Valerio Lanzo tersenyum tipis mendengar pertanyaan yang bergulir dari bibir Krystal. “Seharusnya saya yang bertanya. Kenapa Anda bisa ada di sini, Nona? Jangan bilang kalau Anda sedang menguntitku?” Bola mata Krystal membulat besar. “Apa? Menguntitmu?” timpalnya, lalu mendengkus remeh. Valerio menyilangkan kedua tangannya di depan d**a dan menyenderkan punggungnya pada kusen pintu, lalu memberikan anggukan atas pertanyaan gadis itu. Tentu saja Krystal tidak bisa menerima tuduhan tak berdasar tersebut, lalu membalasnya dengan nada ketus, “Untuk apa juga saya menguntit orang m***m seperti Anda, Tuan?” Valerio mengangkat satu alisnya ke atas. Ini adalah kedua kalinya gadis itu mengecapnya sebagai orang m***m, tetapi ia tidak merasa marah sedikit pun. Malah ia merasa aneh karena gadis itu

