10 |JALAN-JALAN KE PULAU TIDUNG

1948 Words
SEPENINGGALANNYA dari apartemen tempat tinggal Ray dan Kyra larut malam itu. Daniel tak langsung pulang ke rumahnya melainkan pergi ke rumah sakit yang sejak tiga tahun lalu telah beralih kekuasaan menjadi milik keluarga Stauffer. Daniel sengaja membeli rumah sakit ini yang sekarang sudah berganti nama menjadi Rumah Sakit Stauffer Jkt demi memudahkan dirinya mengawasi setiap perkembangan kesehatan seorang wanita yang sejak tiga tahun lalu terbaring koma di rumah sakit. “Mr.Stauffer? Tumben Anda menjenguk Nyonya larut malam begini?” Suster penjaga bernama Ira menyambut kedatangan Daniel di pintu utama penghubung lorong kamar inap VVIP khusus pasien keluarga Stauffer. “Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihatnya,” jawab Daniel yang dibalas anggukkan kepala sopan oleh Ira. Daniel kemudian memasuki kamar inap diikuti Ira di belakangnya dan berhenti di samping ranjang pasien seorang wanita berusia sekitar dua puluh delapan tahun yang terbaring tak sadarkan diri sambil mengenakan berbagai alat penunjang kehidupan. “Bagaimana keadaannya?” Daniel bertanya pada Ira tanpa mengalihkan tatapannya pada wanita yang terbaring koma di depannya. Ira bergegas menjawab, “Masih sama seperti yang terakhir kali Tuan, belum ada perkembangan yang signifikan.” Sorot mata Daniel berubah sedih mendengar jawaban Ira. Sudah tiga tahun berlalu dan masih belum ada tanda-tanda wanita itu akan tersadar. “Baiklah, kau bisa pergi.” Daniel berucap menyuruh suster Ira meninggalkannya. Ira berpamitan. “Saya pergi dulu Tuan.” Daniel mengangguk lalu Ira pergi meninggalkan ruangan, menyisakan Daniel dan wanita yang tak sadarkan diri itu berdua di dalam ruangan. “Iona,” Daniel memanggil dengan sorot mata penuh kesedihan. “Aku menemukannya.” Sudut bibir Daniel tertarik membentuk senyuman sendu. Meski ucapannya tidak pernah ditanggapi oleh Iona, tetapi Daniel tidak pernah menyerah untuk mengajaknya berbicara. “Kali ini aku tidak salah lagi. Dia sangat mirip denganmu,” ucap Daniel sembari menyentuh telapak tangan Iona yang tertancap infus, kemudian menggenggamnya. “Kapan kamu akan bangun dari koma? Aku merindukan suasana kekeluargaan kita seperti dulu lagi?” Mata Daniel berkaca-kaca sambil mengingat ulang momen-momen bahagia bersama keluarga besarnya dahulu, terlebih diawal-awal pernikahan Daniel. Tapi semua kini hanya menjadi kenangan. Karena kenyataannya, semua telah berubah. Bahkan wanita yang Daniel cintai tidak bisa melihatnya sebagai pria yang mencintainya. *** Keesokkan harinya, di pagi hari yang cerah. Ray berniat mengantar Kyra mengambil tasnya yang tertinggal di kelab, tetapi begitu mereka berdua sampai di parkiran Kyra tidak sengaja melihat Jenny yang ternyata datang untuk mengantar tasnya kembali. “Kyra!” “Jenny? Apa yang kau lakukan di sini?” Kyra bertanya setelah Jenny menghampirinya. “Aku mengantar tasmu kemari, Pak Bima bilang kemarin sepertinya kau sedang ada masalah hingga meninggalkan tasmu begitu saja di tempat kerja,” ujar Jenny, terang-terangan di depan Kyra yang pada saat itu masih bersama Ray di sampingnya. Kyra melirik ke arah Ray sekilas untuk melihat ekspresinya karena sudah mendengar cerita Jenny. Kyra yakin seratus persen bahwa Ray akan bertanya setelah ini padanya tentang masalah yang Jenny bicarakan. “Ah ya, terima kasih Jenny. Maaf merepotkan hingga membuatmu sampai jauh-jauh mengantarnya ke sini,” kata Kyra. Jenny mengibaskan tangan tidak keberatan. “Jangan khawatir, kebetulan pagi ini aku juga hendak menemui seseorang yang tinggal tidak jauh dari daerah ini. Jadi sekalian kubawakan tasmu.” Kyra tersenyum, lalu kembali menanggapi, “Syukurlah kalau begitu. Oh iya, kenalkan dia tetanggaku, namanya Ray. Ray kenalkan dia Jenny, teman kerjaku.” Ray dan Jenny kemudian saling berjabat tangan setelah Kyra memperkenalkan mereka berdua. “Jadi semalam kau menginap di apartemen tetanggamu?” tebak Jenny, sambil tersenyum menggoda ke arah Kyra dan Ray yang seketika malu karena ketahuan. “Hahaha, iya. Kami sudah seperti saudara,” Kyra menjawab. “Seperti saudara? Kurasa lebih tepatnya kalian sedang terjebak friendzone, hahaha!” Jenny meledek dengan menggoda status Ray dan Kyra. Ray ikut tertawa bersama Jenny, sedangkan Kyra memasang ekspresi cemberut. “Sudahlah, kau tadi bilang akan menemui seseorang. Sana cepat temui, tidak baik membuat seseorang menunggu terlalu lama,” ujar Kyra dengan nada sedikit kesal. Tapi bukannya cepat-cepat pergi, Jenny malah menggunakan tiga kata terakhirnya sebagai bahan ledekan lagi. “Tidak baik membuat seseorang menunggu terlalu lama? Ya ampun Kyra, apa kau sedang mengkode Ray supaya tidak terlalu lama membuatmu menunggu? Hahaha.” Double menyebalkan. Kyra bersungut-sungut melihat Jenny yang puas tertawa usai meledeknya. Sedangkan Ray? Entahlah Kyra tidak berani melihat ke arahnya sekarang. Semoga saja Ray tidak salah paham mengartikan ucapan Jenny karena Kyra memang tidak sedang menunggu siapapun saat ini. “Jenny!” Kyra memanggil nama wanita di depannya dengan penuh peringatan. Membuat Jenny akhirnya berhenti mengolok-oloknya, “Baiklah-baiklah, aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa lagi Kyra… Ray… Dadah!” Kyra dapat kembali bernapas lega setelah melihat kepergian wanita itu. Syukurlah Jenny mau berhenti meledeknya, karena Kyra tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghentikan lelucon tidak masuk akal wanita itu. “Karena tasmu sudah kembali sekarang aku tidak perlu mengantarmu ke kelab,” ujar Ray, mengalihkan perhatian Kyra untuk berpaling menatapnya. “Iya. Emm, terima kasih membiarkanku menginap di apartemenmu tadi malam,” sahut Kyra, sedikit canggung karena ledekan Jenny sebelum ini membuat suasana di antara dirinya dan Ray berbeda. Ray mengangguk sambil menjawab, “Sama-sama.” “Kalau begitu kau bisa pergi bekerja pagi ini,” kata Kyra, mengingatkan Ray agar tidak perlu mengambil cuti hanya karena dirinya. “Tidak apa-apa, toh aku juga sudah mendapat izin dari atasanku,” timpal Ray. “Ooo jadi begitu…” gumam Kyra, tidak tahu harus merespon bagaimana lagi. “Karena aku sudah mengambil cuti hari ini, maukah kau menemaniku jalan-jalan?” Ray mengajak Kyra. Kyra terkejut, seumur-umur berteman dengan Ray mereka jarang sekali meluangkan waktu berdua untuk jalan-jalan ke luar. Mereka lebih sering menghabiskan waktu di apartemen atau café seberang hanya untuk mengobrol karena baik itu Kyra maupun Ray mereka sama-sama sibuk bekerja sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk bepergian. “Kau mau kan?” Ray bertanya lagi, sedangkan Kyra nampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk, “Iya.” Ray bersorak dalam hati. Sangat senang karena mereka berdua akhirnya bisa pergi jalan-jalan berdua ke luar untuk yang pertama kali. Ray lalu membuka pintu mobilnya, menyilahkan Kyra masuk lebih dulu sebelum kemudian dia menyusul ke bagian kemudi. *** Entah keajaiban apa yang sudah terjadi dalam hidupnya karena dua kali diajak pergi oleh dua pria yang berbeda hanya berselang beberapa hari. Bukannya Kyra murahan, Daniel sendiri yang memaksanya pergi berkencan dulu dan sekarang karena Ray adalah temannya maka Kyra tidak mungkin menolak. Lagi pula, semua orang suka jalan-jalan. Kalau ada kesempatan, kenapa harus tidak? “Kita akan pergi ke mana?” Kyra bertanya saat mereka dalam perjalanan di mobil. Ray menoleh sekilas menatap Kyra, lalu kembali menatap jalanan di depannya. “Ke tempat yang akan membuat kita bersenang-senang,” ujar Ray, tanpa menyebutkan lokasi tujuan mereka dengan jelas. Kyra mengerutkan kening. “Kau suka bermain rahasia rupanya,” komentar Kyra, yang dibalas cengengesan Ray. “Hanya ingin membuatmu terkejut saja,” katanya. Berkat perkataan Ray tersebut, sekarang Kyra menjadi semakin penasaran kemana tujuan bersenang-senang mereka hari ini. Satu jam menempuh perjalanan, mobil mereka berhenti di sebuah pelabuhan. Kyra tidak banyak bertanya selain mengikuti Ray naik kapal Feri menuju dermaga 3 kepulauan seribu. Dari situlah Kyra akhirnya tahu bahwa mereka akan pergi ke pulau Tidung. “Jauh sekali kau membawaku jalan-jalan? Aku juga tidak membawa baju ganti,” ujar Kyra ketika mereka sudah duduk di atas kapal Feri. Ray menjawab, “Sudahlah, kita jarang pergi bersama kan? Nikmati saja. Aku yakin kamu juga pasti senang setiba di sana.” Kyra tak menyahut lagi setelah itu selain tersenyum pada Ray. Mereka berdua kemudian larut akan keindahan laut yang dapat mereka lihat secara leluasa dari atas kapal. Semilir angin serta deru suara ombak yang menenangkan membuat kelopak mata Kyra terasa berat hingga akhirnya kepalanya jatuh tertidur di pundak kanan Ray yang duduk di sebelahnya. Ray membenarkan posisi kepala Kyra supaya wanita itu tidur dengan nyaman. Terlepas dari pemandangan laut, sekarang perhatian Ray sepenuhnya telah tergantikan oleh wajah damai Kyra yang sedang tertidur. Wajar jika Kyra mengantuk, kira-kira tiga jam mereka menghabiskan perjalanan menuju ke pulau Tidung dan itu pasti membuat Kyra lelah. Padahal Ray sangat berharap hubungan mereka bisa lebih dari sebatas sahabat. Ray juga sempat ge-er dengan berpikir bahwa Kyra juga mencintainya, dan ternyata dia memang hanya ge-er. Buktinya saat Ray meminta Kyra menjadi kekasihnya, wanita itu menolak. Meski tanpa alasan yang jelas. Ray sebenarnya ingin tahu kenapa Kyra menolak, apa karena dia memang tidak mencintainya ataukah ada alasan lain yang menjadi pemicu wanita itu hingga tidak mau menjadi kekasihnya. Dan Ray curiga jika pemicu itu ada kaitannya dengan Daniel Shristauffer. Karena sepertinya telah terjadi sesuatu di antara Kyra dan CEO Stauffer grup itu. *** Pulau Tidung terkenal karena memiliki jembatan unik. Berjalan di sepanjang jembatan bersama membuat Kyra dan Ray terlihat seperti sepasang kekasih sungguhan. Apalagi jembatan ini dinamai Jembatan Cinta. Perairan di sekitar pulau Tidung sangat bersih dan jernih. Dari atas jembatan, Kyra bisa melihat terumbu karang dan biota laut yang berenang di sekitar pantai. Pemandangan yang sungguh menakjubkan. “Mau snorkeling bersama?” Ray mengajak Kyra yang masih sibuk terpukau mengamati keindahan laut dari atas jembatan. Kyra lantas menoleh, “Snorkeling?” Wanita itu bertanya balik dengan ekspresi sulit