22.1 Memories and Anxiety

1649 Words

Petang sudah menyapa, kunang-kunang bersiaga. Jalanan menjadi sunyi, namun tidak dengan cucuran air yang bergemiricik. Windy mengunci semua pintu rumahnya, setelah membantu Gekko duduk di sebuah kursi kayu. Ia tergesa-gesa, seperti tak ingin seorang pun mengetahui keberadaannya. Tak ada lilin menyala, ia hanya mengandalkan kedua bola mata yang mulai terbiasa di kegelapan untuk membuatnya bisa berjalan keliling rumah. "Jika orang lain tau aku di rumah, kau tidak akan bisa beristirahat." Kini Windy berusaha membantu Gekko berdiri, untuk mengajak pasien pucatnya ke sebuah ruang yang lebih pribadi. Masuk lebih dalam, melewati ruang makan, masuk lagi ke sebuah ruang penuh obat-obatan, lalu turun ke bawah melalui sebuah tangga kayu yang tertutup karung goni. "Tubuhmu makin panas. Kurasa kau ha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD