Brakk
Fara menutup pintu kamar dengan keras. Nafasnya memburu. Matanya pun kian menajaman. Ada sirat kebencian yang terlihat dalam pandangannya.
Yunita benar-benar keterlaluan. Permainannya sudah terlalu jauh dan dapat membahayakan semua orang. Fara tak bisa tinggal diam. Wanita itu tak mau ada korban selanjutnya setelah dia.
"Bagaimana pun caranya, aku harus menghentikan kegilaan Yunita!" gumam Fara.
"Aku tak bisa membiarkan Nisa menjadi korban. Dia terjebak dalam situasi ini karena aku. Maka aku sendiri yang harus menyelesaikan."
Drrt Drrt Drrtt
Terdengar getaran dari ponsel yang tergeletak di atas nakas. Fara memutar kursi rodanya. Gegas ia ambil benda pipih tersebut. Terlihat nama Sang Suami memenuhi layar panggilan.
"Halo Mas," sapanya.
"Halo sayang. Benar kamu di rumah Mama?" tanya Haris dari sebrang telpon.
"Iya Mas, aku ada di rumah Mama. Tadi aku sudah coba telpon kamu. Tapi sepertinya kamu sedang sibuk."
"T-tidak sayang. Aku tidak sibuk. Hanya saja ponselnya dalam mode diam."
"Baiklah tidak apa-apa."
"Mas, aku izin menginap disini ya," izin Fara pada Sang Suami.
"Kenapa? Biasanya kamu selalu malas jika Mama Dian memintamu untuk bermalam disana," tanya Haris keheranan.
"T-tidak. Aku hanya sedang ingin menginap saja. Hanya malam ini. Aku janji."
"Baiklah. Aku akan susul kamu untuk ikut menginap disana," putus Haris.
"T-tidak. Jangan Mas!" tolak Fara agak panik.
"Kenapa sayang?" tanya Haris bingung.
"Jangan tinggalkan Nisa seorang diri saat ini. Aku mohon," pintanya.
"Fara, are you okey?" Haris memastikan.
"I'm okey Mas. Kamu tenang saja."
"Aku merasa ada yang sedang kamu tutupi," tebak Haris.
Fara seketika gelagapan. "T-tidak ada Mas. Untuk apa aku menutupi sesuatu darimu?"
"S-sudah dulu ya Mas. Aku di panggil Mama," kilahnya. Kemudian langsung mematikan sambungan telpon.
Hufft
Fara bernafas lega. Untung dia cepat-cepat memutus panggilan itu. Jika tidak, mungkin Haris akan bertanya lebih banyak lagi. Dan tentu saja dia akan kesulitan untuk menjawab.
Fara belum bisa mengungkap semua kejahatan-kejahatan adiknya. Pun dia belum bisa untuk bercerita pada Haris tentang Yunita yang terobsesi dengan suaminya.
Meskipun Yunita telah beberapa kali berusaha melenyapkannya, Fara tetaplah seorang kakak yang masih memiliki hati untuk tidak membongkar aib Sang Adik. Reputasi wanita itu pasti akan hancur seketika.
Namun Fara telah bertekad, jika sampai Yunita berani bermain lebih jauh lagi, maka dia tak akan segan-segan untuk membongkar semuanya. Selama ini hanya dia yang tahu kebusukan Yunita. Bahkan kedua orang tuanya pun tak tahu menahu soal perilaku kriminal Sang Adik. Fara dengan sabar menyimpannya seorang diri sejak lama.
***
"Mas Haris tidak menyusul Mbak Fara?" tanya Nisa saat tengah membereskan sisa-sisa makan malam mereka.
"Tidak. Saya sudah menawarkan untuk ikut meningap disana. Tapi dia menolak."
"Menginap? Mbak Fara mau menginap disana?" tanya Nisa memastikan.
Haris mengangguk. "Ya dia bilang begitu," ucapnya.
"Tumben sekali. Sejak awal saya bekerja disini, Mbak Fara tidak pernah menginap di rumah orang tuanya," gumam Nisa sambil membawa piring kotor ke wastafel.
"Kamu bicara apa?" tanya Haris yang tak mendengar gumaman Nisa dengan jelas.
"Ah tidak Mas. Bukan apa-apa."
Haris bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah Nisa yang tengah mencuci piring di wastafel. Entah kenapa tiba-tiba saja tubuhnya mengajak untuk lebih dekat Sang Istri.
Haris melingkarkan tangannya di perut Nisa. Dagunya dia simpan di atas bahu Sang Istri. Posisi yang sangat nyaman. Haris bisa mencium aroma tubuh Nisa yang menenangkan.
Nisa terkejut dengan perlakuan Haris yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Tubuh perempuan itu membeku. Bahkan kini tangan Nisa tak bisa melanjutkan pekerjaannya lagi.
Haris masih memeluk Nisa dengan mata terpejam. Entah apa yang terjadi dengan suaminya ini. Nisa benar-benar dibuat bingung akan sikapnya yang selalu berubah-ubah.