diartikan. Pasalnya ia belum pernah merasakan berenang langsung ke dalam lautan, dan ia sungguh senang saat ditawari Ray. “Iya. Mau?” “Mau!” jawab Kyra, spontan. Ray tertawa melihat Kyra yang sangat antusias. Lalu tanpa sadar tangan Ray menggenggam telapak tangan Kyra dan membawanya ke pos snorkeling untuk mengambil baju khusus snorkeling. Sedangkan Kyra hanya diam saja ketika tangannya digenggam oleh Ray. Ia merasa bahwa ini salah, tetapi Kyra tidak tahu mengapa hatinya bisa berkata demikian. Karena tidak ingin menghancurkan momen bahagia mereka hari ini, Kyra akhirnya membiarkan Ray menggenggam tangannya di sepanjang perjalanan menuju pos. *** “Kamu gugup?” Ray bertanya ketika melihat kegelisahan Kyra. “Entahlah, saat kakiku menyentuh air tiba-tiba rasanya… aku mulai gemetaran,” jawab Kyra. Jantungnya berdegub kencang, perasaannya was-was dan gelisah. Mungkin efek sudah lama tidak berenang. Ray menautkan jemarinya ke sela jari-jemari Kyra. “Tenang saja, ada aku di sampingmu,” ujar Ray, mencoba meredakan kegelisahan Kyra. Kyra tersenyum menanggapi ucapan Ray. Lalu seorang pemandu menyuruh mereka naik ke atas perahu untuk di antar ke tengah laut sebelum mulai menyelam. Selama dalam perjalanan ke tengah laut, perasaan Kyra semakin bertambah gelisah. Kepalanya juga tiba-tiba pusing, dan sekelebat bayangan tak jelas muncul dalam imajinasinya. Kyra terbelalak kaget karena sejak tersadar dari rumah sakit dalam keadaan amnesia, untuk pertama kali Kyra akhirnya mendapat ingatan dari masa lalunya. Meski ingatan itu masih terlihat samar. Di dalamnya, Kyra hanya melihat riak air yang bergerumul di sekitar. Apa jangan-jangan, dahulu Kyra pernah tenggelam di laut? “Ayo Kyra! Aku akan perlihatkan padamu keindahan bawah laut, kau pasti menyukainya!” kata Ray ketika perahu yang mereka tumpangi sudah sampai di tengah laut. Kyra spontan tersadar dari lamunannya. Lalu kebingungan, haruskah dia tetap menyelam atau mengurungkan niatnya? “Kyra ayo!” Ray sudah menjeburkan diri ke laut, sedangkan Kyra yang melihat itu semakin panik karena Ray begitu bersemangat mengajaknya menyelam. “Tapi… Ray… aku—” Perkataan Kyra terpotong karena bapak-bapak pemandu tiba-tiba menyodorkan alat snorkel yang membantunya bernapas dalam air. “Biar saya bantu mbak,” ujar bapak-bapak tersebut kemudian sambil membantu Kyra turun ke bawah air. Otomatis mau tidak mau Kyra terpaksa ikut menyusul Ray berenang ke lautan lepas. Di detik-detik pertama Kyra berenang, semuanya berjalan baik-baik saja. Namun semua berubah jadi lebih buruk ketika tangan Ray menariknya menyelam ke dalam air. Saat itulah Kyra merasa napasnya tercekik, alat snorkel yang berada di mulutnya seolah tidak berfungsi dan membuat Kyra kehilangan oksigen. Semua itu lantas diperparah dengan ingatan dari masa lalunya yang kembali menyeruak dalam bayang-bayang pikiran Kyra. Hampir sama dengan keadaan yang Kyra alami sekarang. Banyak buih air yang bergerumul di sekitarnya saat dia mulai kehilangan oksigen, juga deru ombak yang menghempas tubuhnya di lautan. Kyra mulai kehilangan kesadarannya, ia tidak bisa membedakan lagi mana yang hanya sebatas mimpi dan mana kenyataan yang sedang terjadi sekarang. Yang Kyra rasakan hanyalah dia hampir kehabisan oksigen dan berpikir akan segera mati. Lalu semua siksaan itu berakhir ketika penglihatannya menggelap. Kyra pingsan dalam air. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD