Meski sadar bahwa Intan sudah menikah. Namun Bian tidak terima jika Intan digantikan oleh dokter seperti Ira.
Ia tidak sadar bahwa Ira adalah wanita yang telah menerima bucket bunga yang ia lempar tempo hari. Malam itu penampilan Ira berbeda dengan sekarang. Sebab saat ini Ira tidak memakai riasan apa pun. Sehingga wajahnya sangat natural.
Bian pun berlalu begitu saja. Ia hendak kembali ke markas karena ingin melampiaskan emosinya dengan cara berolah raga.
Sementara itu Ira baru saja tiba di rumah dinas yang akan ia tempati.
Tuk! Tuk! Tuk!
Ira mengetuk pintu rumah yang sangat sederhana itu.
Tak lama kemudian, pintunya pun terbuka.
Ceklek!
“Hem … ini dia, nih! Cakep, ya … ngorbanin adik sendiri buat tinggal di perbatasan. Kakak macam apa, Anda?” Ira langsung menyambar.
Sementara itu, Zein yang membuka pintu masih terkejut dengan kedatangan Ira. Namun melihat reaksi Ira, ia dapat menebak bahwa adiknya itu datang ke perbatasan untuk menggantikan istrinya.
“Kok kamu ada di sini?” tanya Zein sambil tersenyum lebar.
Melihat kakanya tersenyum, Ira semakin kesal. “Seneng banget ya, Bang? Lihat adiknya menderita,” ucap Ira, kesal.
“Hehehe, senenglah. Yang penting kan istriku bisa pulang dan kami gak LDM-an lagi,” jawab Zein.
Hidung Ira kembang kempis. Ia semakin kesal pada kakaknya itu. “Oke, kalau begitu aku telepon papah sekarang biar semuanya batal. Aku gak mau nolongin kalian lagi!” ancam Ira sambil mengambil ponselnya.
Zein pun panik. Ia langsung mengambil ponsel Ira dan mengajaknya masuk. “Udah, jangan ambekan begitu, ah! Mendingan kita masuk dulu, yuk!” ajak Zein.
“Gitu kek dari tadi! Adiknya datang dari jauh bukan disambut malah dibikin kesel,” ucap Ira sambil berjalan masuk dan duduk di ruang tamu.
Zein menarik koper Ira, lalu ia pun duduk di sebelah istrinya lagi.
“Ra, kamu jangan mual, ya,” ucap Zein.
Ira mengerutkan keningnya. “Why?” tanyanya.
Zein tersenyum. Kemudian ia menyuapi istrinya itu menggunakan tangannya sendiri.
Bola mata Ira langsung memutar dan ia memalingkan wajah. “Huweekk!” Ira pura-pura muntah karena kesal melihat keromantisan kakaknya itu. “Jijaaayy!” ucapnya.
“Hehehe, kan udah aku kasih peringatan, tadi,” ucap Zein.
“Oh iya. Ngapain tadi kamu boikot helikopter yang aku pesen? Ngeselin banget sih jadi orang?” Ira protes.
“Oh, itu heli pesanan kamu? Ya maaf, namanya juga lagi buru-buru,” sahut Zein, santai.
Ira mengambil bantal dan langsung memukuli Zein. “Hiiihh! Nyebelin banget, sih. Harusnya kamu tuh jangan begitu dong, Bang! Padahal kan bisa kita naik berdua. Dasar, rese!”
“Ya mana aku tau? Lagian kamu juga datangnya lama. Yang penting sekarang udah nyampe sini, kan?”
Ira geleng-geleng kepala karena melihat kelakukan abangnya itu. Mereka pun berbincang, sambil sharing mengenai tinggal di perbatasan.
Malam hari, Zein dan Intan sudah pamit. Mereka hendak pulang ke Jakarta. Sebab sudah ada Ira yang menggantikan Intan di sana.
“Duh, sepi banget, ya. Apa gue betah tinggal di tempat kayak gini dalam waktu yang lama?” gumam Ira.
Ia yang biasa tinggal di kota besar itu tentu merasa sangat berat saat harus tinggal di perbatasan tanpa seorang teman pun.
“Kalau ada teman kan seenggaknya gue bisa ngobrol atau sharing apa kek gitu. Lha ini? Ya ampun, masa gue ngobrol sama jangkrik?” keluh Ira.
Memang suara jangkrik terdengar begitu nyaring. Saking sepinya, bahkan suara angin pun bisa terdengar oleh telinga Ira.
“Hem … bentar lagi lampunya mau mati. Mendingan gue tidur, deh. Biar gak gelap-gelapan,” gumam Ira. Ia pun bersiap untuk istirahat.
Saat Ira hendak naik ke tempat tidur, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh orang.
Tuk, tuk, tuk!
Orang itu meengetuk pintu dengan sangat cepat.
Ira langsung melirik. “Siapa ya malam-malam begini datang ke rumah ini?” gumam Ira. Ia sedikit takut dan khawatir.
“Dok, tolong saya. Komandan saya sedang sakit. Butuh bantuan,” teriak orang itu.
Ira mengembuskan napas. Mendengar suara orang itu membuat Ira yakin bahwa ia memang membutuhkan bantuan.
Akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintunya.
Ceklek!
“Ya?” tanya Ira.
“Dok, tolong komandan saya pingsan,” ucap pria yang memiliki perawakan seperti anggota TNI itu. Ia terlihat panik.
“Pingsan kenapa?” tanya Ira lagi.
“Sepertinya dia kelelahan. Tadi dia berolah raga selama kurang lebih 4 jam,” jawab pria itu.
“Hah, 4 jam?” Ira sangat terkejut mendengarnya.
“Iya, Dok. Tolong kami!” pinta orang itu.
“Ya udah, tunggu sebentar!” Ira masuk ke dalam untuk mengambil jaketnya. Sebab udara di luar cukup dingin. Tak lupa ia mengambil tas medis miliknya. Setelah itu mereka pun pergi menuju markas.
Ira dibonceng menggunakan motor dinas yang dibawa oleh pria itu. Suasana jalanan malam di wilayah tersebut sangat gelap dan horor. Membuat Ira sedikit merinding ketakutan.
‘Ya ampun, perjuangan jadi dokter di perbatasan kok gini banget, ya?’ batin Ira. Bahkan ia tidak berani menoleh karena khawatir ada sesuatu yang ia lihat.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di markas. Pria itu pun segera mengantar Ira ke kamar komandannya.
“Mari!” ajaknya. Mereka masuk ke sebuah kamar. Di kamar itu sudah terdapat beberapa orang anak buah dari komandan tersebut.
“Mana pasiennya?” tanya Ira saat sudah berada di kamar itu.
Sebenarnya Ira merasa ngeri masuk ke kamar pria seperti itu. Apalagi di dalam sana ada beberapa pria yang tentu tidak ia kenal.
Namun, sebagai dokter, Ira harus profesional. Sehingga ia berusaha membuang jauh rasa malu itu.
“Ini, Dok!” ucap salah satu pria yang ada di dalam sana.
Ira menoleh ke arah yang ditunjuk dan ternyata pasien itu adalah Bian. “Hah? Jadi dia pasiennya?” Ira sangat terkejut saat menyadari bahwa Bian-lah yang akan menjadi pasiennya.
“Silakan, Dok!” ucap anak buah Bian. Secara tidak langsung ia memberi kode pada Ira agar segera memeriksa bosnya.
“Kalau aja aku gak ingat sama sumpah dokterku. Aku gak akan sudi buat ngerawat dia,” gumam Ira. Ia terpaksa memeriksa Bian meski hatinya masih kesal pada pria itu.
Ira pun duduk di samping Bian dan memeriksa kondisinya dengan seksama. Mulai dari tekanan darah, detak jantung dan lain sebagainya.
“Sepertinya pasien dehidrasi. Jadi harus segera diinfus. Apa di sini ada stock cairan infusan?” tanya Ira.
“Ada, Dok,” sahut anak buah Bian.
“Kalau begitu tolong ambilkan alat infusan beserta cairannya! Supaya pasien bisa segera mendapat cairan,” pinta Ira.
“Baik, Dok. Biar saya yang ambil,” ucap salah satu anak buah Bian yang kebetulan sedikit paham mengenai hal itu. Ia pun langsung meninggalkan tempat tersebut.
Sambil menunggu, Ira melirik ke arah Bian. ‘Cih! Kalau lagi begini gak bisa apa-apa kan, lo? Makanya jangan jutek jadi orang. Gak malu apa minta tolong sama orang yang udah dijutekin?’ batin Ira sambil memicingkan matanya ke arah
Ia selalu emosi jika melihat Bian. Entah bagaimana reaksinya jika mengetahui bahwa orang tuanya telah menjodohkan mereka.
“Ini, Dok!” ucap anak buah Bian setelah kembali dan memberikan alat infusan pada Ira.
“Oke, terima kasih,” sahut Ira. “Tolong sediakan alat untuk menggantung infusan ini!” pinta Ira.
Setelah itu ia memasang infusan di tangan Bian yang sampai saat ini masih belum siuman.
Ira kesulitan menemukan pembuluh darah Bian karena kondisi pria itu sudah dehidrasi. Akhirnya ia harus menusuk tangan Bian beberapa kali sampai meninggalkan bekas.
“Kenapa seperti itu, Dok?” tanya anak buah Bian.
“Kalau dehidrasi memang seperti ini. Sulit untuk menemukan pembuluh darah karena darah mengandung 50% air,” jelas Ira.
Anak buah Bian manggut-manggut meski sebenarnya mereka kurang begitu paham.
Ira mengatur aliran infusan Bian. “Ini sengaja saya ‘siram’ supaya tubuhnya bisa terhidrasi dengan cepat. Tolong dipantau! Jika kantung infusannya hampir habis, segera ganti dengan yang baru. Saya pun akan memberikan serum vitamin agar pemulihannya lebih cepat,” jelas Ira.
Ia mengambil serum yang ada di tasnya. Kemudian menyuntikkannya ke kantong infusan.
“Baik, Dok!” jawab mereka.
“Oke, kalau begitu saya pamit. Jika ada apa-apa, silakan panggil saya lagi!” ujar Ira.
Ia pun pulang, diantar oleh anak buah Bian.
Setibanya di rumah, Ira langsung ganti pakaian dan beristirahat. Sebab ia sudah cukup lelah karena hari pun sudah malam.
Keesokan harinya, Ira berangkat kerja lebih awal karena ia harus mengontrol kondisi Bian.
“Selamat pagi!” sapa Ira saat melewati pos yang ada di gerbang.
“Pagi!” sahut para penjaga pos. Mereka sudah diberi tahu oleh anak buah Bian bahwa Ira akan datang untuk memeriksa komandannya itu.
“Pagi, Dok!” sapa mereka yang berdiri di luar ruangan Bian.
“Pagi!” sahut Ira.
“Silakan masuk, Dok!” ujar mereka.
Ira pun masuk, untuk memeriksa kondisi pria itu. “Bagaimana kondisinya?” tanya Ira pada anak buah Bian yang baru saja hendak keluar dari ruangan itu.
“Sudah membaik, Dok. Tadi sempat siuman, tapi sekarang sedang tidur,” jawab anak buah Bian.
“Syukurlah kalau begitu,” ujar Ira. Ia senang karena Bian sedang tidur. Baginya, lebih baik tidak bertemu Bian dalam kondisi sadar. Sebab itu pasti akan sangat menyebalkan.
Ira pun mulai memeriksa kondisi Bian. Ia memasang stetoskop di telinganya. Kemudian hendak mengarahkan kepala alat itu ke d**a Bian.
Namun Ira dibuat terperanjat saat tangan Bian tiba-tiba menggenggam tangannya.
Greb!
“Astaga!” ucap Ira, kaget.
“Sedang apa, kamu?” tanya Bian sambil memelototi Ira. Ia masih ingat betul bahwa Ira adalah wanita menyebalkan yang berani memarahinya.
Melihat reaksi Bian, Ira pun tidak kalah kesal darinya.
“Saya datang ke sini hanya untuk memeriksa orang gila yang pingsan karena berolah raga selama 4 jam,” jawab Ira sambil menatap tajam mata Bian.
“Saya tidak butuh bantuan kamu. Lebih baik kamu pergi dari sini!” ucap Bian sambil melempar tangan Ira.
Ira terkesiap. Ia tidak menyangka ternyata Bian lebih keras kepala dari yang ia pikirkan. “Tapi kamu belum pulih betul. Sebagai dokter yang menangani kamu, saya bertanggung jawab atas kesembuhanmu,” ucap Ira.
Ia berusaha untuk bertanggung jawab atas tugasnya sebagai dokter.
“Saya bisa sendiri. Saya minta sekarang juga kamu pergi dari sini!” bentak Bian. Setiap kali melihat Ira, Bian merasa kesal sekaligus sakit hati. Sebab gadis itu mengingatkannya pada Intan.
“Oke! Ini kemauan kamu. Saya tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu,” ucap Ira. Kemudian ia pun bangkit dan meninggalkan kamar tersebut.
Melihat Ira keluar, anak buah Bian pun menyapanya. “Bagaimana, Dok?” tanya mereka.
Brug!
Bukannya menjawab. Ira malah membanting pintu. “Bukan urusan saya!” ucap Ira, ketus.
“Wooww!” Mereka terperanjat. Lalu mereka masuk ke kamar Bian saat Ira sudah pergi.
“Ndan, kenapa dokternya pergi begitu saja?” tanya anak buah Bian saat masuk ke kamar itu.
“Kenapa kalian memanggil dia? Saya tidak butuh bantuan dia!” ucap Bian, emosi.
“Tapi kemarin Komandan pingsan. Kami khawatir terjadi sesuatu pada Komandan, makanya kami minta tolong dokter Ira,” jelas mereka.
“Memangnya di markas kita tidak ada dokter?” tanya Bian. Ia baru datang ke perbatasan lagi. Sehingga Bian tidak tahu bahwa di markas mereka tidak ada dokter.
“Memang tidak ada, Ndan. Jadi mau tidak mau kita minta bantuan dokter desa jika terjadi sesuatu,” jawab mereka.
Bian memejamkan mata karena terlalu kesal. Kemudian ia memijat kepala dan menyadari bahwa tangannya masih diinfus.
“Jika dokter itu sudah tidak mau menangani Komandan lagi, lalu bagaimana dengan itu?” tanya anak buah Bian.
Bian langsung duduk dan menyabut jarum infusan begitu saja. Hingga akhirnya darah Bian mengalir deras.
“Ndan!” Anak buah Bian pun panik.
“Sial!” desis Bian. Ia berusaha menekan darahnya agar tidak mengalir deras.
“Tolong ambil kasa. Cepat!” pinta Bian dengan sedikit menyentak.
“Baik, Ndan!” Anak buah Bian pun berlari untuk mengambil kasa.
Sementara itu Ira berjalan menuju klinik sambil bersungut-sungut. Ia sangat geram karena Bian sudah keterlaluan padanya.
“Awas aja kalau sampe dia minta tolong lagi. Gue bersumpah gak akan pernah mau nolongin dia meskipun dia sekarat,” ucap Ira, kesal. Ia sesumbar karena yakin dirinya tidak akan kasihan pada Bian yang menyebalkan itu.
“Sial! Hari kedua, lagi-lagi dibikin bad mood sama itu orang. Dasar bujang lapuk!” cibir Ira. Ia yakin Bian masih bujangan karena melihat dari kamarnya tidak ada foto keluarga.
Beberapa saat kemudian Ira sudah tiba di klinik. Ia pun mulai melakukan aktifitas seperti biasa.
Ira sangat senang menangani pasien di sana. Sebab pasiennya ramah-ramah. Sehingga Ira merasa suasananya sangat kekeluargaan.
Saat Ira sedang sibuk memeriksa, tiba-tiba Bian muncul dengan tatapan yang tidak bersahabat.
Melihat Bian datang, Ira pun malas meladeninya. Ia hanya memicingkan mata sekilas, kemudian memanggil pasien berikutnya.
“Kamu aja yang urus!” ucap Ira pada suster yang mendampinginya.
“Saya datang ke sini karena ingin minta pertanggung jawaban dari kamu!” ucap Bian, ketus.