Dikerjain

1369 Words
Sepanjang perjalanan di koridor menuju ruangan Granat, semua orang memandangi Ayriszya. Para gadis-gadis itu iri sekali dengan Ayriszya yang bisa jalan berdampingan dengan dosen baru tampan rupawan. Namun Ayriszya Salsabila tidaklah bangga bisa berjalan berdua dengan dosennya tersebut. Karena ia sudah terlanjur dendam kepada Granat Azeriyo. “Silakan masuk,” ajak Granat setelah mereka sampai di depan ruang kerja pria itu. “Masuk,” lirih Ayriszya. Awalnya wanita itu hanya memandangi Granat, dia takut jika dosennya tersebut akan melakukan hal aneh lagi kepada dirinya. “Masuk, Ay.” Lagi-lagi Ayriszya terpesona ketika Granat menampilkan senyumannya, saat gadis berwajah cantik itu sudah masuk ke dalam ruangan, buru-buru Granat menutup pintunya dan memeluk Ayriszya dari belakang. Secara otomatis Ayriszya pasti kaget mendapatkan perlakuan terhadapnya. “Bapak tau tidak. Kalau ada yang lihat kelakuan Bapak ini. Reputasi Bapak sebagai dosen bisa hancur,” ucap Ayriszya yang kini membalikkan badannya menghadap Granat Azeriyo. Kemudian Ayriszya meletakkan semua barang-barang dosennya di meja. Granat menggenggam lengan gadis itu, dia pun melangkah kearah tempat duduknya. Dengan terpaksa gadis itu pun juga ikut melangkah. “Duduk di sini,” ucap Granat menepuk pahanya setelah dia duduk di kursi kerjanya. “Duduk di mana?” tanya Ayriszya. “Di sini,” jawab Granat Azeriyo kembali menepuk-nepuk bagian pahanya. “Saya tidak mau,” tolak Ayriszya. “Lepasin tangan saya, Pak.” “Duduk,” perintah Granat yang langsung menarik gadis itu. Ayriszya pun terduduk di paha laki-laki itu. Dia merasa takut bercampur kaget. Sedangkan Granat terus-terusan melemparkan senyuman kepada dirinya. “Mau bapak apa?” tanya Ayriszya. Saat dia hendak berdiri, lagi dan lagi Granat menahan tubuhnya. “Apa kamu tidak bisa mengubah nama panggilan itu terhadap saya. Tidak ada siapa-siapa di sini, kamu tidak perlu memanggil saya dengan sebutan itu.” “Tapi Bapak ‘kan memang dosen saya ... Saya cuma ingin sopan aja,” ungkap Ayriszya. Granat menyingkirkan beberapa helaian rambut Ayriszya yang mengenai wajahnya. “Kamu tidak perlu sopan kepada saya. Saya lebih suka jika kamu agresif terhadap saya,” ucapnya membelai rambut gadis itu. “Jawab pertanyaan saya tadi, Pak. Mau Bapak apa?” “Saya akan jawab pertanyaan kamu. Kalau kamu mengubah nama panggilan itu kepada saya.” Granat meraih beberapa helaian rambut gadis itu dan mencium aromanya. “Wangi,” ucapnya tersenyum menatap Ayriszya. Ayriszya merasa sudah tidak nyaman lagi, kembali dia hendak beranjak dari tempatnya saat ini. Namun Granat malah merangkul pinggangnya. “Jangan kemana-kemana cantik. Duduk di sini aja.” “Saya mohon, Pak. Lepasin saya.” “Jangan panggil saya itu,” ucap Granat. “Saya tidak tau Pak, apa panggilan yang cocok untuk Bapak.” “Pikirkan sejenak, baby.” “Sugar Daddy?” Ayriszya menaikkan sebelah alisnya. “Saya bukan om-om,” ketus Granat. “Lagi pula umur saya masih muda.” “Terus saya harus panggil Bapak apa?” tanyanya lagi. “Nama Bapak Granat Azeriyo?” Ayriszya memandang laki-laki itu. “Saya baru satu kali menyebutkan nama itu. Tapi kamu sudah mengingatnya.” Granat tersenyum menatap wajah Ayriszya. “Semoga kamu akan selalu mengingat saya.” Ayriszya menelan salivanya, dia juga tidak tau kenapa nama pria itu sangat mudah ia ingat. “Azer ... Apa ada orang yang memanggil bapak dengan sebutan itu?” tanya Ayriszya. “Hmmm ... Azer, saya suka dengan sebutan baru itu,” ucap Granat yang langsung melingkarkan tangannya di pinggang perempuan itu. “Yaudah, sekarang lepaskan saya.” “Saya tidak mau.” Tok! Tok! Tok! “Permisi,” ucap seseorang setelah mengetuk pintu. Keduanya sama-sama menoleh kearah pintu, Granat kaget karena pintu tersebut tidak dikunci. Sedangkan Ayriszya tersenyum lebar, ia merasa dirinya akan segera bebas dari rangkulan Granat. Siapa sangka Granat Azeriyo segera menurunkan Ayriszya dari pangkuannya, dan dia mendorong tubuh Ayriszya untuk bersembunyi di kolong bawah meja. “Eh, ngapain?” tanya Ayriszya. “Diam!” “Azer!” “Ssst ...” “Iiih, nggak mau.” “Diam atau saya lecehkan kamu.” Granat mendorong tubuh Ayriszya untuk segera bersembunyi di bawah meja. Dia takut jika orang yang datang itu melihat ada mahasiswi di dalam ruangannya, apalagi dengan posisi yang seperti tadi. “Masuk,” ucapnya kepada orang yang diluar. Salah satu dosen pun masuk ke dalam ruangan itu. Ayriszya sama sekali tidak tau siapa dosen yang sedang berbicara dengan Granat. Dari suara yang dia dengar, Ayriszy hanya tau jika dosen itu adalah laki-laki. “Bapak ‘kan masih muda. Kalau misalkan ada mahasiswa yang banyak tingkah terhadap Bapak. Bisa langsung lapor ke kami,” ucap pria itu. “Kami tidak mau jika nantinya, bapak malah tidak nyaman bekerja di sini.” Granat tersenyum simpul. “Saya sangat senang, pak. Banyak mahasiswa yang menyapa saya. Saya rasa tidak akan ada yang membuat saya tidak nyaman di sini.” Saat kedua dosen itu sedang mengobrol tentang masalah perkuliahan, Ayriszya memiliki ide di kepalannya untuk mengerjai pria itu. “Tadi lo yang kerjain gue ... Sekarang keadaan berpihak sama gue,” lirih Ayriszya pelan. Gadis itu pun meletakkan telapak tangannya tepat di paha Granat. Pria itu langsung kaget sekaligus melenguh saat tangan lembut gadis itu membelainya. “Huuuh ...” “Kenapa? Bapak baik-baik saja?” tanya dosen yang sedang mengobrol dengan Granat. “Saya baik-baik saja,” ucapnya mencoba menetralkan napasnya. Sedangkan di bawah sana Ayriszya melancarkan aksinya, dia sangat senang bisa mengerjai laki-laki itu. Granat menatap kebawah, dia sudah melihat jika gadis itu mendongak keatas sambil tersenyum menatap dirinya. Granat Azeriyo menggelengkan kepalanya berharap jika Ayriszya akan berhenti mengerjainya. Namun sayangnya Ayriszya tida mau mendengarkan pria itu dan terus melakukan hal yang sama pada paha Granat. “Jadi bagaimana dengan hari ini, Pak? Apa ada kendala?” “Sama sekali tidak ... Mahasiswa di sini sangat suka berinteraksi dengan dosen, saya suka itu.” “Huuuh ...” “Bapak kenapa?” tanya laki-laki yang sedang mengobrol dengan Granat. Pria itu hanya tersenyum saja, berulang kali Ayriszya mengusap-usap paha Granat, sampai akhirnya Granat menurunkan sebelah tangannya. Karena pergelangan tangan Ayriszya sangat kecil, dia bisa menggenggam kedua lengan tangan gadis itu dengan satu telapak tangannya saja. Ayriszya mencoba untuk melepaskan genggaman Granat, namun dia sama sekali tidak bisa lepas dari pria itu. “Banyak sekali mahasiswi yang membicarakan bapak. Saya sampai kagum.” “Bapak bisa aja,” gumam Granat. Tiba-tiba saja ada satu ide lagi yang melintas di pikiran Ayriszya. Dia pun mendekatkan mulutnya ke tangan besar yang sedang menggenggam lengannya. Beberapa detik kemudian, Ayriszya menggigit punggung tangan Granat. “Aw!” lirih Granat di sela-sela saat sedang mengobrol dengan lawan bicara. “Kenapa, Pak? Ada masalah?” “Enggak, Pak. Tangan saya ke jepit,” jawabnya. Setelah Ayriszya terlepas dari pria itu. Lagi-lagi dia melakukan aksinya seperti tadi, membuat Granat merasa tersiksa. Granat mencoba untuk menahan lengan Ayriszya, namun gadis itu malah semakin melancarkan aksinya. Beberapa menit kemudian, dosen yang mengobrol dengan Granat keluar dari dalam ruangan. Granat segera beranjak dari tempat duduknya dan mengunci pintu. Ia langsung menghampiri gadis itu saat Ayriszya mencoba untuk kembali berdiri. “Kamu sudah membuat saya tersiksa,” ucapnya menggenggam bahu Ayriszya. “Saya ‘kan enggak ngapa-ngapain Azer,” ucap Ayriszya tersenyum kecil. “Gigitan kamu ini tidak seberapa saying,” ucap Granat memperlihatkan punggung tangannya. “Tapi tangan nakal kamu membuat saya tersiksa,” lanjutnya. Ayriszya merasa keadaan mulai tidak memungkinkan karena dia melihat tatapan sendu dari Granat. Gadis itu sudah memiliki ancang-ancang untuk kabur dari dalam ruangan tersebut. “Permisi saya mau keluar,” ucapnya mencoba melepaskan diri. Granat tidak tinggal diam dan merangkul pinggang gadis itu. “Saya tidak akan biarkan kamu keluar. Kamu sudah memancing saya, Ayriszya.” ucap Granat. “Kamu harus tanggung jawab.” Granat mencoba memeluk Ayriszya Salsabila, gadis itu mulai takut, dengan secepat kilat, ia menginjak kaki Granat. “Arghhh!’ Ayriszya langsung merampas ponselnya di atas meja kerja dosen itu dan dia segera langsung keluar dari dalam ruangan, bahkan sebelum Ayriszya keluar dari ruangan Granat Azeriyo, dia sempat menjulurkan lidahnya kepada laki-laki itu. “Sialan kamu,” ucap Granat. “Saya akan pastikan kamu menjadi milik saya seutuhnya.” Ayriszya sangat senang karena akhirnya dia bisa mengerjai pria itu walaupun hanya sebentar saja. Namun dia tetap takut dengan Granat Azeriyo, karena pria itu terlalu berlebihan ketika saat dekat-dekat dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD