Orion menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Di sana Gyanetta terlihat segar di dalam balutan gaun tidurnya. Rambutnya yang masih setengah basah, pipinya yang bersemu kemerah-merahan karena mandi pakai air hangat, dan aroma sabun yang masih menempel di wajahnya. Ketiga hal itu menjadi hal yang secara perlahan mulai Orion terima sebagai runititas. “Nyaman sekali.” Gyanetta mendesah lega ketika akhirnya bisa merebahkan tubuh di atas kasur. Secara naluriah Gyanetta langsung memeluk tubuh Orion dan menyandarkan pipinya pada dadda sang suami. Samar-samar Gyanetta dapat mendengar suara detak jantung Orion yang cepat. “Aku jadi ngantuk.” Orion yang juga sudah terbiasa dengan kontak fisik itu langsung melarikan satu tangannya yang bebas untuk memainkan rambut Gyanetta setelah sebelumnya

