Nisa menatap tak percaya pada seorang lelaki di hadapannya. Apakah dunia begitu sempit? Dari ribuan pekerjaan di Jakarta, kenapa harus di sini juga lelaki itu bekerja? Takdir benar-benar mempermainkannya.
"Perkenalkan saya Imam. Mohon bimbingannya dari teman-teman semua," ucap lelaki tersebut dengan sopan.
Ya, dia adalah Imam. Laki-laki yang sama dengan Imam yang Nisa kenali sejak dulu. Entah kenapa laki-laki itu bisa bekerja di sini. Lihatlah sekarang! Belum ada satu hari bekerja, Imam telah benar-benar membuatnya risih. Pandangannya sejak tadi terus tertuju pada Nisa. Sungguh Nisa benar-benar tak nyaman.
"Baiklah Imam. Silahkan mulai pekerjaanmu. Semoga betah disini," ujar Sang HRD yang kemudian berlalu dari sana.
Semua karyawan yang berada di pantry dengan senang hati menyambut Imam. Bahkan saat ini mereka tengah mengerumuni lelaki jangkung itu untuk sekedar berkenalan lebih dekat.
Nisa menatap malas pada kerumunan tersebut. Ia menjauhkan diri, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya pada salah satu kursi di sudut ruangan.
Cici yang melihat gelagat Nisa pun keheranan. 'Kenapa dia?' Batin Cici. Gadis berhijab coklat itu menghampiri Nisa yang tengah duduk seorang diri.
"Hei." Cici menepuk bahu Nisa.
Nisa menoleh pada Sang Sahabat yang telah duduk di sampingnya. "Hem," sahut Nisa singkat.
"Kamu kenpa sih Nis? Tadi kayaknya biasa aja, sekarang jadi bete begini," tanya Cici yang heran dengan perubahan Nisa.
"Gak apa-apa," jawab Nisa. Perempuan itu mengambil gelas berisi teh hangat, kemuadian meneguknya pelan.
"Kamu gak mau ikutan kenalan sama anak baru itu?" tanya Cici yang juga ikut menyeruput teh hangat miliknya yang sempat ia tinggalkan tadi.
"Aku gak minat," jawab Nisa singkat.
Dahi Cici mengernyit. "Kenapa?"
"Aku udah kenal sama dia."
"Apa? Kamu udah kenal? Serius?" tanya Cici dengan mata melebar.
"Ish biasa aja tuh matanya. Nanti copot gak ada ganti," ledek Nisa.
"Ih aku beneran nanya lho Nis. Beneran kamu kenal Imam?" tanya Cici memastikan.
"Iya," jawab Nisa malas.
"Ceritain dong! Gimana kalian bisa kenal?" Cici antusias menatap Sang Sahabat.
Hufft
Nisa menghela nafas kasar sebelum menjawab. "Nanti lagi deh aku cerita. Lagi bener-bener gak mood sekarang."
Cici langsung merubah raut antusianya menjadi kecewa. "Pake segala gak mood lagi," sahut Cici malas.
"Beneran lho Ci. Janji deh nanti aku ceritain sama kamu," ujar Nisa meyakinkan.
Cici tersenyum jahil. "Oke. Sekalian cerita tentang Pak Haris ya," godanya.
Uhuk Uhuk
Nisa yang tengah menyeruput teh pun langsung tersedak mendengar perkataan Cici.
"Kamu ini ya!" Nisa mencubit lengan sahabatnya pelan.
"Kenapa sampai tersedak gitu?" Cici keheranan. "Oh atau jangan-jangan kamu emang ada sesuatu ya sama Pak Haris?" tebak Cici sambil memicingkan matanya pada Nisa.
"Shutt!" Nisa mengarakan jari telunjuk pada bibirnya. "Diam! Kalau yang lain dengar bisa jadi masalah tahu," omelnya.
"Oke aku diam. Tapi kamu harus cerita semuanya."
***
Di ruangan CEO, Haris tengah berkutat dengan pekerjaan. Sejak tadi lelaki itu bahkan belum meneguk segelas air pun. Tumpukan dokumen-dokumen penting memenuhi meja kerjanya, membuat Haris malas untuk melakukan apapun selain mengecek semua agar segera selesai.
"Huh aku bahkan lupa jika hari ini ada meeting," gumamnya.
Lelaki bermata tajam itu pun menelpon Sang Asisten untuk datang ke ruangannya. Tak membutuhkan waktu lama, Dimas telah sampai dan langsung menghadap CEO Wiyatama Group dengan sopan.
"Apa Bapak membutuhkan sesuatu?" tanya Dimas sambil menunduk hormat.
"Tidak. Saya hanya ingin menanyakan soal meeting hari ini."
"Oh baik Pak. Meeting hari ini akan di adakan di Shine's Resto setelah jam makan siang," beritahu Dimas.
Haris hanya mengangguk saja. "Oke. Terima kasih Dim," ucapnya.
"Ada lagi, Pak?" tanya Dimas memastikan tugasnya telah selesai atau belum.
"Emh ... saya belum minum apapun sejak tadi. Tolong kamu minta OB baru untuk membuatkan saya kopi. Suruh dia yang antar kesini. Saya ingin tahu kinerjanya," perintah Haris.
Dimas mengangguk cepat. "Baik Pak. Saya akan hubungi bagian pantry. Kalau begitu saya permisi," ujar Dimas dengan sopan.
Haris hanya menjawab dengan deheman. Kemudian lelaki itu kembali fokus pada dokumen-dokumen yang masih belum selesai ia periksa.
"Huh jadi CEO saja tetap memusingkan," keluhnya. Namun sesaat kemudian Haris tersadar dan segera beristighfar. "Astaghfirullah ... harusnya kamu bersyukur Haris."
Tring!
Haris mengalihkan perhatiannya saat mendengar notifikasi pesan masuk. Gegas ia mengambil benda pipihnya lalu membuka pesan tersebut.
"Orang yang sama," gumam Haris saat melihat nomor Sang Pengirim Pesan adalah nomor yang juga menerornya tempo hari.
[Kamu masih terlihat tenang, ya? Oh atau kamu mau aku buat media geger dengan beritamu? Sepertinya nyalimu sangat besar. Bahkan tempo hari aku melihatmu bersama dia lagi. Sungguh Tuan Haris yang luar biasa]
[Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan itu. Aku bisa saja tutup mulut. Tapi .... tentu dengan bayaran yang sesuai]
Rahang Haris mengeras. Segera dia menelpon nomor tersebut. Namun lagi-lagi sudah tidak aktif.
"Sial! Aku kalah cepat," umpatnya sambil meremas ponsel itu kuat-kuat.
"Cepat ke ruangan saya Dim!" perintah Haris pada Sang Asisten lewat sambungan telepon.
Tak membutuhkan waktu lama, Dimas telah datang ke ruanganya dengan tergesa-gesa. Lelaki itu bisa menangkap nada Sang Atasan yang tengah emosi. Oleh karena itu dengan kecepatan kilat, Dimas segera memenuhi Haris.
"Ken--"
"Cepat carikan hacker yang handal sekarang! Bawa dia di keruangan saya!" Haris dengan cepat memotong ucapan Dimas. Dia tak mau bertele-tele. Saat ini yang ia butuhkan adalah orang yang benar-benar bisa melacak siapa pemilik nomor misterius tersebut.
"B-baik Pak," sahut Dimas cepat. Dia segera keluar dari ruangan Sang Bos.
"Kemana aku harus cari hacker lagi?" Dimas tengah kebingung dan malah mondar mandir di depan ruangan bosnya. Bagaimana tidak? Saat ini juga dia harus membawakan seorang hacker handal ke hadapan Haris. Sedang beberapa hacker yang kemarin telah ia bawa pun tak ada yang berhasil memecahkan kasus ini.
Sedangkan di dalam ruangan CEO Wiyatama Group, Haris tengah terduduk di sofa sambil memijit kepalanya yang terasa pening. Begitu banyak cobaan demi cobaan yang ia dapat. Haris sempat berpikir sekuat apa dirinya ini? Hingga Tuhan begitu senang memberikan dia cobaan yang tak ada habisnya.
Tok Tok Tok
"Masuk!" ucap Haris agak keras sambil terus memijat kepalanya.
Ceklek.
Pintu ruangannya dibuka. Namun Haris tak mendengar ada langkah kaki. 'Apa orang itu keluar lagi?' pikir Haris.
Haris pun mendongakkan kepalanya mencari keberadaan orang tersebut. Seketika wajahnya berubah menjadi sangat dingin saat mengetahui lelaki yang mengantarkan kopi untuknya adalah Imam.
Imam pun terpaku dan masih mematut di ambang pintu. Dia tak menyangka jika pemilik kantor ini adalah suami dari perempuan yang ia cintai. Lalu mengapa Nisa menjadi OG di kantor suaminya sendiri?
"Kamu karyawan baru itu?" tanya Haris dingin.
Imam pun tersadar. Dengan segera ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan. "Benar pak," akunya. "Silahkan. Ini kopi pesanan Bapak," ucap Imam sambil meletakkan secangkir kopi pada meja kerja Haris.
"Siapa yang merekrut kamu?"
"HRD Pak," jawab Haris singkat.
"Silahkan pergi," ucap Haris yang sebenarnya mengusir.
"Maaf Pak. Saya ingin bertanya sebentar," ujar Imam yang hanya dibalas deheman oleh Haris.
"Kenapa Nisa menjadi Office Girl disini? Bukankah Bapak suaminya? Rasaya dia tak pantas mendapatkan pekerjaan seperti ini di kantor suaminya sendiri."
Tangan Haris terkepal. Sejak tadi dia berusaha menahan emosi. Namun lelaki di depannya benar-benar membuat emosinya ingin keluar saat ini juga.
"Itu bukan urusan kamu!" tegur Haris penuh penekanan.
"Tentu itu menjadi urusan saya. Karena saya sangat mencintai Neng Nisa. Jika Bapak tidak bisa menghargainya, lepaskan dia. Saya lebih bisa membahagiakan Nisa dari pada Bapak."
"Diam!" teriak Haris murka.
Brakk
Haris menggebrak meja kerjanya dengan kuat. "Kamu tidak tahu apa-apa! Jadi jangan sekali-kali ikut campur urusan rumah tangga saya!" bentak Haris.
"Keluar sekarang!"
"Saya bilang keluar!" teriak Haris murka.