Setelah Evan masuk, dia makan sendirian. Evan sempat menoleh ke arah Karina sebelum kepala pelayan menyuruh Karina untuk ditugaskan ke ruang tamu lagi.
Karina menyadari bahwa makanannya mewah, tetapi Kevin tidak makan banyak.
Sementara Rosa terus berbicara dengan suara genit yang tak tertahankan.
Evan makan tanpa ekspresi. Bahkan Karina mengagumi bagaimana Evan bisa menjaga ekspresi dinginnya.
"Sup ini agak panas, tapi aku sudah meniupnya untukmu. Minumlah perlahan-lahan!" kata Rosa sambil tersenyum genit. "Dan ikan ini memiliki beberapa tulang kecil. Berhati-hatilah juga!"
Karina yang berada di ruang tamu yang bersebelahan dengan ruang makan, benar-benar kesulitan untuk menahan tawanya melihat semua yang dipertontonkan Rosa itu.
Akhirnya, acara makan malam itu berakhir di tengah-tengah obrolan genit Rosa yang memuakkan itu.
Setelah makan malam, Evan duduk di sofa ruang tamu dan minum air. Dia melepas jaketnya, memperlihatkan kemeja berwarna gelap yang menunjukkan sosoknya yang berotot.
Rosa mengikutinya dengan buah-buahan di tangannya. "Evan, apakah kamu mau anggur, apel, atau stroberi hari ini? Bagaimana dengan stroberi? Aku secara khusus mencucinya untukmu. Untuk membersihkannya, aku bahkan melukai tanganku dan mematahkan kukuku."
Rosa mengambil stroberi merah tua dan hendak memberikannya kepada Evan. Dia bersandar pada Evan, tapi Evan tiba-tiba berdiri.
Rosa kehilangan keseimbangan dan jatuh ke sofa.
Karina tidak tahan lagi. "Pfft!" Sebuah tawa kecil keluar dari mulutnya.
Dua pasang mata menoleh ke arahnya pada saat bersamaan. Salah satunya adalah tatapan marah Rosa, dan yang lainnya adalah tatapan tegas Evan.
Karina buru-buru menundukkan kepalanya.
Evan meliriknya dan naik ke atas.
Karina menghela nafas lega. Untungnya, Evan tidak memasukkannya ke dalam hati.
Rosa mengertakkan gigi dan mengikuti Evan dengan wajah merah.
Mereka berdua naik ke atas. Karina penasaran dengan apa yang akan dilakukan Rosa selanjutnya dan bagaimana tanggapan Evan. Namun, dia tidak bisa melihat mereka dari lantai bawah. Sayang sekali.
Karina melirik ponselnya. Sudah malam. Dia ingin pulang dan bertemu anak-anaknya.
Untungnya, kepala pelayan mengatakan bahwa mereka bisa pergi, jadi Karina pun buru-buru keluar dari vila ini. Setelah keluar dari vila, ia memanggil taksi dan bergegas pulang.
**
Langit sudah gelap. Ketiga anak dan Bu Rum sedang menonton televisi di ruang tamu rumah kos.
"Ibu!"
Ketiga anak itu seakan terbang keluar dari ruang tamu ketika mereka melihat ibu mereka.
Karina memeluk mereka satu-persatu dengan penuh kerinduan.
"Maafkan ibu, Ibu harus bekerja lembur."
"Ibu, kamu sudah bekerja keras." kata Juno." Terimakasih, ibu," lanjut Juno.
"Apakah ada anggur lagi untuk untukku?" tanya Jinny.
Karina sangat tersentuh. Anak-anaknya adalah anak-anak yang paling patuh dan baik di seluruh dunia.
"Terima kasih, Bu Rum,"
Karina sangat berterima kasih kepadanya karena telah menjemput dan menjaga serta bersama anak-anaknya.
Bu Rum tersenyum. "Jangan khawatir tentang hal itu. Orang tua zaman sekarang harus bekerja dan merawat anak-anak mereka. Ini sudah seharusnya. Bu Rum akan mencoba yang terbaik untuk membantu jika Bu Rum bisa. Pulanglah bersama mereka. Sampai jumpa besok, anak-anak."
"Sampai jumpa besok, Bu Rum."
Karina membawa kedua anaknya keluar dari rumah utama. Tapi bukannya langsung pulang ke rumah kosnya yang berada di samping kiri rumah utama, dia lalu pergi bersama anak-anaknya ke minimarket terdekat untuk membeli bahan makanan.
Lebih dari satu jam kemudian, makan malam baru siap. Ia merasa kasihan ketika melihat ketiga anak itu melahap makanan mereka.
"Sayang, jika Ibu tidak bisa kembali lagi tepat waktu di masa depan, Ibu akan mencari pengasuh untuk menjaga kalian, oke?" Karina tidak enak kalau terus menyusahkan Bu Rum. Karena itu, dia mengetengahkan solusi itu.
Karina ingin mempekerjakan pengasuh paruh waktu. Biaya tambahan tidak masalah, selama pengasuh itu bisa membantu saat dia tidak bisa mengurus anak-anak.
Juno sudah menggelengkan kepalanya. "Kami tidak menginginkan pengasuh. Kami bisa menjaga diri kami sendiri."
Jinny menarik wajahnya Karina dan berkata, "Pengasuh akan memukuli kami. Kami tidak menginginkannya."
"Kenapa kamu berpikir begitu, Jinny?"
"Aku sangat khawatir, ibu. Televisi mengatakan bahwa pengasuh selalu memukuli anak-anak. aku sangat ketakutan."
Juno juga keberatan. "Ibu, aku tidak suka ada orang asing di rumah kita."
Ini adalah rumah mereka. walaupun hanya berupa dua buah kamar dengan dapur kecil, ruang makan kecil dan kamar mandi, tapi, ini adalah rumah bagi mereka. Dengan adanya orang asing di sekitar, tidak akan terasa nyaman lagi.
Karina berkata tanpa daya, "Baiklah, ibu akan mencoba yang terbaik untuk tidak bekerja lembur. Jika ibu tidak bisa, ibu akan berbicara dengan Bu Rum dan membayarnya lebih untuk bantuannya."
"Ya, baiklah. Kami suka bersama Bu Rum."
Kedua anak kecil itu dengan suara bulat menyetujui keputusan ini.
Setelah makan malam, kedua anak itu menonton televisi selama setengah jam sebelum Karina menyuruh mereka tidur.
**
Setelah mengantar anak-anaknya ke sekolah, Karina pergi ke vila pagi-pagi sekali.
Evan turun ke bawah tepat saat Karina tiba di vila. Karina tiba tepat saat Evan akan berangkat ke kantor.
"Karina, bantu Tuan Muda membawa barang-barangnya." Kepala pelayan memanggilnya lagi.
Karina menguatkan diri dan mengikuti Evan keluar dengan barang-barangnya. Di belakangnya, Rosa menatapnya dengan tatapan berbisa.
Karina menghela nafas dalam hatinya. Kepala pelayan itu suka sekali membuat Rosa semakin membencinya. Apa kepala pelayan itu tidak sadar akan perbuatannya?
Pintu dibuka oleh seorang pengawal. Evan masuk ke dalam mobil dan bersandar dengan santai, mengeluarkan aura yang sangat maskulin.
"Barang-barangmu." Karina menyerahkan dokumen-dokumen itu kepada Evan.
Kemarin, Evan mengatakan bahwa dia tidak tahu aturan. karena itu, Hari ini, dia menyerahkan barang-barang itu kepadanya dengan kedua tangan dan bahkan membungkuk pada sudut 90 derajat.
Dia benar-benar bertingkah seperti seorang pelayan pada tuannya.
Evan melihat dokumen di depannya, dan kemudian pada wanita yang membungkuk dua kali lipat seperti udang itu.
Dia dengan santai menerima tas dokumen itu. Dan berkata, "Pinggangmu sangat bagus. Kulitmu sangat putih."
Karina buru-buru berdiri tegak. Dia sangat marah dengan komentar Evan itu. 'Huh! Dasar gigolo!
Wajah Karina menjadi sedikit memerah. Dia tidak menyadari bahwa dia telah mengekspos dirinya sendiri di depan Evan.
Dia tidak menyangka hal itu akan terjadi.
'Jika dia tidak begitu kritis, apakah aku akan membungkuk serendah itu? Namun di sinilah dia, masih mencari-cari kesalahanku. Huh! aku tidak tahu apa maunya padaku!' sungut Karina dalam hatinya.
Evan berkata, "Sebenarnya aku tidak ingin melihat, tapi pinggangmu sangat bagus dan lehermu sangat putih sehingga membuat aku terpesona."
Karina berkata pada dirinya sendiri untuk tidak marah, tapi kemarahannya mendidih. Tak terkendali lagi. "Kalau begitu, aku akan berjemur saat ada waktu. Aku tidak ingin mengambil risiko matamu jelalatan ke arahku!"