"Jadi gini, Bunda ... Hari ini Prilly minta putus sama Ali. Ali gak ngerti apa yang terjadi sama Prilly sampe tiba-tiba dia bilang gitu. Waktu Ali duduk di danau sendiri, Ali denger ada keributan di gudang tua belakang sekolah. Karena Ali penasaran, Ali dateng ke sana sampe akhirnya tau kalau Prilly hampir dilecehkan sama teman di sekolah. Begitu Bunda."
Ully terkejut mendengar Ali bercerita. "Ya ampun, Nak. Tapi Prilly baik-baik aja?"
"Iya, Bunda jangan khawatir. Prilly cuma syok jadi dia pingsan waktu kita di perjalanan pulang."
"Nak makasih banyak ya udah jaga Prilly. Bunda gak tau harus bilang apa lagi sama kamu. Dan Bunda gak tau bagaimana nasib Prilly kalau kamu tidak menolongnya."
"Tidak perlu berterima kasih Bunda. Menjaga Prilly sudah menjadi tugas Ali."
"Bunda beruntung sekali mengenal pria muda seperti kamu. Bunda berpesan semoga kamu tidak lelah menghadapi sikap Prilly ya, Nak. Kadang Bunda gak enak sama kamu karena Prilly yang begitu manja dan selalu merepotkan kamu. Bunda selalu memanjakan dia karena Bunda terlalu sayang, Nak."
"Iya, Bunda. Ali sama sekali gak merasa repot kok. Ya udah Bunda, Ali pamit pulang dulu ya. Besok Ali ke sini lagi."
"Hati-hati ya, Nak Ali. Titip salam untuk ibumu."
"Siap, Bunda. Assalamualaikum." Ali berpamitan setelah mencium tangan Ully dan berlalu pergi.
"Bunda! Bunda di mana!"
"Prilly!" Ully memutuskan untuk ke kamar Prilly begitu mendengar suara putrinya berteriak.
"Sayang, Bunda di sini." Ully menyalakan lampu ruangan di kamar Prilly.
"Bunda, hiks, hiks." Prilly menangis di pelukan Ully.
"Jangan nangis, Nak. Bunda di sini." Ully memeluk erat putrinya. Sesekali ia memberi kekuatan dengan mencium pelipisnya.
"Prilly takut gelap, Bunda." Suara Prilly bergetar membuat Ully merasa sangat iba.
"Maaf ya, Prill. Bunda janji gak akan matikan lampu kalo sudah gelap. Kamu kenapa, hem? Cerita, Nak."
"Prilly dibawa ke gudang gelap, Bunda. Prilly takut, hiks. Baju Prilly dibuka, terus dia mau ambil sesuatu di dalam diri Prilly, Bunda."
"Dia siapa, Nak. Nanti Bunda lapor ke sekolah ya. Bunda gak terima anak Bunda diginiin." Ully mengusap-usap rambut Prilly yang sedikit berantakan.
"Hiks, aku gak nyangka dia punya niat jahat karena dia pernah nolong aku waktu awal-awal aku masih sering dibully Kak Ali, Bunda." Prilly terbatuk diujung pembicaraannya karena ia berbicara sambil menangis.
"Ceritakan semuanya, Nak. Bunda pasti dengar."
"Aku gak nyangka kalo pada akhirnya ada Kak Ali yang lagi-lagi nolong aku, Bun. Aku pikir dia benci sama aku karena sebelumnya aku minta putus sama dia, hiks."
"Kenapa, Nak? Kamu berantem dengan Ali?"
"Hati aku gak pernah ingin untuk udahan sama Kak Ali, tapi mulut aku udah dengan mudahnya membuat Kak Ali kecewa, Bunda. Hiks."
"Bunda gak marah kan kalo aku gak mau cerita soal aku yang minta putus sama Kak Ali? Maaf ya Bunda, yang harus Bunda tau aku gak pernah mencintai pria lain kecuali Kak Ali, Bun."
"Iya, Sayang. Bunda gak maksa kok. Bunda minta kamu cerita biar beban kamu berkurang. Tapi kalo itu membuat kamu tertekan Bunda gak akan maksa."
"Makasih, Bunda." Prilly kembali memeluk Ully dengan keadaan yang masih terus ingin menangis.
"Tapi kamu sama Ali jadi beneran udahan?"
"Nggak Bunda. Kak Ali udah tau penyebab aku minta putus. Dan setelah tau, dia meminta aku untuk tetap bersamanya. Dia juga udah janji sama aku akan melaporkan perbuatan orang yang menyakiti aku, Bunda."
"Nak, apapun yang menjadi kebahagiaan kamu, Bunda akan selalu dukung. Kalo kamu nyaman sama Ali gak papa. Bunda tahu Ali anak baik."
"Iya Bunda. Jangan bilang Ayah ya, Bun. Aku takut Ayah gak kasih ijin aku untuk sekolah lagi."
Ully tersenyum kecil. "Iya, Sayang. Bunda paham. Bunda gak akan bilang ke Ayah kok."
"Bunda kenapa baik banget sama aku? Kenapa Bunda selalu mengerti apa yang aku rasakan? Aku pikir Bunda akan marahin aku tadi. Tapi aku juga gak pernah lihat Bunda marah. Padahal aku sering banget merepotkan Bunda, hiks."
"Kok nangis lagi? Prilly Sayang ... Bunda pernah muda. Tentu Bunda tau persis posisi kamu sebagai wanita remaja. Jangan sungkan berkeluh kesah sama Bunda karena Bunda akan selalu berusaha menjadi pendengar yang baik untuk kamu."
Prilly tersenyum di antara tangisnya. Ia betapa beruntungnya memiliki ibu seperti Ully.
"Nah kalo senyum, kamu cantik Prill. Jangan sedih lagi ya, Nak."
"Bun, kalo suatu saat mati lampu gimana? Aku jadi takut gelap setelah kejadian tadi."
"Nanti Bunda pikirkan ya, Nak. Kamu gak usah pikirin hal itu. Sekarang istirahat ya, Nak."
"Iya, Bunda kepala aku juga sedikit pusing."
"Prilly mau dibuatkan menu apa? Biar Bunda masakin, Nak."
"Mau sup iga boleh gak, Bunda?"
Ully kembali tersenyum tulus. "Tentu. Tapi janji jangan nangis lagi ya, Sayang."
"Prilly kan mau bobo bukan mau nangis, Bunda."
"Ya udah. Bunda tinggal ya, Nak. Selamat istirahat." Ully mengecup kening Prilly lembut tak lama melangkah keluar kamar Prilly.
Sepeninggalan Ully, Prill mencari ponselnya dan mencari kontak Ali.
My Spoiled Girl :
Malam, Kak.
Me :
Malam....
My Spoiled Girl :
Kakak gak marah kan karena
aku sempat minta putus?
Me :
Nggak....
My Spoiled Girl :
Sekali lagi maaf ya, Kak. Kalo
Kakak kecewa besok
Kakak boleh bully aku kok.
Me :
Ngapain bully pacar sendiri.
Udah gak ada bullyan adanya,
Pacaran.
My Spoiled Girl :
Hehe....
Ya udah aku mau bilang
makasih udah selalu datang
di saat aku butuh Kakak :*
Me :
Simpan aja makasihnya.
Soalnya....
Gua bosen dengernya
Hahaha
My Spoiled Girl :
Aku baru tau Kakak bisa
bercanda. Aku pikir Kakak itu
manusia es.
Me :
Iya, lo bener kok
Gua es.
Tapi, es masih bisa mencair kan?
Lo tau kenapa gua bisa cair?
My Spoiled Girl :
Gak tau, Kak.
Me :
Lo anak IPA masa gak tau
My Spoiled Girl :
Ya udah Kakak ajarin dong.
Kak Ali kan pintar.
Me :
Coba lo bikin air hangat,
terus lo bawa es batu ya.
Send pict ke gua.
My Spoiled Girl :
Oke, Kak.
Sebentar aku ambil yah Kak
[Send pict]
Me :
Sekarang lo masukin pelan-pelan
es batunya ke dalam air hangat.
Inget pelan-pelan.
My Spoiled Girl :
[Send pict]
Terus kak?
Me :
Sabar.
Lo tunggu beberapa menit.
My Spoiled Girl :
[Send pict]
Oh iya, Kak. Aku ngerti es
batunya lama-lama mencair
karena airnya hangat.
Me :
Lo tau yang hangat itu apa?
My Spoiled Girl :
Air hangat kan, Kak?
Me :
Bego!
Maksud gua, lo tau gak yang
hangat itu siapa?
My Spoiled Girl :
Kak Ali = es batu
Prilly = air hangat
Begitu kah, Kak?
Me :
Pinter.
My Spoiled Girl :
Kasih tepuk tangan dong hiha.
Me :
Jadi yang tadi apa jawabannya?
My Spoiled Girl :
Kak Ali mencair karena ada
aku yang memiliki zat hangat
di dalam diri aku. Ya kan Kak?
Me :
Ya udah gak usah senyum-senyum.
My Spoiled Girl :
Hihi. Bukan senyum lagi.
Aku lagi ketawa. Kakak lucu hihi.
Me :
Udah sana tidur.
My Spoiled Girl :
Besok jemput aku ya, Kak ❣️
Me :
Gak mau.
My Spoiled Girl :
Ih
Me :
Besok lo istirahat aja.
My Spoiled Girl :
Please....
Me :
Gua janji bikin catetan buat lo.
My Spoiled Girl :
Aku mau sekolah, Kak :(
Kakak gak ngerti orang kangen?
Me :
Besok pulang sekolah gua ke rumah.
Tidur.
Jangan bales lagi.
See you ❣️
Ali tersenyum senang begitu kembali membaca ulang chatingnya bersama Prilly. Ia pikir tadi siang ia benar-benar akan kehilangan gadis itu.