Xhavier tiba di area markasnya. Markas itu terletak di pinggiran kota, tersembunyi di antara gedung tua yang seolah sudah lama tak berpenghuni. Dindingnya tebal, bercat abu pudar, dan setiap jendelanya tertutup rapat oleh tirai gelap. Di dalam, suasana tegang menyelimuti udara. Lampu redup menggantung di tengah ruangan, memantulkan bayangan wajah enam orang yang tengah menunggu seseorang datang yaitu Xhavier sebagai ketua tim.
Xhavier baru saja tiba. Langkah kakinya berat, tapi mantap. Suara pintu besi berderit saat ia membukanya membuat keenam orang di dalam ruangan menoleh bersamaan. Mereka — Tessa, Zain, Lilia, Jack, Andy, dan Ed — sudah duduk melingkar di meja kayu panjang, menatap pemimpin mereka dengan ekspresi serius.
Ed yang paling cepat bicara, suaranya terdengar ketus dan langsung menusuk.
“Ada apa, Xhavier? Kata Tessa, terjadi perubahan pada rencana yang kita susun kemarin?”
Nada Ed menunjukkan ketidaksabaran. Ia adalah tipe eksekutor yang paling impulsif, cepat bertindak, sulit menahan diri.
Xhavier menghela napas panjang sebelum menjawab. Ia menepuk debu di jaket hitamnya, lalu melangkah mendekat ke meja. Suara sepatunya bergema di lantai beton yang dingin. Ia lalu duduk, menyandarkan tubuh ke kursi, dan memijat pelipisnya. “Ya, ada perubahan,” ujarnya datar tapi tegas.
“Polisi sudah mencurigai bahwa Tuan Jhon akan menjadi target kita berikutnya. Mereka menempatkan seseorang untuk mengawasinya.” Lanjut Xhavier menjelaskan.
Seketika, ruangan itu senyap. Hanya suara dengung lampu dan hembusan kipas tua yang terdengar.
Jack yang sedari tadi duduk dengan tangan bersilang langsung mengangkat alis.
“Sial… itu berarti mereka sudah selangkah lebih dekat pada pola kita,” gumamnya.
Zain menatap Xhavier tajam.
“Siapa yang mengawasi? Apakah mereka menempatkan satu tim penuh?”
Xhavier menatap lurus pada mereka semua, lalu menjawab dengan pelan.
“Hanya satu orang. Tapi sayangnya, orang itu adalah Nana.”
"Ha!... Gadis itu lagi," Seru Zain.
Tessa yang sejak awal tampak tenang kini mendengus pelan, pandangannya langsung beralih ke wajah Xhavier.
“Nana? Kau serius?”
Ada nada tertentu di suaranya, campuran antara terkejut dan curiga. Xhavier mengangguk pelan.
“Ya. Dia meminta surat perintah resmi untuk melindungi Tuan Jhon. Dan dia mendapatkannya.”
"Dari mana Nana tahu kalau kita akan menargetkan Tuan Jhon?" tanya Lilia.
"Aku sendiri tidak tahu dari mana dia tahu, yang jelas kita tidak bisa meremehkan Nana. insting gadis itu sangat tajam dan akurat." jawab Xahvier.
Semua orang langsung saling berpandangan. Ed menepuk meja keras.
“Gawat! Kalau Nana sudah turun tangan, kita tak bisa bergerak bebas. Perempuan itu terlalu cerdas dan terlalu cepat membaca pola! Aku masih ingat misi kita 2 bulan lalu, aku nyaris saja ketahuan dan tertanggap olehnya waktu itu." Ucap Ed
Andy yang biasanya paling kalem ikut bersuara.“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita akan membatalkan Tuan Jhon dari daftar target?”
Pertanyaan itu mengambang di udara. Semua mata tertuju pada Xhavier, menunggu keputusan. Lelaki itu terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara rendah tapi mantap.
“Tidak. Kita tidak membatalkan. Kita hanya menunda.”
Zain mengetukkan jarinya di meja.“Menunda? Sampai kapan?”
“Sampai pengawasan Nana berakhir. Dia hanya diberi waktu seminggu. Setelah itu, kita bergerak seperti biasa.”
Seketika suasana mulai sedikit tenang, tapi tidak bagi Tessa. Ia menatap Xhavier lama, seperti mencoba membaca sesuatu di balik kata-kata pria itu.
“Masalah keputusan ini…” kata Tessa pelan, “apa kau sudah memberitahu Tuan Dominic?”
Pertanyaan itu membuat udara di ruangan terasa lebih berat. Nama Tuan Dominic bukan nama yang bisa disebut sembarangan. Ia pendiri organisasi mereka, sosok yang membentuk kelompok mereka, kelompok pembunuh rahasia yang hanya mengeksekusi para pejabat busuk, pengkhianat negara, dan koruptor berdasi yang lolos dari hukum.
Mereka bukan kriminal sembarangan, tapi juga bukan pahlawan. Mereka berdiri di antara dua dunia — keadilan dan dosa dalam waktu bersamaan.
Xhavier menggeleng pelan. “Aku belum memberitahunya. Tapi aku akan melapor sebentar lagi.”
Lilia yang sejak tadi diam langsung bereaksi. “Tunggu. Kalau begitu, biar aku yang menghubungi Tuan Dominic.”
Sebelum ada yang sempat menolak, Lilia sudah mengeluarkan ponselnya. Suara dering sambungan terdengar jelas di ruangan itu. Semua diam, menunggu.
Tak lama, suara berat dan dingin terdengar dari seberang. “Lilia.”
Lilia menelan ludah sebelum berbicara. “Tuan Dominic… kami mendapat kabar dari Xhavier. Polisi mulai mencurigai target kita berikutnya. Mereka menempatkan pengawasan terhadap Tuan Jhon. Xhavier memutuskan untuk menunda eksekusi." jelas Lilia
Hening sesaat. Lalu suara di seberang telepon terdengar lagi, kali ini lebih pelan tapi menusuk. "Apakah Xhavier yang memutuskan itu sendiri?”
Lilia melirik Xhavier. Lelaki itu mengangguk singkat, menyuruhnya menjawab. “Ya, Tuan.”
Suara berat itu kemudian tertawa kecil tapi bukan tawa bahagia. Lebih seperti ejekan dingin.
“Hm… menarik. Xhavier, kau di sana?”
Xhavier mengambil ponsel dari tangan Lilia dan menempelkannya di telinga.
“Aku di sini, Tuan.”
“Kau yakin ini keputusan yang tepat? Menunda berarti memberi waktu pada target untuk melindungi diri. Kau tahu, waktu adalah musuh kita, bisa saja saat kita menunggu waktu itu akan digunakan target untuk kabur ke luar Negeri, jika itu terjadi kita akan kehilangan kesempatan.”
“Aku tahu, Tuan. Tapi kali ini pengawasan dilakukan oleh polisi yang… cukup berbahaya.”
“Siapa?” Tanya Tuan Dominic
“Nana, Tuan.”
Hening lagi. Lalu, suara napas berat terdengar dari seberang.
"Nana, gadis itu lagi.” suara Tuan Dominic terdengar seperti menyebut nama hantu lama. “Dia polisi yang menembak dua anggota kita tahun lalu di pelabuhan, dan yang nyaris menangkap Ed bukan?”
“Benar, Tuan.” jawab Xhavier.
"Tapi aku ingin kau tetap menjalankan misi, Xhavier. Aku tidak ingin kau menunda yang memberi peluang pada Jhon untuk kabur." ucap Tuan Dominic.
"Tapi kita tidak bisa melakukan dengan cara seperti biasanya Tuan." Balas Xhavier.
"Jika memang tidak bisa dengan cara seperti biasa maka lakukan dengan cara lain." Sambar Tuan Dominic cepat.
"Ada cara lain, yaitu menembah Tuan Jhon dari jarak jauh, hanya saja masalahnya senjatanya cukup mahal." Tessa ikut bersuara.
"Masalah dana tidak masalah, tapi pengeksekusian harus tetap berjalan sesuai rencana." ucap Tuan Dominic "Besok aku akan mengirimkan senjatanya." lanjtnya sebelum panggilan telponpu berakhir.
Xhavier dan anggotanya mulai mendiskusikan lagi tentang rencana mereka nantinya.
Di tengah diskusi, Tessa terus menatap Xhavier lalu memberanikan diri untuk berbicara pada Xhavier "Ingat Xhavier, kelompok kita memiliki selogan dimana cinta adalah penghalang, kita dilarang memiliki perasaan pada lawan jenis sampai tugas dan kewajiban kita selsai."
Xhavier menyerengit mendengar ucapan Tessa "Aku tahu itu, Tessa. Kau tak perlu memperingatiku." jawab Xhavier membuat Tessa berdecit sebal.
"Aku tau kau tau selogan kelompok kita, aku hanya mengingatkanmu untuk berhati-hati dalam tugas karena melihatmu menatap Nana, seolah tatapanmu adalah tatapan penuh cinta dan kekaguman pada Nana." ucap Tessa lagi.
"Jangan bicara omong kosong Tessa, aku tidak akan perna jatuh cinta apa lagi itu pada Nana." balas Xhavier membuat Tessa bernafas lega.
Bersambung!..