Hari-hari berlalu tanpa terasa. Waktu berjalan lambat bagi mereka yang menunggu, namun bagi yang sakit, setiap detiknya terasa berharga. Randi masih dirawat di rumah sakit, dan aku tahu pasti kalau Nia setia menemaninya, merawatnya dengan penuh kesabaran. Hari itu, udara di luar terasa mendung, seolah ikut menahan napas bersama hatiku yang gelisah. Mobilku meluncur ke halaman parkir rumah sakit. Randi menelepon tadi pagi, suaranya lemah, tapi nadanya serius. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan denganku. Setelah memarkirkan mobil, aku berjalan menuju lobi rumah sakit. Di sana, Nia sudah menungguku. Ia mengenakan cardigan abu-abu di atas gaun birunya, wajahnya tampak lelah namun tetap tenang. Matanya menyimpan keheningan yang sulit kutebak. “Nia, kamu sudah makan?” tanyaku. “Sudah, Ka

