"Boleh aku, bicara dengannya ...?" Sousuke menahan tanganku, memohon sambil menangis. Aku tidak tahu hak emosional macam apa yang dia rasakan sekarang tapi, kupikir, kalau aku memberikan ponselku padanya, bisa jadi keadaan Sousuke lebih buruk dari yang kubayangkan. Jadi, saat tangannya hendak meraih ponselku, cepat-cepat aku menarik ponsel itu dan mematikan panggilannya sebelum memasukan benda tersebut ke dalam saku celanaku. "Mau apa kau?" Aku bertanya dengan nada yang sangat kasar dan sontak saja membuatnya seperti terkejut dan sangat takut. "A— aku," "Berhenti berbuat bodoh dan pergilah bekerja." Aku kembali membentak. Hanya saja, air mata yang meleleh dari mata cantiknya sama sekali tidak bisa terkendali. Kulihat dia masih terdiam dengan air mata yang tak berhenti meleleh. Hing

