Session 2 - Bab 16

1490 Words

“Biarin Ibu berdua dengan Pak Hakim. Jangan ganggu dulu.” Aku bicara padanya dengan ekspresi datar. Tak mau terlihat kalau aku terkesima dengan wajahnya yang hmmm, kuakui memang tampan. Berkali-kali lipat jauh di atas Bang Irfan malah. “Kenapa?” tanyanya dengan kedua alis saling bertaut. Aku mengusap wajah. Namun baru saja hendak menjelaskan, sorot lampu mobil membuat perhatianku teralihkan. Seketika senyum pada bibirku mengembang. Tuhan sedang baik padaku hari ini. Mobil yang sangat kukenal menepi. Tak berapa lama, laki-laki paruh baya yang bergelar dokter itu turun. Kaca matanya yang membuatnya terlihat gagah bertengger pada hidung mancungnya. Tak kupungkiri, Bapak memang tampan. Karena itu juga tak bisa kusalahkan jika Ibu masih saja gagal move on. “Ibu kamu ada, Fa?” tanya Pak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD