Kesunyian adalah bahasa Tuhan, selain itu hanyalah terjemahan yang buruk. (Jalaluddin Rumi) Aku benci kesunyian ini. Aku benci sunyi yang tercipta di antara kita, yang memenuhi atmosfer di sekitar kita, yang harus terpaksa kita sesap. Aku benci saat tidak ada kata yang berhasil lolos dari mulutku sementara bibirmu juga sama rapatnya terkunci. Mengapa perasaan yang takut kuberi nama ini sangat menyiksa? “Kapan kembali ke London?” Akhirnya, meski terasa getir, kalimat tanya itu lolos juga dari mulutku. Aku tidak mungkin berdiam sepanjang perjalanan yang singkat ini. Sebentar lagi gedung apartemenmu akan tampak. “Hah? Itu…aku belum tau.” Renata yang duduk di kursi penumpang di sebelahku menyahut pelan. Tampak canggung. Sejak kapan kita menjadi canggun

