Fake Wedding Part 1 Queen Bullying

1832 Words
  Author Pov. “Selamat pagi Nona Kezia.” Baru saja Kezia membuka mata, dua pelayan sudah menunggu Kezia di samping tempat tidurnya, pemandangan yang cukup menyebalkan bagi Kezia, coba saja yang membangunkannya laki laki tampan gitu kaya oppa oppa Korea, pasti langsung auto bangun deh, nah ini pelayan dengan wajah biasa yang setiap hari Kezia lihat bikin moodnya ancur di pagi hari. “Jam berapa saat ini?.” Tanya Kezia sembari duduk di tempat tidur, padahal dia masih ngantuk, semalam dia pulang jam dua pagi dari balapan liar yang setiap minggu dia ikuti, lumayan uangnya bisa buat dia jajan. “Pukul tujuh lebih empat belas menit Nona Kezia, hari ini anda berangkat kulah jam Sembilan, jadi masih ada waktu untuk bersiap.” Kezia memang anak orang kaya raya, jadi tidak heran jika memiliki dua pelayan pribadi yang selalu ada setiap saat. Semua ini bukan kemauan Kezia, namun kemauan Mommy-nya, apa lagi dirinya memang cucu dari kesultanan Yogyakarta, jadi hal bias ajika dia selalu di pantau dan di layani oleh pelayan dan pengawal yang ada. “Kalian bisa tinggalkan kamar ini setelah membereskannya, aku bisa mandi sendiri,” Kezia berjalan kekamar mandi, pelayan hanya mengangguk, mengiyakan perintah Nona mudanya, namun sebelum itu mereka merapikan tempat tidur Kezia dan juga meja di depan sofa, ada beberapa sisa makanan ringan dan juga botol air kemasan. Kamar mandi yang cukup luas telah siap untuk Kezia mandi, bathup sudah terisi dengan air dengan aroma bunga mawar, drama korea faforit sudah di tampilkan di televisi yang menghadap lansung ke bathup, namun pagi ini Kezia lebih memilih mandi menggunakan shower, dia butuh waktu jalan jalan pagi sambil mengendarai Lamborghini Aventadornya di jalan raya ketimbang merendam diri di bathup. *** Kezia meninggalkan rumah setelah berdebat panjang dengan pelayannya yang memaksanya sarapan, padahal pelayannya cukup tau dan faham jika Kezia tidak pernah sarapan, dan Kezia selalu memenangkan perdebatan dengan pelayannya, sehingga mau tidak mau pelayan membiarkan Kezia pergi tanpa sarapan terlebih dulu. Menikmati jalan jalan yang dimaksud Kezia bukan menjalankan mobilnya dengan santai, heiii,,, mobil yang dia pakai itu mobil sport, jadi digunakan untuk meliak liuk di jalanan dengan kecepatan diatas rata rata yang pastinya. Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk Kezia sampai di kampusnya jika saja tadi dia tidak mampir ke kedai langganannya untuk segelas chocolate dingin favoritnya, beruntung kedainya buka dua puluh empat jam jadi jam berapapun Kezia mau ice chocolate dia bisa meminta pelayan atau pesan secara online, dan dia tidak perlu repot datang ke kedai, namun karena pagi ini dia lewat ajdi sekalian saja dia mampir sebentar. “Astaga itu Kezia, dia ganti mobil lagi.” Bisik bisik mahasiswa di parkiran, hal biasa yang sudah Kezia dengar sejak dia masuk kuliah. Mereka semua cukup heran dan iri dengan Kezia, anak anak petinggi negeri, pengusaha, hapir semua kuliah disini, namun mereka tidak sesering itu untuk gonta ganti mobil seperti Kezia, memang Kezia hampir tiap hari ganti mobil dari yang mobil biasa hingga mobil hypercar pernah Kezia bawa, tapi semua orang disini tidak tau siapa Kezia yang sebenarny, beberapa orang bilang jika Kezia simpanan om om berkantong tebal, beberapa orang bilang jika Kezia hanya meminjam punya orang, tapi Kezia tidak memperdulikan itu semua, sudah biasa Kezia menjadi behan pembicaraan seisi kampus ini, jadi Kezia hanya berjalan menuju kelasnya sambil membawa paper dan ice chocolatenya. “Gila Kezia memang cantik.” Para gerombolan laki laki hanya bisa mengagumi Kezia dari belakang, tidak ada yang berani mengungkapkannya di hadapan Kezia, karena Kezia pasti akan menolak laki laki yang menyatakan cintanya. “Queen bullying datang, mampus.” Beberapa kalimat yang terlontar sepanjang jalan Kezia menuju kelasnya di abaikan Kezia, setiap