79. Pengamat

1934 Words

"Aku sudah capek mengeluh soal hidup. Saking capeknya, aku bahkan gak bisa lagi menyalahkan siapa-siapa atas segala hal buruk yang terjadi dalam kehidupan ini," gumam Pevita, menatap pada kayu yang kemerahan terbakar api di hadapannya. "Tapi kamu tahu hal apa yang paling aku syukuri di dunia ini?" Dia bergumam lagi, menoleh pada Gara yang masih setia duduk di sisinya, meski yang lain sudah kembali ke dalam villa untuk beristirahat sebab waktu sudah lewat tengah malam. "Aku bersyukur takdir mempertemukan kita berdua," lanjutnya, menjawab tanya yang dia ajukan sendiri. Gara tersenyum tipis mendengar ucapan Pevita yang tampak begitu tulus. Diusapnya pipi wanita tersebut yang dihias bayangan oranye dari api yang menari-nari dalam gelap malam. Betapa ia jatuh cinta pada sosok cantik yang tampa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD