Alara terbangun dengan kepala yang berat dan mata yang sembap. Sinar mentari pagi mengintip dari celah jendela kamarnya, menyoroti wajahnya yang lelah. Namun, bukan rasa kantuk yang menguasainya, melainkan perasaan malu yang menghantui sejak semalam. Malam sebelumnya, dalam kenekatan yang membutakannya, Alara melakukan sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikirannya sebelumnya. Dia menawarkan dirinya kepada Elenio—seseorang yang selama ini mengisi ruang hatinya dengan cara yang terlalu dalam untuk diungkapkan dengan kata-kata. Namun, respons Elenio yang ternyata menolak hubungan itu membuat hatinya terhantam keras, seakan menampar semua harga dirinya yang tersisa. Dia menatap bayangan dirinya di cermin. Matanya yang bengkak dan merah menjadi saksi betapa keras dia menangis semal

