Duda Beranak Lima

1004 Words
Sejak kejadian tempo hari, kedekatan Athena dan Hades merenggang. Athena tak segencar saat pertama mengenal Hades. Begitu pun dengan Hades yang lebih banyak menghabiskan waktu di ruangannya. Bahkan saat berpapasan pun keduanya terlihat begitu kikuk, seolah ada tembok yang membatasi. Keduanya tampak begitu canggung. Athena duduk di sekitar rooftop, memandangi padatnya. Beberapa helai rambutnya beterbangan ditiup angin. Sesekali Athena memejamkan mata, entah untuk menikmati semilir angin atau hanya sekadar menikmati luka hatinya karena pertengkaran kedua orang tuanya. "Na, akhir-akhir ini lo lebih banyak diem," ujar Irish memecah keheningan di antara mereka. Athena bergeming, senyum terukir di wajahnya. "Rish, lo tahu gak hubungan antara jodoh dan kematian?" Irish diam, ragu dia menatap sahabatnya. "Gue gak tahu, Na." Hening beberapa saat. "Jodoh sama kematian itu sama-sama gak bisa ditebak kapan datangnya. Semuanya sudah ditetapkan Tuhan. Jodoh dan kematian akan datang sesuai dengan waktunya. Tak bisa dicegah dan dihindari." Athena menghela napas. "Seperti jodoh antara bokap dan nyokap gue yang gak lama lagi." "Lo gak boleh gitu, Na." Irish menimpali ucapan Athena. "Bokap resmi melayangkan gugatan cerai sama nyokap. Gue gak bisa nerima ini semua, Rish." Suara Athena tiba-tiba tercekat. Dia menunduk, menahan agar air matanya tak mengalir di antara pipinya. "Na ...." "Gue rapuh jika mengingat soal keluarga, Rish." Athena mulai terisak. Secepat mungkin dia mengusap lelehan air matanya. "Tapi, Tuhan memang adil, gue bisa ngerasa bernyawa saat di kampus. Terlebih semenjak kehadiran Pak Hades. Lo bahkan tahu, awalnya gue iseng tapi ... sialan, gue bener-bener kena jebakan batman." Irish menelan saliva kepayahan. Beringsut mendekati Athena dan memeluknya dari samping, sudut mata Irish melihat sepasang pantofel hitam. Matanya meneruskan ke atas hingga matanya membola, hampir saja Irish melontarkan sepatah kata jika bukan karena aba-aba sosok itu untuk tetap diam. Irish melepaskan pelukannya. Athena beranjak, berjalan lebih mendekati tepian gedung. "Lo cinta Pak Hades?" Irish berkata seraya melirik sosok di sampingnya. Irish berdiri dan berpura-pura membetulkan pakaiannya, kemudian mengikuti arah telunjuk yang mengarah ke pintu keluar. Irish mengangguk mengerti. Perlahan dia meninggalkan Athena yang masih dalam lamunannya. "Gue ... gue gak bisa jawab sekarang, Rish." "Kenapa gak bisa?" Suara bariton itu sukses membuat Athena terlonjak kaget. Jantungnya berdetak lebih cepat, bahkan berlipat dari biasanya. Aliran darahnya memanas, lututnya lemas. Ingin rasanya dia terjun bebas ke bawah dan menghindari orang di belakangnya. Terdengar suara langkah mendekat ke arahnya. Athena memejamkan mata, merapal doa agar orang di belakangnya menghilang seketika. Hatinya mengutuk Irish yang dengan sialnya pergi tanpa pamit. Awas lo, Rish. Umpat Athena dalam hati. Sudut mata Athena melihat sepasang telapak tangan memegang tepian gedung. Gurat tegas wajahnya begitu jelas, sebagian wajah dipenuhi berewok tipis. Athena ingin sekali mengelus wajahnya. Athena ingin menyentuh Hades, sangat ingin. "Saya baru tahu pemandangan dari sini begitu bagus. Lumayan terlindung dari sinar matahari." Hades melihat ke bawah. "Namun, gak cukup bagus jika dijadikan tempat bunuh diri. Terlalu dekat, gak akan langsung mati. Yang ada kamu akan mendapatkan dua rasa sakit. Dari hati dan luka di tubuh kamu." "Siapa yang mau bunuh diri, Om?" sanggah Athena. Dia berpaling dan melihat ke sembarang arah. "Entahlah." Hening beberapa saat. Athena bingung harus memulai dari mana. Di situasi seperti ini sangat sulit untuk mengeluarkan gombalan-gombalan seperti biasanya. Terlebih mereka sudah beberapa hari menjaga jarak. "Kenapa Om bisa tahu aku di sini, jangan-jangan nguntit aku ya." Athena mulai mengeluarkan tuduhannya. Dia melirik sekilas Hades, lelaki itu tampak tersenyum. Manis sekali, hati Athena semakin meleleh. "Tadi saya tanya ke temanmu, mereka bilang kalau Athena gak berkeliaran di kampus di jam belajar seperti ini ya berarti ada di rooftop." Kebohongan pertama. Demi apa pun, Hades sudah diam di balik pintu dan mendengar segala kesedihan hati Athena. Entah mengapa, saat melihat Athena memasang wajah sendu, hati Hades meluluh. Dia mengikuti langkah Athena yang disusul Irish ke rooftop. Dan semuanya terdengar secara gamblang. Athena mengangguk, lalu dia kembali memandang gedung-gedung pencakar langit. "Saya gak tahu kenapa kamu selalu mengejar saya tiap hari." Hades berujar lagi, kali ini melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi bertengger di hidung bangirnya. "Mungkin takdir, Om." Athena menjawab sembarang. "Ya, takdir. Selalu jadi alibi terkuat." Hades tersenyum skeptis. "Saya yakin kamu akan menjauh dan berhenti mengejar saat tahu siapa saya sebenarnya." "Kenapa memangnya? Om spiderman? Kalau iya aku rela jadi Marry Janenya." Hades menggeleng, tersenyum dan menatap Athena. Hatinya berdesir. Sudah beberapa hari ini dia begitu mendambakan sedekat ini dengan Athena. "Kamu gak akan rela." Hades menggantung ucapannya. Athena mengerutkan kening. "Sok tahu sih, Om." Athena mencibir, baru kali ini dia ngobrol begitu lama dengan Hades. "Kamu percaya jika saya mengatakan, kalau saya ini duda beranak satu?" Hades berkata dengan begitu santainya. Sedangkan Athena tampak kaget seraya membekap mulutnya. Hades terkekeh. Dia melihat reaksi Athena yang bahkan sudah tertebak sebelumnya. Gadis itu bergeser, mendekat selangkah ke samping Hades. "Aku memang gak percaya, Om terlalu macho jadi seorang duda." Hades terkekeh. Inilah sisi unik Athena yang Hades sukai. Jarang ada wanita yang mau menggombali lelaki. "Nyesel pasti udah ngejar-ngejar duda." "Enggak, aku justru semakin tertantang, Om." Athena memberanikan diri mengelus pipi Hades yang dipenuhi berewok tipis. "Duda atau perjaka, aku tetap suka kamu." Hades memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut Athena. Lima tahun, dan Hades baru merasakan lagi getar-getar di hati hanya karena sebuah sentuhan. Sesaat kemudian, Hades menghindar. Athena tersentak. "Kenapa?" "Ini salah, saya seharusnya tak membuka pintu terlalu jauh." Athena semakin tak mengerti. "Maksudnya?" "Kamu gak boleh menyukai saya, mada depanmu jauh lebih cerah." Hades enggan menatap Athena. Tujuannya adalah mengetahui kabar gadis ini, dan dia tampak baik-baik saja. "Saya permisi." Hades pamit dan perlahan meninggalkan Athena. "Kamu seperti main layang-layang. Menerbangkan setinggi awan. Lalu memutuskan talinya." Hades berhenti. Ucapan Athena begitu menusuk. "Kamu kesepian, akui saja. Kamu butuh cinta, akui saja." Athena kembali melanjutkan ucapannya. Hades ingin menyangkal, namun semua yang diucapkan Athena benar adanya. Hades masih bergeming, sebelah tangannya merogoh saku celana bahannya. Samar-samar Hades mendengar Athena mendekat, lalu berhenti tepat di belakang Hades. Sebuah tangan melingkar di perut, punggungnya merasakan embusan napas Athena. Seluruh syaraf Hades seketika menegang seolah tak sinkron. "Aku suka Om. Sejak pertama bertemu. Persetan jika Om duda beranak lima sekalipun."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD