05. Hilang

1099 Words
Ira mengerutkan keningnya sambil memicingkan mata ke arah Bian. “Apaan si lo? Orang gue lagi ngobrol sama suster juga. Geer banget,” cibir Ira. Kemudian ia merangkul lengan suster dan mengajaknya tetap berlalu dari hadapan Bian. “Emangnya gue gak tau? Siapa lagi yang pendatang yang lo maksud kalau bukan gue?” tanya Bian, meski Ira sudah meninggalkannya. Ira tidak menjawab, ia malah mengacungkan ibu jarinya. Kemudian membalik ibu jari tersebut ke bawah. Sontak saja Bian semakin kesal padanya. “Sialan! Awas aja, tunggu pembalasan gue,” gumam Bian, kesal. Anak buah Bian bingung melihat komandannya seperti itu. Sebab tidak biasanya Bian begitu. Kali ini mereka seolah melihat Bian tak berwibawa sama sekali. “Komandan kenapa, sih?” bisik anak buah Bian pada temannya. “Gak tau tuh! Kayaknya gak pernah akur sama dokter Ira, deh.” “Apa mereka pernah pacaran terus putus, ya?” “Atau jangan-jangan Komandan pernah ditolak?” Mereka sibuk berasumsi sendiri. Sebab mereka bingung mengapa Bian bisa sebegitu bencinya pada Ira. “Ehem!” Bian berdehem karena mendengar namanya disebut. Namun ia tidak dapat mendengar dengan jelas apa pembicaraan mereka. “Hehehe, Ndan. Kenapa kayaknya kok agak kurang akur sama dokter Ira, ya?” tanya anak buah Bian, kikuk. Bian tidak menjawabnya. “Apa Komandan dan Dokter Ira pernah punya hubungan?” Sontak Bian langsung menoleh. “Jangan sembarangan kamu! Mana mungkin aku memiliki hubungan dengan wanita bar-bar seperti dia?” tanya Bian, kesal. Ia tidak terima dituduh pernah memiliki hubungan dengan Ira. Padahal sebentar lagi mereka memang akan memiliki hubungan. “Kirain, Ndan. Soalnya kelihatan cocok banget,” ledek anak buah Bian. “Matamu meledak! Cocok dari mananya?” Bian sangat kesal jika disandingkan dengan Ira. Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di rumah kepala desa. Mereka pun langsung disuruh makan oleh istri dari kepala desa. “Ayo silakan, makan dulu! Jangan malu-malu,” ucap istri kepala desa. Ia paling senang menjamu orang lain. Melihat Ira mengambil makanan, Bian berpikir keras bagaimana caranya membalas Ira yang sudah mencibirnya itu. “Awas lo, ya!” gumam Bian. Kemudian ia mengambil makanan saat Ira sudah duduk. Setelah mengambil makanan, Bian mencari kursi. Namun sayang, hanya ada tiga kursi yang kosong yaitu di samping Ira. Melihat hal itu, anak buah Bian pun tersenyum. Mereka berlari kecil untuk mengisi dua kursi paling ujung agar Bian bisa duduk sebelahan dengan Ira. “Heh!” tegur Bian. Namun mereka tak mengindahkannya. “Ah, sial! Kenapa harus di samping dia, sih?” keluh Bian. Mau tidak mau ia duduk di samping Ira. Saat Bian mendaratkan tubuhnya di kursi, Ira langsung bergeser dan memunggungi Bian. Sontak saja Bian pun melakukan hal yang sama. Ia tidak pernah mau kalah dari Ira. “Mereka kayak suami istri lagi marahan, ya?” bisik anak buah Bian. Plak! Bian menepuk punggungnya. “Bicara apa, kamu?” tanyanya dengan suara baritone yang sedikit menggema. Sebenarnya suara Bian sangat macho dan membuat siapa pun yang mendengarnya akan terkesima. Namun hal itu tidak berlaku bagi Ira. Ia malah kesal setiap kali mendengar suara Bian. Sebab hal itu membuatnya teringat akan kejadian hari pertama ia datang ke tempat tersebut. “Sus! Bisa tuker tempat duduknya, gak? Di sini gerah. Ada hawa-hawa jin,” ucap Ira. Bian mengepalkan tangannya. Ia sangat yakin bahwa yang Ira maksud adalah dirinya. Namun kali ini Bian tidak ingin terpancing. Sebab nanti Ira bisa mengelak dan mempermalukannya lagi seperti tadi. “Maaf, Dok. Saya gak boleh duduk di samping laki-laki sama suami saya,” jawab Suster. Sontak saja Bian langsung tergelak. “Hahaha! Emang enak duduk deket jin!” ucapnya. Ia sangat puas melihat Ira tidak bisa mendapatkan keinginannya. “Maksud lo apa?” tanya Ira sambil menoleh ke arah Bian. Bian pun mengabaikan Ira. Momen ini ia jadikan sebagai kesempatan untuk membalas Ira. Kesal diabaikan oleh Bian, Ira pun berdiri di hadapan pria itu. “Maksud lo apa ngatain gue?” tanya Ira. Ia lupa bahwa dirinya yang lebih dulu mengatai Bian. “Lo ngomong sama gue?” skak Bian. Wajah Ira merah padam. “Dasar tentara gila!” cibir Ira. Ia menaruh piring yang dipegang. Kemudian meninggalkan tempat itu. “Sus, aku duluan!” ucap Ira. Lalu ia pamit pada kepala desa dan juga istrinya. “Syukurlah si rese udah pergi,” gumam Bian sambil tersenyum. “Komandan sedih ya? Ditinggal dokter Ira,” ledek anak buah Bian. “Sudah bosan hidup kamu, ya?” tanya Bian, kesal. Mana mungkin ia bersedih. Justru kepergian Ira membuatnya senang. Siang itu mereka semua sedang sibuk menikmati jamuan makan. Sehingga mereka lengah akan kemanan. Hingga terdengar suara teriakan yang cukup jauh. “Aaaaa!” pekik seorang wanita. Suaranya tidak asing bagi Bian karena ia sering berdebat dengan wanita itu. Ya, dia adalah Ira. Saat Ira berjalan menuju rumah dinasnya, jalanan sangat sepi. Sehingga memudahkan penjahat untuk menculiknya. Bian dan yang lain langsung menoleh. “Dokter Ira!” ucap anak buah Bian. “Hah?” Bian sangat terkejut. Rasanya jantungnya hampir lepas saat menyadari bahwa itu adalah teriakan Ira. Meski ia selalu kesal padanya. Namun bukan berarti Bian tega membiarkan Ira dalam bahaya. Sebagai aparat keamanan, Bian memiliki rasa tanggung jawab untuk menyelamatkan Ira. Sama halnya dengan Ira yang rela menolong Bian saat sedang sakit. Bian pun melempar piringnya dan langsung melompat. Ia berlari ke arah sumber suara. Dibuntuti oleh anak buahnya. Bahkan mereka tidak sempat minum karena saking shocknya. Sementara itu, Ira sedang ditarik oleh beberapa pria untuk ikut masuk ke dalam hutan. “Tolooongg! Toloongg!” teriak Ira. Telinga Bian seolah bergerak saat mendengar suara Ira. Instingnya pun dapat menangkap dari mana arah sumber suara itu. Bian seperti harimau yang sedang berlari. Larinya sangat cepat. Tatapan matanya pun tajam. Seolah siap untuk menerkam siapa pun yang berani mengganggu keamanan wilayah tersebut. “Toloongg! Toloongg!” Ira masih terus meminta tolong. Sebab ia sangat ketakutan melihat orang-orang asing itu. Hingga akhirnya orang yang menarik Ira tersebut memukulnya sampai pingsan. Bug! Seketika Ira pun langsung tak sadarkan diri dan digendong oleh mereka menuju markas yang ada di tengah hutan. “Kenapa suaranya hilang?” gumam Bian sambil menghentikan langkahnya. Ia sudah tidak dapat mendengar suara Ira lagi. Huuh! Huuh! Huuh! “Lebih baik kita kembali ke markas dulu, Ndan! Ini sangat berbahaya,” ucap anak buah Bian dengan napas terengah-engah. “Tapi bagaimana dengan dia? Ini bisa berakibat fatal,” ucap Bian. Ia akan menyesal jika tidak bisa menyelamatkan Ira. Sebab wilayah itu merupakan tanggung jawabnya. “Tapi kita tidak mungkin mendekat ke markas mereka dengan tangan kosong, Ndan. Apalagi kita hanya bertiga,” ucap anak buah Bian lagi. Namun, tiba-tiba terdengar saura tembakan. Dor!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD