04 |KEHEBOHAN DI RESTORAN

2143 Words
KYRA terbangun pagi ini dengan suasana hati yang buruk. Semalam ketika Ray menembaknya, Kyra memutuskan menolak dan membuat suasana di antara keduanya berubah canggung setelah itu. Kyra tidak suka keadaan ini, mau bagaimana pun dia dan Ray sudah lama berteman. Hubungan mereka selalu santai tanpa kecanggungan sedikitpun, tapi karena kejadian semalam mungkin sekarang mereka tidak akan leluasa seperti biasanya saat bertemu. Usai mandi dan memakai seragam kerjanya, Kyra berusaha mengenyahkan kegelisahannya tentang Ray. Dia harus pergi bekerja dan tidak boleh sampai melakukan kesalahan. Fighting Kyra! Semuanya akan berlalu, dirinya dan Ray akan baik-baik saja. Wanita itu menyemangati dirinya sendiri kemudian pergi bekerja ke restoran Nyonya Desi. Siang hari di jam istirahat sekitar pukul duabelas. Kyra yang sibuk mencuci piring di wastafel belakang mendadak dikejutkan oleh suara teriakan bibi Desi yang memanggilnya. “Kyraaaaaaa!” Setiap pegawai di sini sudah hafal kalau bibi Desi marah maka wanita itu akan memanggil pegawainya dengan suara keras dan melengking. “Duh, salah apa aku?” Kyra buru-buru melepas sarung tangan karetnya dan meninggalkan cucian piring untuk menemui bibi Desi. Setibanya di samping kasir, Kyra terbelalak melihat puluhan anak-anak berbaris sejajar di depan bibi Desi yang bersedekap garang. “Kyra!” sentak bibi Desi. “I-iya bi, ada apa?” Kyra maju selangkah mendekati bibi Desi sambil menatap takut bosnya. Bibi Desi menunjuk satu persatu anak-anak yang berjejer di depannya sembari berkata, “Mereka-mereka ini bilang mau minta makan gratis, katanya kamu yang janjiin.” Kyra meringis, dia lupa kalau punya janji pada anak-anak yang sudah membantunya mengantar katering kemarin. “Oh iya Bi. Kemarin anak-anak ini yang bantuin saya nganter ke perusahaan Stauffer Group, karena di jalan macet dan pesanan harus diantar sesuai jam jadi saya minta tolong ke mereka karena kebetulan lagi asyik main sepatu roda dipinggir jalan raya. Lalu sebagai imbalan, saya nyuruh mereka makan gratis di sini.” “APA KAMU BILANG!!” Suara menggelegar bibi Desi membuat Kyra menutup mata yang sedikit terkena semburan air ludahnya. Sementara anak-anak yang berbaris rapi di depannya menutup kedua telinga. “Kamu pikir ini restoran punya nenek moyang kamu apa! Seenaknya bawa anak orang makan gratis di sini!” omel bibi Desi. “Tapi kan Bi, mereka sudah bantu mengantar—” Bibi Desi menyela ucapan Kyra, “Soal mengantar kemarin kan sudah menjadi tanggung jawab kamu! Kalau kamu emang mau ngasih mereka imbalan, bayar pakek uang gajian kamu kerja di sini!” Tak berkesudahan, bibi Desi kembali melontarkan makian pedas. “Jangan mentang-mentang kamu kenalannya dokter Nasya yang bisa masuk kerja di sini lewat dia, kamu jadi bisa bertingkah seenaknya di restoranku!” “Maaf Bi, saya tidak bermaksud seenaknya. Kalau Bibi memang mau memotong uang gajian saya untuk anak-anak makan gratis di sini, saya bersedia kok.” Tulus ucapan Kyra membuat anak-anak yang berdiri di sana sekaligus semua pegawai yang mendengar perdebatan itu seketika tertegun mengagumi kebaikan Kyra. Beruntung saat itu restoran sedang tidak kedapatan pengunjung sehingga tidak membuat Kyra menanggung banyak malu karena dimarahi di depan umum. Tetapi ternyata masih ada satu pengunjung yang sejak tadi mendengar semua perdebatan di depannya. Satu-satunya pengunjung yang kemudian ikut angkat bicara. “Aku yang akan menanggung semua biayanya.” Suara itu mengalihkan perhatian seluruh pegawai, anak-anak, termasuk bibi Desi dan Kyra menoleh ke arahnya yang duduk di bangku pelaanggaan. Mereka semua mengernyitkan dahi karena orang itu menutup wajahnya dengan buku menu restoran. Lalu betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui orang dibaliknya adalah Daniel Shristauffer. Sepasang mata biru Daniel menyorot tajam ke arah Kyra yang sama tercengangnya dengan yang lain. Senyum miring yang tertuju khusus untuknya menyadarkan Kyra bahwa pria itu tengah mengintainya dan ia dalam posisi yang tidak menguntungkan sekarang. “Mr.Stauffer? Anda datang ke restoran saya?” Bibi Desi tidak percaya dirinya bisa langsung berhadapan dengan pria mengagumkan itu. Daniel bangkit dari kursi, berjalan mendekati bibi Desi dan Kyra. “Dengan saya membayar anak-anak ini makan di sini, Anda tidak perlu memotong gaji Kyra,” ujar Daniel. Bibi Desi mengangguk-anggukkan kepala bagai seonggok robot yang mematuhi perintah penciptanya. “I-iya, saya tidak akan memotong gaji Kyra,” jawab bibi Desi dengan gugup. Ia lalu berubah pikiran untuk menyelamatkan harga dirinya di depan Daniel. “Dan Anda tidak perlu membayar mereka, saya akan berikan gratis pada anak-anak ini hahaha… karena bukankah mereka sudah membantu restoranku kemarin saat mengantar katering ke perusahaan Anda. Jadi bagaimana rasa masakan restoranku, apa Anda puas?” Daniel tersenyum miring menyadari kemunafikan bibi Desi yang secepat itu berubah pikiran di depannya. Tetapi pria itu tak mau repot-repot mengomentari tingkahnya karena Daniel bukan seorang penceramah. “Ya,” Daniel menjawab singkat lalu berpaling menatap Kyra untuk melanjutkan ucapannya, “aku sangat puas.” Haruskah Daniel mengatakan kalimat terakhirnya sambil memandang Kyra meesuuuum seperti itu? Dia sangat tidak sopan! Orang-orang yang sadar mungkin akan curiga atas apa yang telah Kyra perbuat pada Daniel kemarin saat mengantar katering ke perusahaannya. Tak ingin terus-terusan menjadi objek tatapan Daniel, Kyra lantas berbicara, “Kalau begitu, aku akan membantu para koki menyiapkan makanan untuk anak-anak.” Bibi Desi mengangguk menyetujui, semua penonton yang ada di sana mulai melanjutkan aktivitasnya masing-masing dan semuanya hampir saja bubar andai saja Daniel tak mendadak mencekal pergelangan tangan Kyra yang akhirnya kembali menimbulkan perhatian semua orang. “A-ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Kyra bertanya sambil menatap waspada wajah Daniel yang sialnya malah tersenyum lembut padanya sekarang. Hei berengsek! Hapus secepat juga senyum di bibirmu atau semua orang bisa salah paham mengartikannya! Teriak Kyra dalam hati. “Sejak masuk ke restoran ini semua orang sibuk melihat perdebatanmu dengan bosmu, tidak ada pelayan yang menanyakan apa pesananku. Bisakah kamu melayaniku?” Daniel mengerlingkan mata, terang-terangan berusaha menggoda Kyra. “Emm, maaf Tuan. Saya sudah memiliki tugas sendiri, Anda suruh pelayan yang lain saja,” tolak Kyra yang kemudian dihadiahi pelototan tajam dari bibi Desi yang secara tak langsung memaksanya menuruti kemauan Daniel. Kyra memejamkan mata meringis. “Ba-baiklah kalau begitu,” ujar Kyra dengan pasrah. Dia tidak bisa membantah jika bibi Desi sudah ikut campur memaksanya meladeni Daniel. Sesampainya Daniel duduk kembali di meja makan, Kyra yang berdiri sambil membawa catatan menu di sampingnya terlihat tidak sabar. “Anda mau pesan apa? Cepat katakan!” perintah Kyra, jutek. Selama dua tahun bekerja di restoran, baru kali ini Kyra tidak ikhlas menjalani pekerjaannya. Dan semua itu tentu saja karena pria laknat yang duduk di depannya sekarang. “Aku pesan Kyra Anasya.” Kyra memutar bola mata sebal. “Jangan main-main, cepat katakan pesanan Anda dengan benar!” semburnya dengan jengkel. Tapi kekesalan Kyra justru menjadi daya tarik tersendiri bagi Daniel. Pria itu menopang dagu di atas meja sambil tersenyum mengamati wajah Kyra. Oh ya Tuhan! Harus bagaimana lagi Kyra menyabarinya? “Baiklah, kalau Anda tidak bisa menentukan menu makanan. Saya akan pilihkan menu spesial hari ini, terima kasih. Silahkan menunggu makanannya.” Kyra berucap cepat lalu berlalu begitu saja dari hadapan Daniel yang masih tersenyum-senyum melihat kepergiannya. *** “Kyra, kamu ada hubungan apa dengan Mr.Stauffer?” Bibi Desi langsung ngacir menemui Kyra yang menumpuk note pesanan di belakang dapur. “Kami tidak ada hubungan apa-apa Bi,” jawab Kyra, lalu berjalan menuju wastafel untuk meneruskan cuci piringnya yang tadi sempat tertunda. Tapi Bibi Desi belum puas dengan jawaban Kyra dan masih terus membuntutinya. “Tapi Pak Daniel kayaknya suka deh sama kamu. Apa nggak aneh orang sibuk kayak dia bisa nyempetin waktunya ke restoran biasa ini kalau nggak karena tujuan lain?” Kyra menoleh menatap Bibi Desi dengan wajah berpikir. Iya sih, aneh juga orang seperti Daniel mau mampir ke restoran ini. Tapi masa iya dia kemari hanya untuk menemui dirinya. Why? ‘Karena kamu adalah milikku.’ “Haish sialan!” Kyra mengumpat ketika kepalanya tergiang kata-kata Daniel kemarin saat di kantor. Kenapa sih akhir-akhir ini dia sering tergiang ucapan itu, padahal ia tahu Daniel tak benar-benar ingin mengklaim dirinya dan mungkin hanya untuk menggertaknya saja. “Berani banget kamu ngumpat ke nyonya bos!” Bibi Desi menyahut dengan sewot karena mengira umpatan Kyra ditujukan untuknya. “Eh… bukan bibi kok, aku ngumpat ke lainnya,” bantah Kyra dengan panik karena takut membuat bosnya marah. Bibi Desi menyipitkan mata menatap Kyra curiga. “Lainnya siapa? Mr.Stauffer? Jangan-jangan kalian…” “Kyra!” panggilan Nabila menginterupsi ucapan bibi Desi. “Ya? Ada apa?” Kyra membalikkan badan menjawab panggilan Nabila. “Makanan untuk Mr.Stauffer sudah siap, dia ingin kamu yang mengantar untuknya,” ujar Nabila. Kyra mendesis jengkel sedangkan bibi Desi ternganga lebar karena kaget Mr.Stauffer secara khusus meminta Kyra yang mengantarkan makanan untuknya. “Baiklah, aku akan mengantarkannya.” *** Wanita itu menaruh piring ke atas meja dengan sedikit membanting. Daniel yang tahu bahwa Kyra sedang kesal lantas terkekeh menatapnya. “Pelayanan di restoran ini memang sangat buruk,” komentar Daniel, sengaja menyindir cara bekerja Kyra. Kyra melirik Daniel tajam, lalu berucap sinis, “Jika memang buruk, Anda bisa makan di restoran yang lain dan aku akan jaaauuuhhh lebih menghargainya.” Daniel kembali tertawa. “Padahal kemarin saat di kantor kamu meminta agar aku berlangganan dengan restoranmu, tapi sekarang kamu malah menyuruhku makan di restoran lain.” “Ya, saya menyesali ucapan saya kemarin. Dan sekarang saya serius meminta Anda makan di restoran lain supaya saya tidak perlu melihat wajah Anda lagi,” ucap Kyra, sarkasme. “Permisi!” Tiba-tiba saja Daniel mengangkat salah satu tangan memanggil pelayan lain. Alifah yang paling dekat dengan posisi mereka akhirnya datang menghampiri meja Daniel. “Ya Tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya Alifah sambil melirik sekilas Kyra di sebelahnya. “Bisa kau panggilkan bosmu?” perintah Daniel. Alifah mengernyit, “Ada apa ya Tuan? Kenapa ingin menemui Bibi Desi?” “Oh jadi wanita tua yang tadi itu bos kalian,” ceplosnya. Kyra dan Alifah terbelalak karena Daniel mengatai bos mereka wanita tua. Memang iya sih, tapi kalau bibi Desi dengar, dia pasti tidak akan suka. “Aku ingin bilang ke bosmu, kalau sebaiknya memecat pegawainya yang ini!” Daniel menunjuk Kyra. Lalu meneruskan, “Dia menyuruhku makan di restoran lain, padahal hmmppttt—” Mulut Daniel dibungkam oleh tangan Kyra. Alifah yang melihat kelancangan itu sampai dibuat terheran-heran karena bisa-bisanya Kyra memperlakukan pengunjung istimewa restoran mereka yang notabenya seorang CEO Stauffer Group dengan tidak sopan seperti sekarang. “Kamu tidak usah dengarkan ucapan Mr.Stauffer, asal kau tahu dia sedikit… tidak waras.” Kyra berkata pelan pada Alifah yang melotot mendengarnya. Daniel menyingkirkan tangan Kyra dari bibirnya lalu memprotes, “Kamu barusan bilang apa?!” Baru pertama kali ada seseorang yang berani menghina dirinya terang-terangan seperti ini. Kyra memang unik, Daniel jadi semakin terobsesi untuk segera kembali memilikinya. “Aku bilang kau pria tidak waras. Kenapa? Kau akan memarahiku?” Kyra menantang menggunakan bahasa santai, tanpa menyebut Daniel dengan embel-embel ‘Anda’ seperti sebelum-sebelumnya. Daniel melongo, agaknya sedikit kagum akan keberanian Kyra. “Kamu bahkan mulai bicara santai padaku.” “Iya, karena aku sadar percuma juga bicara sopan pada orang tidak tahu diri seperti kamu!” balas Kyra, tidak mau kalah. Karena terbawa emosi, Kyra sampai lupa kalau dia masih sedang bekerja. Dan kalau sampai bibi Desi melihat dirinya mengomeli Daniel, maka bisa Kyra tebak wanita itu pasti akan marah besar padanya. “Kyraaaaaaa!” Mampus! Ketakutannya pun terjadi. Teriakan menggelegar bibi Desi kembali terdengar yang artinya posisi Kyra jelas dalam bahaya. Dengan wajah takut, Kyra menoleh ke belakang dan melihat bibi Desi melangkah mendekatinya dengan wajah garang. “Apa yang sudah kamu lakukan pada Mr.Stauffer?! Kamu membentaknya?” maki bibi Desi setelah sampai di hadapan Kyra. “Pria ini kurang ajar Bi, dia—” Bibi Desi menyela, “Pria ini?! Kau pikir siapa ‘pria ini’ yang kau maksud Kyra! Jaga bicaramu pada Mr.Stauffer, dia tamu istimewa restoranku!” “Kau harus memecatnya, dia tidak sopan padaku, dan juga menyuruhku supaya makan di restoran lain.” Seakan ingin menambah masalah untuk Kyra, Daniel kembali memanas-manasi bibi Desi. “Apa! Kau mengatakan itu pada pelanggaaan istimewaku?!” teriakan cempreng bibi Desi lagi-lagi membuat gendang telinga Kyra hampir pecah. Tapi Kyra tidak membantah atau melakukan pembelaan karena sadar bahwa dirinya memang telah melakukan kesalahan. “Maafkan saya Bi.” Karena sudah tidak tahan dengan Kyra dan terlanjur dikuasai emosi, bibi Desi akhirnya memutuskan memberhentikan Kyra dari pekerjaannya. “Kyra, mulai hari ini kamu bukan lagi pegawai di restoran ini. Kamu, aku pecat!” Keputusan itupun mengejutkan Kyra yang kini terlihat syok. Tidak menyangka jika ia harus kehilangan pekerjaan hanya gara-gara ini. Ya Tuhan, semuanya salah Daniel! Kalau bukan karena kedatangannya kemari, mungkin Kyra tidak akan sampai dipecat. Lebih baik gajinya dipotong daripada harus dipecat dari pekerjaan yang sudah ia cintai sejak dua tahun terakhir bekerja di restoran bibi Desi. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Kyra tidak bisa memprotes atau membantah keputusan bibi Desi karena itu bukan kewenangannya. Gara-gara Daniel, kemarin malam Kyra menolak ajakan Ray menjadi pacarnya. Dan hari ini, gara-gara Daniel juga Kyra kehilangan pekerjaan. Sepertinya, pria itu pembawa bencana bagi kehidupan Kyra. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD