Udara di dalam ruang kerja eksekutif Aris Wijaya di lantai tiga puluh gedung pencakar langit Sudirman terasa begitu dingin, berkat pendingin ruangan yang disetel ke suhu terendah. Di balik dinding kaca tebal yang menyajikan pemandangan kota Jakarta yang abu-abu di bawah sisa gerimis, Aris duduk di kursi kulit besarnya. Jas mahalnya sudah tersampir di sandaran kursi, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Tatapan matanya lurus menatap layar monitor yang menampilkan grafik pergerakan saham perusahaan yang tidak stabil, namun fokus otaknya sama sekali tidak berada di sana. Kepala Aris dipenuhi oleh bayangan jejak ban mobil Elena yang melesat membelah badai hujan Menteng semalam. Kepergian istrinya yang nekat, ditambah dengan cincin berlian yang ditinggalkan begitu sa

