Vonis Tanpa Pengadilan

1121 Words

Seharian itu, beban terasa kian menindih hati Keyli. Setiap kata yang Leonor ucapkan pagi tadi, meski terdengar tenang, menusuknya seperti serpihan es. Keyli tahu Leonor bukan pria bodoh; ia yang sekarang sudah menyadari bahwa Keyli bukanlah Hazel. Sikap dingin itu tak lain adalah tameng pelindung diri Leonor, sekaligus teguran tanpa suara. Sore harinya, Keyli tak bisa menunda lagi. Ia harus memberanikan diri, berbicara jujur pada Leonor, dan setidaknya meminta maaf atas penyamaran ini. Perlahan, ia menyusuri koridor menuju ruang kerja Leonor. Jantungnya berdegup kencang, setiap langkah terasa berat, seolah membawa beban ribuan ton. Di ambang pintu ruang kerja Leonor, tangannya terangkat ragu. Haruskah ia mengetuk? Akhirnya, ia memberanikan diri, mengetuk pelan. "Masuk," suara Leonor

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD