~UPIK~ Beberapa hari setelah pulang dari Jakarta aku menghubungi Tita. Sudah bisa kutebak dia marah besar bahkan mengancam yang tidak-tidak saat tahu kalau aku ke Jakarta beberapa waktu lalu. Syukurnya setelah menyampaikan kalau aku ada urusan mendadak dia segera mengerti bahkan menyampaikan simpatinya soal musibah yang menimpa Tante Syfo. Tak ketinggalan aku juga menceritakan soal bertemu dengan anggota keluarga dekat Daniyal di rumah sakit. “Jadi kapan lo nikah sama Dani?” Aku memutar mata ke arah Tita. “Nggak ada pertanyaan lain, apa? Bosen, nggak tiap telpon, video call pun yang ditanya itu mulu,” protesku. “Lha? Malah gue pikir dia nyusul lo ke Padang waktu itu buat ngelamar lo.” “Sembarangan! Masa iya aku nggak ngabari kamu momen sepenting itu.” “Ya, juga, sih. Tapi bisa aja l

