Danendra membuka mata. Sesuatu yang hangat terjepit dalam genggamannya. Pelahan-lahan, jemarinya terbuka, memperlihatkan segumpal daging dalam bentuk manusia terkecil yang belum sempurna. Ia memandangnya lamat-lamat. Telapak tangan ia goyangkan pelan.Dengan jari telunjuk kiri, ia memencet-mencet benda itu. Merasakan sesuatu yang tidak beres, ia kemudian memindahkannya di atas kain putih. Namun makhluk kecil yang hangat tubuhnya berangsur-angsur hilang itu tidak memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Tidak ada pergerakan. "Mati," bisik Danendra lirih. Kendati suara itu hanya untuk dirinya sendiri. Toh, Maderat bisa membaca gerak bibirnya. Kepada Danendra, dengan mimik gusar yang sukar disembunyikan, ia berujar: “Mati lagi?” Pemuda itu mengangguk lemah. Ia menyeka keringat yang mengucur di

