DI SEKOLAH
Di pintu masuk sekolah, Karina mencium setiap anaknya.
"Sampai jumpa nanti malam, sayangku."
"Sampai jumpa nanti malam, Ibu."
Kedua anak itu memasuki sekolah sambil bergandengan tangan.
Kepala sekolah berjalan mendekati Karina.
"Bu, tolong tunggu sebentar."
"Apa ada masalah, Kepala Sekolah?"
"Yah, kami baru saja mengetahui kemarin bahwa Juno bermain piano dengan sangat baik. Beberapa hari lagi, sekolah kami akan mengadakan acara untuk publisitas. Maukah Anda mengizinkan dia tampil di depan kamera?"
"Tentu."
Karina sangat gembira. Juno memang tahu cara bermain piano karena di rumah kost mereka sebelumnya, seorang pensiunan guru musik pernah tinggal di sebelah mereka. Guru itu dulunya mengajar di sebuah sekolah musik terkenal.
Pada suatu kesempatan, dia mengajak Juno untuk bermain piano dan menyadari bahwa anak itu sangat berbakat, jadi dia terus mengajarinya.
Guru itu sangat surprise karena dalam waktu singkat, Juno berhasil menguasai lagu-lagu klasik yang sangat susah yang biasanya memerlukan waktu panjang untuk dikuasai seseorang.
Guru itu menganggap Juno sebagai mutiara yang cuma perlu diasah sedikit saja, untuk menjadi pemusik luar biasa.
Kemudian, karena guru itu akan pergi ke luar negeri untuk bertemu kembali dengan putrinya, maka dia pindah.
Sebelum dia pergi, dia memberikan pianonya untuk Juno dan berpesan agar Juno terus belajar. Namun, karena Karina tidak mampu memasukkan Juno di sekolah musik, Juno cuma meneruskan belajar secara otodidak juga lewat berbagai aplikasi main piano online.
Setelah mendengar apa yang dikatakan kepala sekolah ini, Karina langsung setuju.
Ia juga mempertimbangkan untuk membiarkan Juno terus belajar piano dengan mengikuti kompetisi piano.
DI VILA EVAN TANUJAYA
Karina memulai hari kerjanya. Ketika dia tiba di pagi hari, dia tidak melihat Evan. Evan pasti sudah pergi ke kantor.
Dia sedikit lega karena mereka tidak perlu bertemu. Dia mendengar pembicaraan para pelayan dan mendapatkan fakta bahwa Evan biasanya pulang tepat jam 6 saat dia pulang kerja dari kantornya.
Tidak ada banyak kesempatan bagi mereka berdua untuk bertemu, karena itu, Karina jadi lega karena telah terjebak bekerja di rumahnya Evan ini.
Bagaimanapun, Evan seolah pembawa sial baginya yang selalu membuat dia tertimpa kesialan tiap kali dia berada dj sekitar pria itu.
Seorang wanita dengan perhiasan mempesona tapi dengan seragam pelayan, kini mulai mengawasi Karina. Namanya Rosa.
Karina mulai dia awasi setelah tidak dipecat setelah memecahkan keramik mahal. Padahal bulan sebelumnya, seorang pelayan dipecat karena memecahkan keramik lainnya.
"Karina, kamu ngepel lantai ini!" Dia memerintah Karina dengan nada sombong.
Karina ingat bahwa namanya adalah Rosa. Sebenarnya, dia bingung karena Rosa ini sama sekali tidak terlihat seperti seorang pelayan. Karena kalung yang dia kenakan saja bernilai lebih dari seratus juta.
Karina tahu bahwa kalung itu asli karena dia pernah kerja di toko perhiasan yang juga menjual keramik. Karena itu, Dia bisa membedakan banyak merek perhiasan.
Rosa menatap Karina dengan tidak senang.
Kecantikan Karina membuat Rosa meradang. Semua orang tahu bahwa tinggal di sini adalah kesempatan terbaik untuk mendekati Evan Tanujaya. Wanita mana yang tidak menyukai pria tampan dan kaya seperti Evan Tanujaya?
Rosa datang ke sini bukan untuk gajinya yang cuma recehan dj matanya, tetapi dia datang ke sini untuk mendekati dan tujuan akhirnya menjadi istrinya Evan Tanujaya.
Tapi Evan Tanujaya terlihat terkesan dengan Karina begitu Karina tiba. Rosa telah memperhatikan hal itu dan menjadi tidak suka.
Rosa tidak bisa membiarkan lawan yang begitu tangguh tinggal di sini.
"Tapi, kerjaanku kan di dapur. Aku harus--"
"Aku yang menentukan pekerjaanmu! Ikuti perintahku!" Rosa melotot.
"Oke." Karina tidak ingin berdebat dengannya, jadi dia berbalik untuk mematuhi perintahnya Rosa.
Melihat dia begitu patuh, Rosa naik ke atas dengan senyum sombong.
Rosa akan membuat wanita ini akan melakukan semua pekerjaan yang melelahkan untuknya di masa depan. Sehingga tidak akan ada waktu bagi Karina untuk tampil cantik dan merayu Evan Tanujaya.
