“Oke, Pak! Jam lima sore saja, ya, Pak. Saya kerja pulangnya jam dua. Besok bisa?” Lidah ini mendadak lancar jaya. “Boleh, Mbak. Oke sampai nanti.” Panggilan pun ditutupnya. Ya Tuhaaan … lancarkan perjuanganku membawa duda untuk Ibu. Usai menyelesaikan panggilan dengan Pak Hakim. Aku segera mengirimi pesan pada Rita. [Ta, besok ke PMM, yuk!] PMM itu singkatan Plaza Meridian Mall [Wah traktir?] Balasan Rita membuat aku berpikir beberapa saat. Uangku saja sedang terancam akibat laptop mahal Pak Hakim yang ketumpahan air. [Cilok.] Balasku. Dari pada Rita gak mau. Aku traktir cilok saja ‘kan dapet lima ribu. Cilok yang biasa mangkal di sekolah SD kami dulu. [Dih!] Balasan kuterima dengan gambar mata mendelik. [Ya sudah, gak jadi traktir kalau gak mau.] Aku membalas cepat. [Iya

