Elenio menatap layar ponselnya dengan cemas. Sejak tadi, pikirannya terus-menerus terganggu oleh insiden yang terjadi antara dirinya dan Alara. Perasaan bersalah menyelimuti dirinya, bercampur dengan rasa dilema yang mendesak. Dia tahu, meskipun insiden itu sepenuhnya disengaja oleh Alina, dampaknya terlalu besar untuk diabaikan begitu saja. Alara adalah wanita dari keluarga sederhana yang baik, dan Elenio tidak bisa membiarkannya menghadapi situasi ini sendirian. Dia memutuskan untuk menelepon sepupunya, Fiona, satu-satunya orang yang bisa dia percaya saat ini. * * “El? Ada apa? Bukankah kau seharusnya sudah dalam perjalanan pulang? Ke mana saja kau semalam? Kau pergi bersama Alina, kan?” Fiona menjawab telepon dengan nada penuh keheranan. “Fiona, aku butuh bantuanmu,” El