Karina mengambil tongkat pel. Tapi, dia tidak menemukan satu pun. Padahal kemarin ada banyak tongkat pel di rumah ini.
Rosa tersenyum puas karena dia sudah menyimpan semua tongkat pel di gudang yang telah dia kunci.
"Ayo cepat kerja!" sembur Rosa.
"Iya."
Karina sendiri tidak peduli. Dibandingkan dengan bertemu Evan Tanujaya, dia lebih suka tinggal jauh dari pria itu selama dia bekerja di vila ini.
Dia bersedia melakukan semua pekerjaan rumah yang berat! Supaya tidak perlu bertemu dengan ayah dari anak-anaknya itu.
Selain itu, rumah ini sangat besar. Dia bisa mengerjakan pekerjaan di sini sepanjang hari.
Pada siang hari, Evan Tanujaya kembali dari kantor dan pergi ke ruang tamu untuk makan siang. Dia tidak biasanya pulang untuk makan siang. Tapi ini dia lakukan sekarang.
Dia melirik ke arah para pelayan yang berdiri di sekelilingnya. Tapi sayangnya dia tidak menemukan apa yang dia cari.
Setelah makan siang, Evan Tanujaya pergi ke samping rumah untuk berjalan-jalan.
Dia bisa melihat sosok yang sibuk dengan baju pelayan yang basah sedang jongkok untuk mengepel lantai. renang dari jauh.
Seragamnya sedikit basah. Nampaknya karena pekerjaan berat yang dia lakukan. Tapi itu tidak mengabaikan sesuatu. Sesuatu yang menggambarkan sosoknya yang sangat cantik.
Evan Tanujaya berjalan mendekat.
Langkah kaki tiba-tiba yang terdengar di belakangnya membuat Karina berbalik karena terkejut.
Karena memang sudah capek setelah harus ngepel berjam-jam, membuat tubuhnya jatuh tersandar ke arah Evan.
Lantai yang licin karena baru di-pel dan punggung Karina yang tiba-tiba jatuh ke arahnya, membebani dirinya membuat Evan jatuh.
Sang tuan muda benar-benar jatuh ke lantai basah hingga membasahi rambut hingga baju dan celananya.
Rosa yang melihat kejadian itu, langsung datang untuk mengangkat Evan, bak pahlawan yang menyelamatkan orang yang harus dia selamatkan.
"Hah?! Maafkan aku!" Karina tersedak. Gugup setelah dia tahu dia telah membuat Evan terjatuh.
Karina jadi sangat ketakutan sehingga wajahnya terlihat gugup.
Evan mengibaskan uluran tangan Rosa dan memilih untuk berdiri sendiri.
Rosa yang merasa diabaikan Evan, menyeka tetesan air di wajahnya dan melotot ke arah Karina. "Saya rasa kamu tidak memenuhi syarat untuk menjadi pelayan di sini!"
Evan Tanujaya berjalan masuk ke dalam rumah dengan ekspresi dingin.
Dia biarkan Rosa berurusan dengan Karina.
Kali ini, Karina jadi gugup. Dia tidak mau dipecat sekarang.
Dia ingin mengirim Juno untuk les piano sekarang ini setelah tahu kalau Juno akan mengikuti kontes. Dia tidak bisa kehilangan pekerjaannya ini.
"Tunggu, aku tidak melakukannya dengan sengaja. Kau membuatku kaget! Itulah yang terjadi. Please." Karina berteriak, berusaha menarik perhatian Evan.
Evan Tanujaya tidak berhenti berjalan. Aura dingin terpancar dari tubuhnya, dan kemarahannya masih terlihat jelas.
"Saya minta maaf. Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi. Saya akan memastikan untuk memperhatikan gerakan di belakang saya. Tolong tenanglah."
Evan Tanujaya masih tidak menoleh ke belakang dan terus berjalan menuju vila.
Rosa yang melihat kesempatan, langsung berteriak memanggil Kepala Pelayan Dono. "Kepala pelayan, usir wanita ini dari sini!"
Dono sudah mendekati Evan Tanujaya dengan handuk, dia tampak prihatin ke arah Karina.
Karina pasrah. Dia mengerti bahwa pemecatan akan menjadi nyata baginya.
Karena itu, Karina tiba-tiba menjadi marah.
Dari sikap pasrah, amarahnya kini meledak.
Enam tahun yang lalu, lelaki ini telah merenggut kesuciannya dan memperkosanya. Sekarang, cuma karena sebuah ketidak sengajaan, dia akan dipecat?
Padahal dia memerlukan uangnya, juga demi anak dari pria ini. Karena itu, amarahnya meledak. Matanya memerah ke arah Evan.
Dia abaikan Rosa dan melotot ke arah Evan.
"Persetan denganmu, Tuan Muda! Kalau begitu, aku berhenti!" Karina melepas celemek putih dari seragam pelayan dan melemparkannya ke arahnya. Emosinya memuncak.