Aku terbangun saat alarm ponsel berbunyi. Hari ini aku libur bekerja tetapi aku ada janji kencan dengan Pedro. Biasanya saat berkencan, kami hanya menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan makan siang, lalu dia mengajakku ke rumahnya. Memang terdengar sederhana, namun aku menyukainya. Hal itu cukup menyenangkan bagiku.
Usai mandi dan berpakaian, aku berias sedikit. Hanya mengenakan make-up tipis agar wajahku terlihat lebih segar. Setelahnya aku mengenakan sepatu, lalu menyambar tasku sambil bergegas meninggalkan apartemen. Karena Pedro tak menjemputku, maka kami bertemu langsung di tempat yang sudah kami janjikan saja.
Alasan Pedro tak mau menjemputku adalah karena ia tak mempunyai mobil. Ia merasa malu menjemputku ke apartemen dengan sepeda motor, padahal aku tak pernah mempermasalahkannya. Namun aku menghormati keputusannya dan biasanya kami selalu bertemu di tempat kami berjanji setiap kali kami kencan.
"Pedro!" Aku melambaikan tangan ketika melihat sosoknya di antara ramainya pasar kuliner.
Pedro balas melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahku. Kami berjalan saling mendekati, lalu Pedro memelukku. Para pengunjung pasar kuliner ini sangat ramai tetapi kami tak terlalu memedulikannya. Orang-orang pasti mengerti bahwa kami sedang berkencan sehingga terlihat mesra.
"Aku merindukanmu, Sayang." Pedro mengecup keningku pelan.
"Aku juga," sahutku tersenyum.
"Kalau begitu, aku akan menggenggam tanganmu selama berjalan di pasar ini." Pedro meraih lenganku dan kami mulai berjalan.
"Hanya selama di pasar ini saja?" godaku.
"Selama yang kamu mau." Pedro mengedipkan matanya.
Aku hanya tertawa sambil mengikuti langkahnya. Kami melihat beberapa tenda jajanan dan mencicipi beberapa makanan yang kami suka. Berbagai makanan dijajakan di sini, mulai dari makanan ringan hingga yang berat. Masakan lokal hingga masakan mancanegara.
"Kamu tidak apa-apa kalau aku ajak ke pasar seperti ini, bukan?" tanya Pedro.
"Tentu saja tidak apa-apa. Kamu ini, seperti baru mengenalku saja," sungutku.
Pedro menatapku. "Bukannya begitu. Tapi aku merasa aku tidak seperti pria-pria lain yang membawamu ke restoran mahal. Lagi pula, kamu pasti bosan melihat makanan karena kamu adalah seorang chef dan setiap hari bertemu dengan makanan terus."
"Tenang saja, aku tidak akan pernah bosan dengan makanan. Kamu tidak perlu mengajakku ke restoran mahal karena justru itu yang membuatku bosan. Aku senang kamu ajak jalan-jalan melihat street food seperti ini," jawabku.
"Aku beruntung memilikimu, Lunaria." Pedro mengeratkan genggaman tangannya.
Usai menikmati banyak makanan yang membuat kami sangat kenyang, Pedro mengajakku ke rumahnya. Kami mengendarai motornya. Rumah Pedro hanyalah berupa kontrakan sederhana di pinggiran ibu kota yang rumah tetangganya saling berdempetan. Rumah-rumah di sana pun tak seberapa luas ukurannya.
Pedro menolak ketika waktu itu aku ingin menyewakan apartemen untuknya. Ia bilang tak ingin merepotkanku dan ia lebih nyaman di lingkungan sederhana karena bisa sering-sering berkumpul dengan tetangga. Aku bahkan mengenal beberapa dari tetangga Pedro. Mereka semua bersikap baik padaku dan selalu ramah setiap kali aku datang.
Usai menyapa para tetangga, aku dan Pedro masuk ke rumahnya. Kami duduk berdampingan di sofa. Aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru rumah Pedro yang penuh dengan hasil lukisannya. Meski tak terlalu mengerti tentang seni, tetapi aku sangat mengagumi karya-karya Pedro yang indah. Sayang sekali tak banyak yang membelinya.
"Uang bulananmu masih ada?" tanyaku membuka obrolan.
"Masih," jawab Pedro singkat.
"Akan kutambahkan."
"Tidak perlu, Luna. Saat ini masih ada," tolak Pedro.
"Ya, tapi aku tidak mau kamu kekurangan." Aku bersikeras.
Pedro menghela napas. "Aku malu padamu. Seharusnya sebagai lelaki, aku yang memberimu uang. Ini justru kamu yang memberiku uang setiap bulan."
"Tidak apa-apa, Pedro. Kamu kan pacarku." Aku menggenggam tangannya.
"Benar. Tapi aku akan mengganti uangmu suatu hari nanti."
"Sudahlah, tidak usah kamu pikirkan. Aku ikhlas memberikannya padamu," ujarku seraya mengambil ponsel dan mentransfer sejumlah uang pada Pedro.
"Terima kasih, Luna sayang." Pedro memelukku erat.
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Pedro menarik wajahku, lalu kami saling memagut bibir. Setelah selesai, Pedro pun memulai kegiatannya melukis dan aku memperhatikannya sambil berbaring di sofa. Tak berapa lama, kulihat Pedro berjalan ke kamarnya, sepertinya ia ingin mengambil perlengkapan melukis.
Ponselku bergetar. Nama papa tertera di layar. Aku berdecak, sungguh malas mengangkatnya. Aku ingin keluar rumah agar Pedro tak mendengar pembicaraanku dengan papa. Namun di luar sedang banyak tetangga Pedro yang berkumpul. Maka aku mengangkat telepon pelan-pelan selama Pedro berada di kamarnya.
"Halo, ada apa, Pa?"
"Luna datanglah ke rumah papa. Papa ingin mengajakmu makan siang bersama." Suara papa terdengar di seberang sana.
"Maaf, Pa. Tapi aku sudah makan siang," sahutku.
"Kalau begitu datang saja ke rumah papa. Papa merindukanmu, Luna."
Belum sempat aku menyahuti perkataan papa, tiba-tiba suara Pedro terdengar memanggilku.
"Luna, kamu mau minum apa? Tadi aku lupa mengambilkanmu minum." Pedro tersenyum sambil berjalan ke arahku.
Suara Pedro cukup keras sehingga papa mendengarnya.
"Siapa itu, Luna?" tanya papa curiga.
Aku tak menjawab.
"Apakah itu Pedro? Kamu masih berhubungan dengannya?" selidik papa lagi.
"Ya, Pa." Aku memilih untuk jujur.
"Benar-benar kamu, Luna! Bukankah papa dan mama sudah melarangmu berhubungan dengannya lagi!" Suara papa meninggi.
"Pedro itu orang baik, Pa. Kenapa aku tidak boleh berhubungan dengannya?" protesku.
Papa berdecak. "Kamu kan sudah tahu alasannya! Papa dan mama tidak suka melihat Pedro. Kamu harus putus dengannya!"
"Tapi, Pa ...."
"Papa dan mama sudah bersepakat untuk menjodohkanmu jika kamu masih berhubungan dengan Pedro."
"Apa?! Aku tidak mau, Pa," sergahku.
"Jangan membantah, Luna. Cepat kamu datang ke rumah papa sekarang. Papa akan memberi tahu mama kamu untuk datang juga," titah papa.
Tanpa menjawab lagi, aku menutup telepon dengan kesal. Pedro yang sejak tadi memandangiku, kini duduk di sampingku. Ia menatap wajahku, lantas menggenggam tanganku. Aku memeluknya untuk menenangkan diri. Sungguh aku masih merasa sangat kesal pada papa.
"Ada apa? Papamu melarangmu berhubungan denganku lagi?"
Aku mengangguk. Ponselku kembali begetar, tetapi aku mengabaikannya.
"Kapan orang tuamu akan menyetujui hubungan kita?"
"Aku juga tidak tahu, Pedro," sahutku mengeratkan pelukanku padanya.
Pedro menenangkanku sambil membelai rambutku. Setelah merasa tenang, aku berpamitan pulang. Karena tak membawa mobil, aku pulang menggunakan taksi online. Aku pulang langsung ke apartemenku, tak mengindahkan perintah papa untuk datang ke rumahnya.
Namun begitu aku sampai di apartemenku, mama menelepon. Ia memintaku untuk datang ke rumah papa dan katanya ia juga akan datang ke sana. Aku menolak, tetapi mama terus membujukku. Akhirnya mau tak mau, aku terpaksa mengendarai mobilku menuju rumah papa.
Setibanya di sana, mama juga ternyata sudah datang. Papa dan mama duduk menungguku di ruang tamu. Sungguh aneh melihat mereka begitu. Sudah bercerai tetapi masih sangat dekat, padahal mama sudah menikah lagi. Namun bukan itu yang harus kupikirkan sekarang, melainkan nasibku saat ini yang akan dijodohkan.
"Aku tidak mau dijodohkan!" tukasku sebelum mama dan papa sempat berbicara.
***