hari orang orang berkomentar dengan tingkah lakunya dan itu bukan hal yang baru bagi Kezia semenjak dia sekolah dasar dia sudah banyak mendapatkan banyak pujian dari orang orang disekitarnya. Tinggal belok ke kiri maka Kezia sampai di kelasnya, namun na’as, chocolate dingin yang dia pegang tumpah mengenai bajunya dan beberapa buku yang dia bawa, Kezia menatap biang keladi yang berdiri di hadapannya yang sedang menunduk tidak berani menatap Kezia sama sekali.. “Lo punya mata enggak sih? Lo enggak lihat apa chocolate gue tumpah,” Walau enggak tumpah sepenuhnya hanya seperempat saja namun itu cukup mengotori kemeja putih yang Kezia kenakan, dan jangan lupa paper Kezia yang Kezia kerjakan kemarin dari pulang kuliah hingga sore hari basah terkena ice chocolate. “Maaf kak, aku enggak sengaja.” Perempuan itu hanya menunduk sambil mengucapkan maaf, dia sangat takut pada Kezia, apa lagi Kezia merupakan Queen Bullying di kampus ini, berurusan dengan Kezia sama saja menderita selama di kampus ini, Kezia memang hanya sekali dua kali membully korbannya namun mahasiswa dikampus ini akan terus menggunjingnya tiap hari, membuat korban bullying semakin tertekan. “Maaf lo bilang, lo enggak tau apa kalau gue enggak bawa baju ganti sialan, dan ohhh astaga paper gue.” Kezia baru menyadari jika bukunya basah terkena tumpahan ice chocolate miliknya. “Tapi kak, aku enggak ada uang buat gantiin baju kakak, maaf kak,.” Kezia menatap perempuan di hadapannya ini, Kezia bisa langsung menilai jika perempuan dihadapannya itu hanya perempuan biasa, mungkin saja dia mahasiswa yang bisa masuk ke Spindler University karena beasiswa. “Gue enggak mau tau, jam Sembilan ini, paper gue harus seperti semula, dan satu lagi, gue enggak suka yang namanya terlambat. Maslah baju gue bisa beli pake uang gue sendiri.” Kezia memang bisa meminta pelayannya mengantar baju untuknya, namun papernya, dia enggak mau bekerja dua kali, apa lagi filenya di laptop miliknya yang berada di mansion. “Tapi kak, jam Sembilan tinggal beberapa menit lagi,” Perempuan itu menatap Kezia dengan tatapan tidak yakinnya. “Gue enggak perduli, kerjakan ini, atau lo bakalan kena akibatnya,” Kezia memang dikenal sebagai queen bullying dan pagi ini dia cukup berbaik hati tidak berkelakuan semena mena pada adik tingkatnya. “Tapi kak,” Perempuan yang menabrak Kezia mencegah Kezia pergi dengan menghadangnya. “Lo masih mau ngelawan, nihhh hukuman buat lo yang suka ngelawan perintah,” Tanpa berfikir panjang, chocolate yang masih sisa separuh Kezia siram ke kepala perempuan di hadapannya itu, dengan tanpa perasaan Kezia meninggalkan perempuan yang menjadi bahan tertawaan orang orang di koridor kampus ini, tentu saja tidak ada yang berani mengganggu Kezia, bahkan beberapa kali Kezia mendapat surat dari rektor karena bullyannya pada mahasiswa namun Kezia tidak memperdulikan itu, dia masih tetap membully orang orang yang mengganggunya. *** “Kezia, astaga, baju lo kenapa?” Tanya Ayana sahabat Kezia, ketika Kezia sampai didalam kelasnya, cukup banyak mahasiswa di kelas ini karena beberapa menit lagi perkuliahan segera di mulai. “Tadi ketumpahan chocolate ice gue, padahal gue baru minum dikit.” Kezia duduk di samping Ayana,  temannya dari sekolah menengah pertama itu, Ayana hanya geleng geleng, pasti ada yang nyari gara gara lagi dengan Kezia pagi pagi gini, di lihat dari muka Kezia yang cukup kesal itu sudah membuktikan asumsinya. “Nih, paper lo, lagian kenapa sih enggak lo print sendiri?” Wanda yang baru saja datang menyerahkan paper pada Kezia. “Ketumpahan chocolate,” Jawab Kezia sambil membolak balikkan paper yang berada di tangannya, tidak ada yang salah dengan papernya, Kezia hanya mengecek saja, siapa tau Wanda mengerjainnya. *** Perempuan itu menunggu Kezia di depan kelas Kezia dari jam setengah sepuluh, walau dia tau dia tidak sepenuhnya salah, namun dia tidak ingin mencari gara gara lagi dengan Kezia, beberapa