Hari ini putaran jam yang terpampang pada dinding minimarket berjalan lambat. Berulang kali aku meliriknya. Ingin sekali waktu berputar lebih cepat. Namun, tetap saja putarannya tak berkurang. Tetap enam puluh detik dalam satu menit dan enam puluh menit dalam satu jam. “Syfa, Syfa! Kamu pikir itu jam kalau terus-terusan diplototin bisa jadi dollar?” Mario yang sejak tadi ngedumel hanya mendapat lemparan ballpoint dariku. Berisik sekali sejak pagi. Di tengah kerusuhan Mario, tiba-tiba satu buah mobil yang aku kenal berhenti. Aku tahu pemilik mobilnya. Dia pasti Reza. Ah, apakah karena pesannya gak aku balas sejak malam. Tubuh jangkungnya keluar dari mobil. Gaya coolnya masih jadi andalan. Dia memasukkan kedua ujung tangannya pada saku hoodie dan berjalan masuk ke minimarket. “Selama

