Elenio menatap Alara yang duduk di tepi ranjang dengan rambut yang masih tertutup handuk, bathrobe nya sedikit melorot, memperlihatkan bahunya yang pucat. Pagi itu terasa begitu intim, begitu dekat, dan Elenio bisa merasakan detak jantung wanita itu berpacu lebih cepat karena menyentuh dadanya ketika dia menggendongnya tadi. Mereka sudah saling mengungkapkan perasaan. Mereka sudah sepakat untuk menjadi lebih dekat, lebih dalam ... lebih dari sekadar pasangan di atas kertas. Namun, sesuatu di dalam diri Alara selalu menahannya, membuatnya mundur di saat-saat seperti ini. Elenio menarik napas pelan, lalu kembali mendekat. Tangannya terulur, membelai pipi Alara dengan lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahang wanita itu sebelum dia memiringkan wajahnya, hendak memagut bibir Alara

