“Aku tidak menyimpannya luka di hatiku, tapi justru luka itu yang menyimpan aku di dalamnya.” Malam turun dengan lembut, seperti selimut tipis yang membungkus halaman rumah dan gemerisik dedaunan. Di dapur, aroma tumisan bawang dan sambal goreng menyatu dengan harum nasi yang mengepul dari dandang. Lampu gantung di langit-langit ruang makan memancarkan cahaya kuning yang hangat, seperti cahaya kenangan yang tak pernah padam. Hidangan telah siap. Aku, Ibu, Tirto, Shinta, dan Syahda duduk melingkar di meja makan. Piring-piring tersaji rapi, penuh dengan sayur lodeh, ayam goreng, tempe bacem, dan sepiring besar lalapan segar. Kami menundukkan kepala sejenak sebelum mulai menyendokkan nasi ke piring masing-masing. Tak lama kemudian, deru pelan mobil terdengar dari depan rumah. Aku bangkit