teman satu kelasnya saja sudah membicarakan dirinya di depannya seolah olah dirinya tidak ada, walau dia sudah meminta maaf pada Kezia, dia memang tidak tau siapa Kezia namun dia mendengar beberapa orang atdi mengatakan jika Kezia itu queen bullying di kampus ini, membuat nyalinya semakin menciut, namun dia tetap terusaha untuk menunggu Kezia, dia juga sudah mengerjakan ulang paper Kezia yang tadi pagi ke tumpahan ice chocolate itu. Kezia keluar bersama kedua sahabatnya, namun dia melihat perempuan tadi pagi yang entah sengaja atau tidak menabraknya di lorong kampus, Kezia langsung memberi tatapan sinis membuat orang orang yang keluar dari kelas yang sama dengan Kezia menyaksikan pertunjukan ini. “Kak, maaf ini, papernya.” Perempuan itu menyodorkan paper pada Kezia yang sudah dia perbaiki, dan di print ulang olehnya, beruntung masih ada orang baik yang menolongnya tadi ketika Kezia sudah pergi meninggalkannya, walau hanya membubarkan orang orang di lorong dan meminjamkannya jaket untuk menutupi noda pada bajunya. “Udah gak guna, punya kuping enggak sih, gue bilang jam Sembilan, ya jam Sembilan, sekarang lo tau jam berapa? Jam sebelas, artinya lo telat dua jam.” Perempuan itu semakin menunduk, lagian siapa juga yang bisa memperbaiki paper Kezia dengan sisa waktu yang mepet, kecuali jika print ulang kaya yang dilakukan Wanda. “Tapi kak,,,” Mood Kezia hancur lagi gara agra perempuan di hadapannya. “Mending lo pergi aja, sebelum Kezia benar benar marah gara gara lo.” Wanda mengusir perempuan dihadapan Kezia. Dari pada Kezia tambah hancur moodnya mending Wanda mengusir perempun itu. “Key, kita cabut,” Wanda menarik tangan Kezia, di ikuti Ayana di belakang Kezia. Mereka memutuskan untuk pergi shoping setelah kuliah, bahkan waktu mereka banyak di habiskan di Mall atau di tempat tongkrongan mereka bertiga jika waktu mereka senggang, karena Kezia selama satu bulan ini bekerja di kantor Yayasan Spildler University. “Ehh,, gue mau beli yang ini dong,” Ayana mengambil mini dress berwarna peach, tanpa lengan, memang cocok dengan Ayana apa lagi kulit Ayana yang putih bersih cocok di pakaikan baju apa saja, asal jangan baju compang camping aja. Kezia memilih baju casual, dia butuh ganti baju, baju putih yang baru dia beli minggu kemarin sudah terkena chocolate ice miliknya tadi pagi. “Wanda, lo jadi ambil tas itu?.” Tanya Ayana sembari memperhatikan Wanda yang bingung dengan dua tas limited edition dari LV, jangan di tanya harganya, karena satu tas itu harganya setara dengan satu mobil SUV yang biasa di pakai penjabat. “Kayaknya gue perlu ambil dua duanya deh, biar gue enggak pusing.” Wanda menyerahkan kedua tas itu pada pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka bertiga, belanjaannya mereka bertiga sudah cukup banyak, membuat mereka menyudahi sesi belanja hari ini. Kezia sudah mengganti bajunya dengan tank top berwarna hitam, dilapisi jaket denim warna biru pudar. Mereka keluar dari butik dengan membawa beberapa paper bag kecuali Kezia, Kezia hanya membawa satu paper bag berisi baju kotornya itu., awalnya Kezia ingin membuang bajunya di tempat sampah namun sayang juga baju harga lima juta itu baru sekali di pakai lansung masuk tempat sampah. “Makan siang yuk gue laper.” Kezia melangkah menuju restoran ternama yang berada di lantai teratas Mall ini. benar apa kata Kezia, ini sudah melewati jam makan siang, apa lagi bagi Kezia yang tadi pagi dia tidak makan sarapannya sama sekali. Kezia langsung memesan banyak makanan, mereka bertiga bukan perempuan jaim yang makan sedikit, mereka bertiga memang suka makan banyak, apa algi kalau sudah kelaparan apa saja di makan. Selesai makan mereka bertiga pisah, mereka pulang kerumah masing masing, hari ini Kezia tidak ada pekerjaan sama sekali, sampai rumah dia akan melanjutkan series drama koreanya yang baru dia tonton bebearapa part tadi malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD