Di antara kepulan asap berbau bumbu nasi goreng, ramainya pemuda dan pemudi disana, juga hilir di jalan raya yang tak ada sepi-sepinya padahal ini hampir menginjak tengah melam pukul dua belas dini hari, Jeri memutuskan untuk berhenti di warung tenda berwarna hijau karena malas berjalan kaki lebih jauh ke restoran makanan cepat saji. Kana bagian mengangguk saja. Lebih bersyukur jika Jeri berhenti disana karena piyamanya tak mendukung untuk masuk ke restoran besar. Jakarta semakin hidup kala semakin malam memang benar adanya. Malam ini, Kana yang dibalut jaket dan Jeri yang dibalut hoodie, duduk di antara remaja yang sedang dimabuk cinta. Jeri tak mengerti mengapa mereka memilih pacaran di tempat seperti ini bukannya di kafe atau restora sepertin pasangan-pasangan umum lainnya. Ia melirik

