Terlahir dari keluarga besar, delapan bersaudara. Safa sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Selain mandiri, Safa sangat mudah mengulurkan tangannya membantu saudaranya meskipun dia juga pas pasan.
Safa merasa banyak berhutang budi pada keluarganya. Menikah dengan Pramudya merupakan pilihan Safa. Safa merasa sudah saatnya dia harus pergi dari keluarganya. Mencari pekerjaan karena dia yakin Pramudya akan membantunya meningkatkan perekonomian keluarga.
Sebagai laki laki yang lebih dewasa tentunya Pramudya lebih bisa mengarahkan, memberi support pada istrinya. Hal itulah yang membuat Safa menerima pinangan Pramudya saat itu. Ya, Safa akui dia terlalu terburu buru. Dalam benaknya saat ini hanya ada penyesalan. Sungguh dia tidak mengira hubungan rumah tangganya dengan Pramudya akan kandas di tengah jalan. Dan dialah yang meminta untuk memutus ikatan suci itu,bukan Pramudya. Meskipun selama pernikahannya dengan Pramudya, lelaki itu bukanlah tipe lelaki yang kasar. Tetap saja seorang wanita butuh imam yang jelas. Yang mau memimpin jalan makmumnya. Bukan malah lelaki yang membiarkan saja apapun yang terjadi dengan keluargannya.
______________________________
Safa keluar dari kantor pengadilan Agama dengan lega. Setidaknya dia tidak akan terlalu kejam terhadap mantan suaminya, eh calon mantan.
Safa menceritakan semua yang dia rasakan, mengeluarkan semua beban yang dia rasakan. Hingga Bapak Hasan memberikan jawaban yang membuatnya puas. Jika memang pernikahan kalian tidak bisa diteruskan sebaiknya kau menggugatnya secara baik baik nak.
Terngiang kembali kata-kata Pak Hasan yang membuatnya lega. Safa merasa tidak sendiri. Ya.. Safa menggugat Pramudya tanpa ada satupun keluarganya yang tahu. Yang mereka tahu hubungannya dengan Pramudya baik-baik saja. Namun dia harus secepatnya memberitahukan hal itu.
Safa mengarahkan motornya ke arah rumah orangtuanya. Hari ini dia berencana menceritakan semuanya. Safa tidak peduli bagaimana reaksi orangtuanya. Akan tidak baik bila dia merahasiakannya dan nanti orangtuanya tahu dari orang lain.
Pasti rasanya lebih menyakitkan.
"Assalamualaikum... "
"Waalaikumsalam...ealah Safa.. kirain siapa?" Ibu Retno, wanita yang melahirkan Safa keluar menyambut anak bungsunya itu.
"Kamu sama siapa nak?
Pramudya mana?"
"Mas Pramudya keluar kota bu, ada pekerjaan." dusta Safa.
Safa tidak mungkin bercerita bahwa Pramudya tidak pernah pulang ke rumah, lebih suka tinggal di kontrakannya di metropolitan sana daripada bersama anak dan istrinya.
Sekalinya pulang ke rumah, Pramudya dan Safa akan tidur di kamar yang berbeda.
Safa masuk mengiringi ibunya. Duduk di kursi panjang di ruang tamu.
"Bapak mana bu?"
"Bapakmu lagi cari rumput, sebentar lagi juga bapak pulang. Lha mau ngapain lagi sudah tua ya ternak kambing sebagai hiburan, biar rumah ini gak sepi. Ada suara kambing." Jelas ibunya sambil terkekeh pelan.
"Kan ada Randy bu."
Randy adalah anak semata wayang Safa, dia memang memilih tinggal bersama kakek neneknya itu.
"Randy itu sekolah, sorenya ngaji. Kalau malam hari habis makan malam juga tidur. Sepi Fa." Bu Retno mengeluh.
Sebenarnya Safa tidak tega, apalagi melihat kedua orangtuanya yang terlihat semakin tua. Safa tak ingin menambah beban kedua orang tuanya. Tapi apa mau di kata. Kejujuran itu adanya di awal, kalau di akhir namanya bukan kejujuran tapi sudah kehabisan alasan hingga akhirnya bicara yang sebenarnya.
Dan benar saja apa yang dikatakan ibunya. Bapaknya ternyata memang sudah pulang. Hanya saja tadi sibuk memberi makan kambingnya. Barulah setelah mandi Bapak masuk ke rumah.
"Lah.. itu nak bapakmu udah pulang."
"Ada tamu to, dari jauh lagi." Seperti biasa bapak pasti akan meledek Safa kalau Safa pulang ke rumah itu.
"Iya pak, itu tadi Safa datang langsung menanyakan bapak. " bu Retno yang menjawab sembari menuangkan teh pahit kesukaan bapak.
"Ada apa nduk? ga biasanya menanyakan bapak. Kangen ya?"
Safa mengangguk.
Mereka asyik mengobrol. Safa bingung harus bagaimana memulai pembicaraan.
Jadi dia hanya mengobrol seperti biasa dengan orangtuanya.
"Apakah kamu mau berhenti kerja nduk?Bapak lihat akhir akhir ini kamu kelihatan kelelahan. Apa Randy sudah mau punya adik?" tanya bapak.
"Sebelumnya Safa minta maaf pak,bu. Sebenarnya Safa ke sini ada yang ingin Safa sampaikan sama bapak dan ibu."
Ibunya mengernyit bingung. Sementara Bapak tampak tenang dan bertanya.
'Ada apa nduk?"
Safa terlihat ragu. Tak bisa membayangkan bagaimana reaksi kedua orangtuanya setelah ini. Menghela nafas,menautkan kedua tangannya tampak sekali Safa sangat gugup.
"Katakanlah nak, jangan takut. Kami ini orangtuamu. Tak ada yang namanya mantan anak. Kalaupun kamu membuat kesalahan mari kita cari solusinya bersama sama."
Safa mengangguk mendengar ucapan bapaknya. Dengan lirih dengan berkata tentang kenyataan yang sekarang terjadi dalam biduk rumah tangganya.
"Mafkan Safa pak , bu jika keputusan Safa ini mengecewakan bapak sama ibu."
Safa menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan ucapannya. Mengumpul seluruh keberaniannya.
"Safa mau bercerai pak,
Safa sudah mengajukan gugatan ke pengadilan agama tadi siang."
Jedder.....