7. Hari Pernikahan

1961 Words
Sempat rasa cemburu hampir membuatku membatalkan acara sakral ini namun saat aku melihat wajah Ummi yang terlihat bahagia dan sangat antusias menyiapkan acara pernikahanku membuat aku mengurungkannya. Ini semua demi Ummi dan wasiat Abi, berbekal itu aku siap melanjutkan pernikahan ini. Atau mungkin karena rasa dihati yang masih tersisa untuknya? Insya Allah aku akan tawaqal dalam menghadapi semua ujian yang di berikan oleh Allah ini. Terdengar suara seorang pria yang sedang melantunkan surah Ar-Rahman dia adalah Mas Raddan. Sesuai permintaanku bahwa aku ingin sekali mendapatkan mahar surah Ar-Rahman dan Mas Raddan menyanggupi meski harus dibujuk Bunda terlebih dulu. Aku bahagia karena bisa mendapatkan mahar yang sangat aku impikan itu dan juga aku menikah tepat di hati jum'at, dimana di hari ini para Nabi Allah juga pernah melangsungkan pernikahan. Tak terasa air mataku mengalir dari kedua pelupuk mataku mengingat bahwa sebentar lagi baktiku akan berpindah pada suamiku. Sedih rasanya harus meninggalkan Ummi sendirian tapi Ummi dengan tenangnya mengatakan bahwa Ummi tidak papa, beliau juga mengatakan akan tinggal bersama Bunda jika aku masih saja mengkhawatirkannya. Sungguh aku masih ingin membahagiakan Ummi dengan mewujudkan impian Ummi untuk pergi haji. Insya Allah aku tetap berusaha untuk mengumpulkan uang tabungan yang masih belum tercukupi untuk memberangkatkan Ummi naik haji itu. Memberangkatkan Ummi ke tanah suci sudah menjadi impianku. Inilah saat-saat mendebarkan itu, Mas Raddan akan menjabat tangan pamanku yang mengantikan Abi sebagai wali nikahku, namun aku tidak bisa melihatnya karna aku masih ada dikamarku dilantai dua. Hanya suara dari mic yang bisa ku dengar. "Saudara Muhammad Raddan Al-azmi bin almarhum Muhammad Farhan Rizaka. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan keponakan saya yang bernama Hawani Azzahra binti almarhum Ahmad Nabhan Maulana dengan maskawin seperangkat alat sholat serta hafalan surah Ar-Rahman dan emas seberat 400 gram. Tunai. Jantungku semakin berdebar tidak karuan. Akan kah Mas Raddan me jawabnya dengan lancar? "Saya terima nikahnya dan kawinnya Hawani Azzahra binti almarhum Ahmad Nabhan Maulana dengan maskawin tersebut. Tunai." "Bagaimana para saksi, sah?" "Sah!" jawab semuanya yang bisa kudengar melalui pengeras suara yang terpasang dibeberapa sudut rumah. "Alhamdulillah ..." Kemudian penghulu membacakan doa pengantin. Suara pintu terbuka membuatku menoleh, diambang pintu ku lihat Ummi tersenyum hangat ke arahku. Air mataku tak kuasa ku bendung lagi, sekarang aku sudah menjadi seorang istri dan baktiku sudah berpindah pada suamiku. Rasa tak percaya, bahagia, sedih, semuanya bercampur aduk. "Ummi!" aku sudah tidak bisa menahan keinginan untuk memeluk tubuh Ummi."Hiks! Hiks! Hawa sedih kalo harus ninggalin Ummi. Ummi ikut Hawa yuk," "Hahaha, nggak bisa gitu lah, ndok. Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri tugas kamu adalah mengikuti apa kata suamimu bukan Ummi lagi selama apa yang dia perintahkan masih dalam ketentuan Allah SWT. Karna bakti seorang perempuan akan berpindah bila dia sudah menikah sedangkan seorang lelaki baktinya akan selalu pada ibunya." "Iya Hawa tau, tapi Hawa masih pengen tidur sama Ummi." Rengekku seperti anak kecil. "Ih, dasar kamu ya ... kamu lupa udah tiga malam berturut-turut kamu tidurnya minta Ummi kelonin, loh. Sekarang temui suamimu dibawah, kasihan dia udah nunggu lama. Jangan lupa lap ingusmu itu," aku mengerucutkan bibirku masih semapat-sempatnya Ummi bercanda disaat seperti ini. Ummi menarik tanganku keluar dari kamar menuju tempat prosesi akad tadi berlangsung. Aku berjalan sangat lamban dan hati-hati bukan ingin belagak seperti putri keraton hanya saja kebaya yang kukenakan ini beratnya tidak main-main 3 kilo, serta memiliki ekor yang panjangnya mencapai 1 meter dan kain songket keemasan yang membalut kakiku membuatku semakin susah untuk berjalan cepat. Jangan lupakan high heels setinggi 7 senti yang kukenakan ini. Sebenarnya aku hendak protes, tapi Bunda sudah mewanti-wanti agar aku tetap memakainya. Ini sangat melelahkan ditambah aku harus menuruni beberapa anak tangga untuk sampai dibawah. Jangan mengira aku pandai memakai sepatu yang kata perempuan kebanyakan adalah harta atau barang yang sangat berharga, aku bisa memakai high heels ini juga butuh perjuangan yang sangat keras selama seminggu penuh, aku berlatih untuk memakainya. Hasilnya cukup memuaskan meskipun terdapat banyak memar dipergelangan kakiku serta bagian jemarinya. Namun itu semua terbayar setelah melihat senyuman Bunda dan Ummi yang menggembang dengan sempurna di hari bahagiaku ini. Tak terasa kini kakiku sudah melangkah menuju tempat Mas Raddan, pria yang baru saja menjadi suamiku. Entah kenapa pipiku terasa panas saat mengatakan bahwa Mas Raddan adalah suamiku. Ummi menuntunku untuk duduk di sebelah Mas Raddan, kemudian Ummi ikut duduk disebelah Bunda yang tengah menangis menyaksikan acara akad ini. Setelahnya Pak Penghulu memberi arahan untuk memasangkan cincin dijari manis pasangan. "Bismillah," ucapku seraya memasangkan cincin ke jari manis Mas Raddan. Aku membeku saat tangan kami bersentuhan, terasa seperti ada aliran listrik yang menyengat ku litku barusan. Apa ini yang namanya kenikmatan sehabis menikah hanya karna sentuhan yang tak disengaja saja jantungku langsung berdetak dengan kencang. Ku hentikan lamunanku saat mendengarnya berdehem.Ternyata giliran dia yang memasangkan cincin ke jari manisku. Setelah selesai kucium tangannya dengan takzim kemudian aku mendongak dan ku lihat dia mendekatkan bibirnya ke arah keningku. Lalu dia mencium keningku dengan lembut. Ya, Allah. Jantungku berdegup sangat kencang. Rasa ini datang lagi! Allahuakbar! Jantungku seperti akan melompat keluar dan mungkin sekarang suaranya detakannya bisa didengar olehnya. Bisa ku pastikan wajahku sudah memerah tidak karuan. *** Di acara resepsi ini aku hanya mengundang Silvi, bukan karna aku tidak mempunyai teman selain dia hanya saja Mas Raddan sudah memperingatkanku supaya tidak mengundang banyak teman yang berpotensi dalam menyebarkan pernikahan ini. Kami berdua sudah siap menyambut tamu yang berdatangan. Kebaya berpotonga loose berwarna biru malam sudah kukenakan, tak lupa khimar senada dengan hiasa bunga-bunga juga aku kenakan tapi bukan khimar dengan tatanan modern karna aku lebih nyaman dengan khimar yang menutub bagian d**a. Ada juga hiasan kepala dari rangkaian bunga-bunga yang dibentuk melingkar seperti mahkota. Tamu satu persatu naik ke podium untuk memberikan selamat pada kami berdua. Aku dan Mas Raddan bangkit berdiri menyambut mereka. Setelahnya kami duduk kembali. Tidak seperti pasangan kebanyakan yang mengobrol ataupun bercanda tawa di atas pelaminan, Mas Raddan terlihat enggan sedari tadi, tatapannya hanya mengarah ke satu objek di ujung sana. Menatap Clara yang berdiri sendirian di pojok sana menggunakan gaun sewarna dengan ku dan hanya saja dengan model yang berbeda panjangnya hanya sebatas lutut karna Clara belum berhijab. Sakit, tentu wanita mana yang tidak sakit ketika dihari bahagia mereka, suaminya lebih memilih melihat wanita lain meskipun itu istri pertamanya. "Aaa... selamat Hawa akhirnya lo taken juga!" teriakan Silvi yang baru saja menaiki podium membuat lamunanku buyar, air mata yang menetes di pipi segera ku hapus. "Hai, dateng juga lo. Sama siapa?" tanyaku sambil melongokkan kepala ke kanan dan kiri. "Lo mah ... kerjaannya ngehina gue mulu! Gue datengnya sendiri, kan belum ada gandengan." Jawab Silvi dengan cemberut. "Ya, maaf. Gue kan nggak tau. Gue kira lo bakalan dateng sama gebetan lo itu, tuh! Yang ganteng," godaku. "Lupakan saja! Sepertinya doi nggak peka-peka sama kode keras yang gue kasih selama ini." "Kacian...." ku usap kepalanya yang tertutup khimar berwarna pink. "Ini hari bahagia lo jadi gue harus bahagia." Ujar Silvi kembali tersenyum. Tatapannya beralih ke sebelahku, "dan buat lo! Sekali lo bikin sahabat gue nangis, gue bakal bawa pergi sahabat gue ini dan jangan harap lo bisa ketemu lagi sama dia." "Sil, udah ..." leraiku seraya menurunkan jari telunjuknya yang mengacung didepan wajah Mas Raddan, untuk mencegah Silvi berbuat sesuatu diluar nalar manusia. "Gue cuma mau peringatin sama cowok yang pikunnya kebangetan ini. Masa bisa lupa sama orang yang dicintainya selama bertahun-tahun, apalagi namanya kalo bukan pikun!" "Please! Cukup Sil." "Oke. Kalo lo udah nggak sanggup tinggal lambaikan bendera putih ke gue dan gue akan bawa lo pergi dari sini." "Hahaha. Apaan sih!" kupukul pelan lengannya. "Gue serius tau?!" "Udah, udah masa kita mau debat dinikahan gue." "Ya udah deh, gue ngalah. Semoga lo bahagia, Haw." Silvi turun dari pelaminan tanpa menangkupkan tangan untuk bersalaman pada Mas Raddan. "Maafin sikap Silvi ya, Mas." Sebagai temannya Silvi aku merasa harus mengucapkan maaf pada Mas Raddan atas sikapnya yang tadi. "Seharusnya kamu bisa memilih teman yang lebih baik dari gadis itu. Supaya kamu tidak ketularan sifat buruknya yang barusan." "Tapi Silvi sebenarnya baik, cuma emang kalo ngomong dia blak-blakan buat orang yang baru kenal dia mungkin kelihatanya nyebelin tapi kalo udah lama kenal kamu pasti nggak akan nilai dia seperti itu." "Tapi bagaimana bisa dia berbicara seperti tadi, padahal aku baru kali ini bertemu dengannya?” "I-itu karna ..." "Oh, ini toh yang namanya pelakor masa kini. Keliatannya aja alim, tapi kelakuannya minus. Jadi perebut suami orang!" tiba-tiba ada sekumpulan gadis yang menaiki pelaminan seraya mengatakan hal yang sangat menyakitkan buatku. Aku tidak merebut Mas Raddan dari istrinya sungguh aku bukan pelakor, ingin aku berteriak seperti itu namun aku tidak ingin terjadi keributan disini. Salah satu gadis lainnya mendekatiku menarik ujung khimar yang ku kenakan," pakeannya muslimah tapi hatinya busuk. Kalo pelakor ya pelakor aja nggak usah sok alim, nggak guna?!" ujarnya seraya menghempaskan ujung khimarku yang tadi dipegangnya. Tamu undangan yang sedang asik menyantap hidangan malam ini, menoleh saat mendengar kata-kata yang dilontarkan kedua gadis itu. Mas Raddan diam saja tidak berusaha menolong ataupun mengatakan sesuatu untuk membela aku istrinya sendiri, apakah penilaian Mas Raddan terhadapku sama seperti penilaian mereka. "Sadar diri dong! Seharusnya lo bisa ngaca sebelum lo ngerebut suami orang muka pas-pasan aja sok jadi pelakor, mana gayanya kamseupay banget lagi! Iyuhh..." Gadis yang pertama berbicara tadi kembali berucap sambil memegang ujung kebaya yang aku kenakan, lalu menghempaskannya dengan jijik. Semua tamu undangan mulai berbisik-bisik mungkin sedang berspekulasi mengenai apa yang para gadis itu bicarakan. Mereka mulai menatapku dengan berbagai macam tatapan ada yang menyudutkan dan ada juga yang memandangku dengan kasihan. Aku tidak pernah bercita-cita atau menginginkan menjadi seorang pelakor atau istri kedua, seperti wanita lainnya aku hanya ingin menjadi istri satu-satunya dari pria yang kucintai. Tapi inilah takdirku yang harus menjadi istri kedua, aku tidak menyalahkan Yang Maha Kuasa atas semua ini. Aku hanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran mereka yang menganggap aku seolah-olah hal yang menjijikan padahal aku dan mereka sama, sama-sama manusia yang tak luput dari dosa. "Ucchh ... cacian ... bisanya cuma nangis minta dikasihani, iya?" ucap kedua gadis itu lagi. "Cukup! Penghinaan kalian terhadap menantu saya?! Sekarang juga kalian pergi atau saya panggilkan security kesini?!" bentak Bunda yang baru saja kembali, tadi Bunda dan Ummi memang sedang berganti pakaian jadi hanya ada aku dan Mas Raddan dipodium ini. Ku hampiri Bunda dan ku usap kedua bahunya yang naik turun karna amarah. Aku harus bisa melawan mereka sendiri, aku tidak bisa melihat Bunda ataupun Ummi terbawa emosi yang dapat membahayakan kesehatan mereka berdua. Aku maju kedepan menatap mereka satu persatu,"sudah puas kalian mencemoohku?! Kita ini sama-sama makhluk ciptaan-Nya tapi kenapa kalian bisa menghakimiku hanya karna aku menjadi istri kedua. Menjadi istri kedua bukanlah aib, memangnya ada larangan jika seorang suami beristri dua? Selama dia mampu menafkahi dan bisa berlaku adil pada semua istrinya tidak ada larangan baginya, untuk berpoligami." "Satu lagi, jangan menuduh orang sembarangan tanpa tahu kebenarannya. Kita ini sama-sama manusia yang kodratnya tidak pernah luput dari salah, sebaiknya kalian intropeksi diri sendiri sebelum mencari-cari kesalahan dan keburukan orang lain. Silakan kalian pergi dari sini, dengan cara baik-baik atau mau diseret paksa oleh security kami," Ku lihat Ummi tersenyum, ternyata beliau tidak membelaku bukan karna tidak peduli tapi beliau yakin bahwa aku bisa menghadapi mereka dengan caraku sendiri. Terima kasih Ummi yang sudah mengajarkan padaku untuk menjadi wanita tangguh dan berjiwa kuat. Semua tamu undangan bertepuk tangan sebagai apreriasi terhadap hal yang baru saja ku lakukan. Ada juga yang mengacungkan jempol penuh kekaguman. Sedangkan dari pandanganku Mas Raddan hanya bisa menunduk malu karna tidak bisa berbuat apa-apa. "Raddan ikut Bunda, sekarang juga!" "Silakan di lanjutkan acara makan-makannya," ujarku pada semua tamu. Aku dan Ummi segera menyusul Bunda dan Mas Raddan takut terjadi pertengkaran hebat antara keduanya. ________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD