"Bangun, Almond. Bangun. Kau akan melewatkan banyak hal." Suara itu begitu lembut. Lelaki itu seperti sedang menyanyikan lagu pengantar tidur. Bukannya bangun, ia justru ingin semakin lelap. Suara itu berulang, berirama, dan dalam. Ia bisa merasakan tepukan lembut tangan Bobi pada pundaknya. Saat membuka mata, ia bukan sedang berada di Norwegia bersama kekasihnya. Tidak ada aurora. Semua itu hanya bunga tidur yang terasa begitu nyata sebab tidak ada satu bagian pun yang terselip atau terpotong. Gadis itu mengerjap. Matanya menyapu ruangan itu. Ranjang bersprai putih. Tiang infus. Sofa di samping jendela. Aroma desinfektan. Dan poster-poster tentang anjuran menjaga kesehatan lingkungan yang ditempel di dinding keramik hijau toska. Dan telapak kakinya yang dibalut perban. Ia tahu, ia seda

