, langit di atas kantor kepolisian tampak kelam, awan menggantung tebal, dan udara lembap membawa aroma hujan yang belum jadi turun. Di dalam ruangan divisi khusus, suasana begitu berbeda. Cahaya lampu neon berkelip samar, aroma mie instan yang baru diseduh memenuhi udara, dan tawa kecil sesekali terdengar di antara kesibukan mereka yang tak pernah selesai. Nana, dengan seragamnya yang sudah sedikit kusut, duduk di meja panjang bersama rekan-rekannya — Xhavier, Pak Rio, Ree dan Zia. Mereka baru saja menyelesaikan berkas laporan mengenai penyerangan di panti asuhan Star, dan kini menikmati makan malam sederhana: mie instan dengan telur setengah matang dan sambal sachet yang dibagi lima. “Entah kenapa, mie instan di kantor selalu terasa lebih nikmat dari di rumah,” gumam Zia sambi