"Astagfirullah!" pekik Bi Darsih sambil menutup mata dengan kedua tangannya.
Haris dan Nisa terperanjat saat mendengar pekikan Bi Darsih. Haris dengan segera melepaskan diri dari Nisa. Dia berdeham sejenak untuk menutupi rasa canggungnya.
'Bodoh kau Haris! Kenapa sikapmu begini! Membuat malu saja' rutuknya dalam hati.
"S-sudah Bi. Tidak usah di tutup matanya," pinta Nisa pada Bi Darsih yang masih menutup mata.
Nisa sungguh malu luar biasa. Pertama kalinya Haris berperilaku seperti ini, namun harus terpergoki oleh Sang ART. Rasanya canggung dan malu menjadi satu.
"M-maaf Tuan. Saya kira Tuan sama Neng Nisa sudah pergi dari dapur. Saya mau bereskan bekas makannya," sesal Bi Darsih sambil tertunduk. Wanita paruh baya itu agak takut Sang Majikan akan marah.
"Tidak apa-apa," ujar Haris.
Lelaki itu sedikit menoleh ke arah istrinya. Nisa yang masih merasa canggung pun seketika kembali menegang saat Haris menatapnya seperti itu.
"Saya duluan."
Setelah mengatakan itu, Haris berjalan ke luar dapur sambil menepuk kedua pipinya bergantian.
"Bodoh kau Haris! Bodoh!" rutuknya pelan.
Nisa yang melihat punggung Haris telah menghilang pun bernafas lega. Sungguh rasanya dia kesusahan untuk bernafas saat Haris masih ada disini.
Bi Darsih tak bisa menyembunyikan lagi raut bahagianya saat Haris telah pergi. Dia sangat senang melihat keduanya bisa sedekat tadi.
"Ekhem." Bi Darsih berdehem keras membuat Nisa terperanjat.
"Huh Bibi buat Nisa jantungan saja," ucap Nisa sambil memegangi dadanya.
"Cieee ... Neng Nisa habis apa tuh," goda Bi Darsih sambil mencolek-colek lengan Nisa.
Nisa seketika jadi salah tingkah sendiri. "Ih apa sih Bi."
"Cieee ... Bibi ikut seneng lho Neng," ucap Bi Darsih sumringah.
Nisa seketika jadi merona mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Rasanya Nisa ingin menghilang saja.
***
Malam telah tiba. Kini Nisa telah membaringkan tubuhnya di atas kasur. Wanita itu berusaha untuk menutup matanya agar tertidur. Tapi tak berhasil.
Kejadian saat Haris memeluknya terus menari-nari di kepala Nisa. Dia telah berusaha menyingkirkannya, namun bayangan itu semakin jelas di mata Nisa.
Nisa terus menggulingkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Matanya yang dia paksa untuk terpejam pun terbuka kembali.
"Ini semua gara-gara Mas Haris," gerutunya pelan.
Nisa mendudukan tubunya lalu bersandar pada headboard ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar. Ia menerawang pada kejadian tadi, bibirnya kembali menyunggingkan senyum yang indah.
"Ih ngapain bayangin itu lagi sih," gerutunya sambil menggelengkan kepala dengan kencang.
Tok Tok Tok
"Nisa, apa kamu sudah tidur?" teriak Haris dari luar.
Nisa membulatkan mata. "Mas Haris?"
"Apa kamu sudah tidur? Jika kamu sudah tidur, saya akan masuk sendiri."
"Mas Haris pasti bawa kunci cadangan nih. Duh gimana ini. Nisa gugup," gumam Nisa gusar.
"Saya izin masuk ya," teriak Haris lagi.
Seketika Nisa langsung membaringkan tubuhnya. Ia berpura-pura memejamkan mata. Nisa malas berbicara dengan Haris. Dia masih sangat malu dan canggung pada suaminya itu.
Ceklek
Pintu dibuka dari luar dan menampilkan Haris yang telah memakai piyama tidur. Lelaki itu melangkahkan kakinya menuju ranjang setelah mengunci pintu kembali.
"Ternyata sudah tidur. Saya kira kamu sengaja tidak mau saya masuk kesini," gumamnya.
Haris duduk di atas kasur. Ia pandangi paras istrinya yang tengah tertidur. Sangat cantik.
"Sedang tertidur saja kamu masih cantik," gumamnya sambil terkekeh.
Fokus Haris berpindah menatap bibir ranum Nisa yang berwarna merah muda. Bibir yang tak pernah ia sentuh selama satu bulan menjadi suami-istri. Tangan Haris tergerak mengusap bibir ranum yang terlihat indah di matanya.
Cup
Haris mengecup alat bicara Nisa tanpa aba-aba. Nisa yang sebenarnya belum tertidur pun menjadi gugup seketika. Tubuhnya menegang. Rasanya dia ingin berteriak sangat kencang.
"Selamat tidur istriku,"
Cup