Malam pertama

1028 Words
Sebelum membaca jangan lupa di Love gaess Hari ini adalah pernikahan Naila dengan Raihan saat ini Naila sedang di dandani oleh kakaknya yaitu Hanifah yah di membantu adiknya make up setelah selesai kami pun menunggu Raihan mengucap ijab qobul nya “Saudara Raihan wadihan Muammar, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Nur Naila Habibah dengan mas kawin emas dengan seberat sepuluh gram dan surah Ar-Rahman dibayar tunai” ucap Abiku dengan tangan yang menggenggam erat tangan Raihan seakan mempercayai Raihan untuk menyerahkan Naila seutuhnya “Saya terima dan kawinnya Nur Naila Habibah binti Abdul malik dengan maskawin tersebut dibayar tunai” Raihan mengucap ijab qobul dengan satu tarikan nafas bersaman dengan kelegaan hati yang lelaki itu rasakan, seakan menerima Naila untuk menjadi tanggung jawab seutuhnya. “Bagaimana para saksi” tanya penghulu “SAH” Semua yang hadir menyaksikan prosesi ijab qobul pagi itu, tersenyum senang. “Alhamdulilah” didalam kamar Naila menatap cermin tak percaya jika hari ini status Naila berubah menjadi seorang istri dia mendengar lantunan ayat Surah Ar-Rahman yang dibacakan oleh Raihan dengan suara merdu Masya Allah Setelah membaca surah Ar-Rahman Raihan pun menemui istrinya di kamarnya Naila mengerjai ketika mendapati pantulan tubuh tinggi Raihan yang berada dibelakang, Naila celingukan mencari keberadaan kakaknya yang sudah tidak terlihat dikamar ini. Raihan terdiam menatap pantulan wajah gw dicermin dihadapan Naila yang kini menjadi istrinya, Raihan melangkahkan kakinya mendekati Naila yang masih menatapnya. Berdiri tepat dibelakang Naila, menatap tepat kedua bola mata hitam lewat cermin besar dihadapan keduanya. Jantungku berdegup kencang. Belum pernah aku berada didalam sebuah ruangan bersama lelaki asing selain abi dan umi ku, namun kini pertama kalinya aku berada dalam kamar bersama lelaki. Naila sontak berdiri berhadapan dengan lelaki yang jauh lebih tinggi dari ku, Naila menjaga jarak beberapa meter seakan lupa bahwa kami sudah halal. “Boleh saya bacakan doa buat kamu” kemudian Naila mengangguk tangan kiri Raihan menyentuh kepala ku, tangan kanannya menangkup daguku bibirnya mulai bergerak membacakan doa kebaikan pernikahan kami. “Allahuma inni as'aluka min khairiha wa Khairi ma jabaltaha 'alaihi. Wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadamu kebaikan dirinya dan kebaikan yang engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepadamu dan kejelekannya dan kejelekan yang engkau tetapkan atas dirinya” “Allahuma aamiin” Naila pun mengaminkan doanya Naila menyambut tangan Raihan, mencium tangan Raihan bukti bahwa baktinya sebagai istri mulai detik ini sudah dimulai. Surga ku bukan lagi pada orang tua ku melainkan pada Raihan yang resmi menjadi suami ku. “Kita kebawah yuk, kasihan yang lain pada nunggu” ajak Kevin lalu Naila mengangguk kemudian kami turun ke bawah. "Selamat nai Akhirnya sekarang lu udah gak jomblo lagi" ejek Nasri yah dia sahabat terbaik Naila yang selalu ada Sekarang baru kali ini dia bertemu dengan sahabatnya Naila pun memeluk sahabatnya SMA nya itu "Gw kangen sama lu, lu kemana aja sih gw kangen tau" melepaskan pelukannya meneteskan air mata yang penuh rindu "Maaf yah soalnya gw sibuk hehe biasa orang kaya mah selalu sibuk" canda Nasri dengan tertawa "Lu sibuk mulu kapan-kapan kita main lagi nas gw kangen curhat sama lu" rindu Naila "Sama gw juga jangan nangis lagi gw gak mau lu sedih lagi nanti bedak lu luntur nai ntar malah jadi jelek deh" Nasri menghapus air mata Naila dan meledeknya "Ihh gw lagi ekting nangis juga bukannya balas ekting gw malah ledek gw dasar teman laknat" omel Naila "Udah yah gw pusing omongan lu gak ada habisnya gw mau ke sana dulu yah siapa tau ketemu calon suami gitu haha sekali lagi selamat ya nai, pak" canda Nasri dengan tersenyum kemudian pergi meninggalkan kami "Itu sahabat kamu" tanya Raihan yang disebelah Naila "Iya dia selalu dengerin curhatan saya dan kasih solusinya" jawab Naila "Sekarang udah ada saya jadi gak usah sungkan-sungkan curhat sama saya" ujar Raihan "Makasih pak" balas Naila "Sekarang saya suami kamu jadi ubah panggilan mu" kata Raihan "Terus saya harus panggil bapak apa" tanya Naila "Panggil saya kakak, mas juga boleh" jawab Raihan "Yaudah saya panggil bapak mas aja yah hehe" kata Naila dengan tersenyum "Seterah kamu saja" Raihan pun membalas senyumannya Malam ini adalah malam pertama mereka berdua selesai acara pernikahannya mereka pergi ke kamarnya suasananya canggung tidak ada percakapan apapun "Siapa dulu yang mau mandi aku atau kamu dulu" tanya Raihan yang baru memasuki ke kamarnya melihat Naila sudah di meja rias untuk menghapus make up nya itu "Mas dulu aja aku mau ngapusin make up ku dulu" jawab Naila sembari menghapuskan make up-nya itu kemudian Raihan memasuki kamar mandi setelah Raihan mandi giliran Naila yang mandi Raihan pun menunggu Naila di kasur sambil membaca Al-Qur'an dan bersender di kepal ranjangnya lalu keluarlah Naila yang habis mandi dengan pakaian tidurnya kemudian mendekati Raihan berbaring di ranjangnya meluruskan kakinya sembari tiduran karena malam ini dia sangat cape banget mana heels nya tinggi sekali "Kamu cape nai" tanya Raihan yang baru saja selesai membaca Al-Qur'an dan menaruhnya di meja sampingnya Raihan yang melihat Naila seperti kecapean karena dari tadi dia berdiri terus "Gak kok mas nanti juga hilang capenya" sembari membelakangi Raihan tidurnya "Gak baik loh ngebelakangi suami" sindir Raihan kemudian Naila pun berbalik arah dengan menghadapnya "Aku pijitin ya biar capenya hilang" Raihan memijitkan kaki Naila yang sudah bengkak dan membiru "Gapapa gimana sih ini tuh bengkak tau mana biru lagi" gerutu Raihan yang sedang memijitkan kaki Naila yang bengkak dan membiru "Gapapa kok mas nanti nya juga ilang" ujar Naila sembari duduk menghadapnya "Gak ini gak bisa didiamin nanti yang ada kaki kamu tambah parah tunggu aku mau ambil air hangat buat ngompres kaki kamu" Raihan keluar dari kamarnya untuk mengambil air hangat di dapur Hanifah melihat suaminya yang sedang di dapur pun bingung kenapa dia bisa ada didapur sih seharusnya kan malam pertama dengan Naila kenapa jadi begini "Mas kamu ngapain di dapur" tanya Hanifah yang baru saja dari kamarnya itu "Ini aku ambil air hangat buat Naila soalnya kakinya bengkak Han" jawab Raihan dengan khawatir "Astagfirullah kok bisa sih" Hanifah panik baru mendengarkan ucapan suaminya "Tadi dia habis pakai heels jadi sakit deh kakinya" Raihan menuangkan air panas dengan air dingin agar tidak kepanasan airnya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD