8. Wedding Day

1563 Words
Sesuai permintaan Leonard dan Lunaria, rencana pernikahan mereka pun dipercepat. Persiapan sudah hampir matang, hanya tinggal hal-hal kecil saja. Lunaria menyerahkan semua persiapan pernikahannya kepada Andini, termasuk memilihkan wedding organizer yang tepat. Mamanya itu memang memiliki selera yang bagus. Selain itu, Lunaria sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia tak punya banyak waktu untuk mengurus semuanya. Begitu pun dengan Leonard yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Maka ia setuju saja jika calon mama mertuanya yang melakukan berbagai persiapan. Namun ketika mereka harus fitting busana pengantin, Lunaria tak bisa menolak ketika Leonard menjemputnya untuk pergi ke bridal gallery seorang desainer terkenal. Mereka mencoba busana masing-masing. Gaun putih sederhana namun mewah dan elegan sesuai keinginan Lunaria dan tuxedo dengan warna senada untuk Leonard. Mereka tampak serasi mengenakannya. "Gaun ini sangat cocok di tubuhmu," puji Leonard tulus menatap calon istrinya. Lunaria tersenyum tipis. "Terima kasih. Kamu juga sangat cocok mengenakan tuxedo itu." Leonard masih memandangi Lunaria, mengagumi kecantikannya. Ia ingin memuji paras wanita itu, tetapi ia mengurungkannya karena Lunaria terlihat acuh tak acuh. Jika menuruti ego, Leonard merasa kesal melihat Lunaria bersikap cuek padanya sedangkan banyak wanita yang menyukainya dan berharap menikah dengannya. Namun Lunaria telah menjadi pilihannya, maka ia tak ingin mengeluh. Hanya saja, Leonard merasa heran bagaimana Lunaria tidak mengaguminya meski ia memiliki segalanya. Leonard menghela napas, mencoba membuang kebimbangan. Apa pentingnya memikirkan hal itu? Hal terpenting adalah semua skandalnya dengan Helen akan hilang setelah ia menikah dengan Lunaria. Hari berganti. Tibalah pernikahan yang dinantikan. Di ballroom The Bright Moon Hotel yang mewah, resepsi pernikahan Leonard dan Lunaria dilaksanakan. Begitu banyak tamu yang datang, mulai dari kerabat, teman, hingga kolega bisnis. Leonard dan Lunaria sama-sama anak tunggal. Tak heran masing-masing orang tua menginginkan pernikahan yang megah dan meriah untuk anak mereka. "Lihatlah, bagaimana serasinya anak kita bersanding di pelaminan," ucap Handoyo tersenyum. "Benar. Mereka terlihat seperti sepasang pangeran dan putri istana," sahut David. Berdiri tak jauh dari mereka, Andini ikut mengangguk menyetujui perkataan kedua kolega bisnis itu. Andini datang bersama suaminya. Namun hal itu tak membuatnya canggung berada di dekat David, mantan suaminya. Andini telah memberi pengertian pada suaminya bahwa ia tetap menjalin hubungan baik dengan David demi Lunaria. "Sejujurnya, saya masih tidak menyangka Leonard dan Lunaria memutuskan menikah secepat ini padahal kita masih berusaha mendekatkan mereka kemarin." Handoyo tertawa kecil. "Ya, kami juga sangat terkejut saat Lunaria meminta untuk bertemu dan ternyata ia datang bersama Leonard untuk membicarakan pernikahan mereka," ujar Andini sambil meneguk minumannya. "Begitulah anak muda zaman sekarang, selalu penuh kejutan," seloroh David membuat mereka semua tertawa. "Saya harap pernikahan mereka akan abadi dan mereka tidak akan pernah bercerai." Handoyo berkata dengan mata menerawang. Ucapan Handoyo membuat David dan Andini menjadi salah tingkah karena merasa tersindir. Mereka saling beradu tatap sejenak, kemudian kembali membuang pandangan satu sama lain. Keheningan meliputi mereka sesaat. Handoyo menoleh, lalu menyadari ada yang salah dengan ucapannya tadi. "Maafkan saya," ucap Handoyo. "Saya tidak bermaksud menyinggung kalian." David berdehem. "Tidak apa-apa. Santai saja, Kawan." Sedangkan Andini hanya bisa tertawa canggung. Kekakuan di antara mereka tak berlangsung lama seiring obrolan-obrolan santai yang kembali mengalir. Ditambah lantunan lagu-lagu romantis dari wedding singer membuat mereka terhanyut dalam suasana. Mereka begitu bahagia melihat anak mereka bersanding dan para tamu yang menikmati pesta. Sementara itu, Leonard dan Lunaria masih berdiri berdampingan di atas pelaminan. Semua yang hadir mungkin melihat mereka selalu tersenyum, tetapi sebenarnya kekakuan tercipta di antara mereka. Keduanya saling diam dan terlarut dengan pikiran masing-masing. Leonard ingin mencairkan suasana dengan obrolan, tetapi dilihatnya Lunaria seperti tak ingin bicara. Lunaria sedang memikirkan Pedro. Ia merasa bersalah pada pacarnya itu karena telah menikahi Leonard. Sampai sekarang ia belum mengatakan tentang pernikahannya pada Pedro dan masih tak tahu bagaimana harus menyampaikannya nanti. Lunaria menghela napas panjang. Pedro pasti akan kecewa padanya. Malam beranjak. Resepsi pernikahan yang mewah tersebut akhirnya usai dan semua tamu sudah pulang, hanya tinggal keluarga dan staf wedding organizer yang sibuk membereskan perlengkapan dekorasi pesta. Leonard dan Lunaria menginap di hotel malam itu dengan dekorasi kamar pengantin yang indah dan romantis. "Kamar ini terlihat indah. Apakah dekorasi kamar ini atas permintaanmu, Lunaria?" Leonard mengedarkan pandangannya. "Tidak. Ini sudah jadi standar The Bright Moon Hotel untuk kamar pengantin baru. Lagi pula, aku bekerja di hotel ini. Tentu saja mereka mengatur dekorasi yang lebih istimewa untukku," jelas Lunaria. Menatap raut wajah istrinya yang datar, Leonard bertanya, "Kamu tidak bahagia dengan pernikahan kita, Lunaria?" Lunaria menautkan alis mendengar pertanyaan Leonard, lantas tertawa. "Menurutmu?" Leonard tak menjawab. "Bagaimana aku bisa bahagia kalau mengkhianati kekasihku dan menikah dengan orang yang tidak kucintai?" Mata Lunaria menerawang. Leonard menghela napas. Seharusnya ia tak mengajukan pertanyaan itu karena jawabannya sudah pasti bahwa Lunaria tak bahagia. Leonard mulai melepas jas dan pakaiannya satu per satu. Dari sudut mata, dilihatnya Lunaria juga melakukan hal yang sama. Wanita itu ingin membuka gaunnya tetapi terlihat kesulitan. "Leonard, bisakah kamu membantuku membuka resleting gaunku?" tanya Lunaria membelakangi suaminya. Ragu sesaat, Leonard kemudian melangkah mendekati Lunaria. Perlahan ia menurunkan resleting gaun wanita itu. Ia menelan saliva ketika melihat punggung Lunaria yang begitu cerah dan indah. Sesuatu bergejolak dalam dirinya, apalagi saat itu jas dan kemeja dalamnya pun sudah ia lepas. Pikirannya mulai liar berkelana. "Terima kasih," ucap Lunaria membuyarkan lamunan Leonard. Dengan masih mengenakan pakaian dalam yang cukup sopan, Lunaria beranjak ke toilet. Leonard mengusap wajahnya. Menyebalkan sekali. Malam pertama pernikahannya tak seindah yang dirasakan oleh orang-orang pada umumnya. Dengan tak bersemangat, Leonard melepas sisa pakaiannya dan memakai handuk, menunggu Lunaria selesai mandi. Usai membersihkan diri, Lunaria keluar dari toilet sudah dengan berganti piyama. Ia melirik pada Leonard yang hanya mengenakan handuk. Badan atletis pria itu terlihat begitu menggoda. Namun Leonard berjalan begitu saja menuju ke kamar mandi tanpa menoleh padanya. Lunaria mengetuk kening sendiri, berusaha menghilangkan ketertarikannya pada tubuh Leonard. "Aku tidak boleh tergoda oleh Leonard," gumamnya. Lunaria beringsut naik ke atas ranjang. Karena hanya ada satu ranjang di kamar itu, ia pun terpaksa berbagi ranjang dengan Leonard. Lunaria meletakkan sebuah bantal di tengah king size bed tersebut sebagai pembatas antara mereka. Tak lama, Leonard keluar dari toilet. Lunaria pura-pura memejamkan mata, padahal sebenarnya ia belum bisa tidur. Dengan sudah berganti baju, Leonard naik ke atas ranjang. Ia mengernyit melihat sebuah bantal yang diletakkan di tengah, tetapi sesaat kemudian ia mengerti. Tanpa memprotes, ia merebahkan tubuhnya. Menatap punggung Lunaria yang berbaring membelakanginya. Meski mengenakan baju yang sopan, lekuk tubuh Lunaria tetap terlihat indah di matanya. "Leonard, bangun!" seru Lunaria keesokan paginya. Melihat Leonard bergeming, Lunaria kembali mengguncang tubuh suaminya. "Leonard, bangunlah!" "Ada apa, Lunaria?" Leonard berdecak sambil memicingkan mata. "Ayo, cepat bangun," cecar Lunaria lagi. "Ini masih pagi dan aku masih mengantuk." Leonard membalikkan tubuhnya. "Apa kamu bilang? Pagi? Ini sudah siang, Leonard. Kita harus check out sebentar lagi," sungut Lunaria. "Kita bisa extend kamar." "Aku tidak mau!" Lunaria menyilangkan lengan. Lunaria mendengus karena Leonard belum bangun juga. "Kalau kamu tidak mau bangun. Ya, sudah. Aku akan pergi sendiri dan pulang ke apartemenku." Masih dengan mata mengantuk, Leonard menahan lengan Lunaria yang ingin bangkit dari ranjang. "Baiklah, aku akan bangun. Kamu bawel sekali!" gerutu Leonard berusaha membuka matanya secara penuh. Leonard menggeliat sebentar untuk menghilangkan pegal di badannya. Semalaman ia tak bisa tidur karena menahan gejolak tubuhnya memandangi Lunaria yang sedang tidur. Ia baru terlelap menjelang pagi dan kini wanita itu mendesaknya untuk bangun. Sungguh menyebalkan. Lunaria memang wanita yang tak berperasaan, keluhnya dalam hati. Namun sekesal apa pun, Leonard tak boleh membiarkan Lunaria pergi sendiri. Ia harus membawa istrinya itu ke apartemennya yang luas. Sebuah penthouse di gedung apartemen mewah yang berlokasi di pusat kota. Apartemen itu sudah ditempati Leonard sejak ia lajang, tetapi sesekali ia tetap pulang ke rumah keluarganya untuk menemui ayahnya. "Wah, apartemenmu luas sekali," komentar Lunaria kagum menatap ke sekeliling begitu mereka tiba di penthouse Leonard. "Tentu saja. Aku punya banyak uang untuk membelinya," ucap Leonard. Lunaria menyipitkan mata melihat keangkuhan pria itu. "Di sini ada berapa kamar? Dan mana kamarmu?" tanyanya. "Ada tiga kamar. Di sana kamarku." Leonard meraih lengan Lunaria ingin mengajak istrinya itu menuju kamar utama. Namun Lunaria menepis tangannya. "Aku tidak mau tidur sekamar denganmu." "Maksudmu?" Kening Leonard berkerut. "Ya, aku mau kita tidur terpisah di kamar yang berbeda." "Bagaimana ceritanya kita sudah menikah tapi masih tidur terpisah?" protes Leonard. "Bukankah kita tidak saling mencintai dan pernikahan ini hanya sebuah perjanjian yang saling menguntungkan untuk kita mengatasi masalah kita masing-masing?" Lunaria menatap suaminya. "Benar. Tapi bukan berarti kita harus tidur terpisah. Itu mengada-ada!" Leonard masih tak terima. "Apanya yang mengada-ada?!" sahut Lunaria. "Kamu pikir aku mau tidur denganmu sementara aku masih mencintai Pedro?" "Sudah sewajarnya suami istri tidur sekamar. Tadi malam juga kita tidur satu ranjang." "Itu karena tadi malam hanya ada satu ranjang dalam kamar hotel yang telah disediakan untuk kita. Tidak mungkin aku menyewa kamar lain. Orang-orang akan merasa heran," omel Lunaria. "Pokoknya kita harus tidur sekamar." Leonard bersikeras. "Tidak! Kalau aku tidur sekamar denganmu, itu artinya aku mengkhianati Pedro. Aku tidak mau mengkhianatinya." Lunaria tak mau kalah. "Terserahlah!" ucap Leonard akhirnya. Nada kesal jelas terdengar dari suara pria itu. Leonard beranjak ke kamar utama meninggalkan Lunaria. Bisa-bisanya wanita itu ingin tidur terpisah. Mereka memang tidak saling mencintai, tetapi hal yang konyol jika mereka tidak tidur sekamar karena mereka adalah sepasang suami istri. Leonard membanting pintu dengan keras ketika ia sudah berada di dalam kamarnya, lantas merebahkan diri ke atas ranjang. Perlahan ia memejamkan mata, mencoba meneruskan tidurnya yang terganggu pagi tadi. Baru saja ia akan terlelap ketika didengarnya Lunaria memanggilnya dari luar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD