"Ketika Ragaku bersamanya, tetapi hatiku untuk orang lain." Kakiku lemas tak berdaya, aku menangis sejadi-jadinya terduduk di atas lantai. Betapa bodohnya aku menganggap Radit mengkhianatiku. Aku membencinya di setiap malamku, aku mengutuknya agar karma datang menghampirinya hingga ia mati. Aku yang jahat, aku yang tak pernah sadar akan pengorbanan Radit untuk diriku. Radit menahan rasa sakit hatinya, sakit fisiknya hanya demi kebahagianku. Aku mencintaimu Radit, aku sangat mencintaimu, aku masih mencintaimu. Hati ini terasa begitu sesak, seperti tak ada sisa ruang untuk bernapas. "Aku tak mampu membencimu Radit, tak akan bisa." Aku masih teduduk di lantai. Sementara Radit lalu berjongkok di hadapanku. "Bencilah aku Kania, ini permintaanku. Bukankah kamu telah menikah dengan Azka?

