"Siapa gadis itu, cantik sekali."
"Lihatnya bodynya yang sangat proporsional."
"Apakah dia murid pindahan."
"Sebentar tetapi wajahnya seperti tak asing."
"Ah iya apakah itu si cupu."
"Cupu? Siapa apakah Clara."
"Wah aku tidak menyangka si cupu yang dipenuhi jerawat sekarang sangat cantik."
"Halah mau dia cantik palingan dia tetap cupu." Obrolan mereka berhenti saat terdengar bell nyaring yang menandakan kelas akan segera dimulai.
Mereka lekas berbondong-bondong menuju kekelas sebelum mereka bertemu guru bk yang killer itu. Tak peduli dengan bisik-bisik yang ada disekitarnya.
Clara lebih memilih segera beranjak ke kelasnya. Sampai dikelasnya banyak yang menatap kagum Clara juga ada tatapan iri dari sebagian siswi dikelasnya. Clara mengabaikan mereka semua, ia langsung menuju ke bangkunya kemudian menelusupkan kepala dilengannya. la lebih memilih tidur daripada mendengarkan kelas yang sangat berisik itu.
Ini masih hari pertama masuk setelah libur panjang wajar belum adanya pembelajaran untuk siswa. Hanya ada wali murid yang akan mengumumkan jadwal mata pelajaran mereka yang Baru.
"Hoaamm...." Clara menguap lebar tanpa ada niatan menutupinya. Clara kembali menjadi pusat perhatian hanya karena menguapnya yang tidak etis.
Banyak cowok yang menatap kagum Clara.bMeskipun ia menguap lebar saja tetap cantik -pikir mereka sambil bengong.
Sedangkan cewek-cewek yang ada dikelasnya semakin menatap sinis Clara. Dasar tidak tahu etika -pikir mereka.
Hanya ada satu siswi yang tidak perduli akan semua tingkah Clara. la berada dipojok belakang fokus membaca novelnya tanpa mau repot-repot mengurusi apa yang sedang panas dikelasnya.
Mendengar kembali adanya bisik-bisik dikelasnya Clara lebih memilih melanjutkan tidur.bToh untuk apa ia mempermasalahkan mereka, biarkan saja mereka berbicara apapun tentangnya. la sungguh tidak perduli.
Anjing akan selalu menggonggong kepada tuannya bukan. Tetapi jika mereka berani mengusiknya maka ia akan membalas lebih dari perbuatan mereka.
Clara merasa bosan dikelas, ia beranjak untuk ke toilet hanya untuk sekedar jalan-jalan.bMemang benar koridor kelas sepi tetapi dikelas masing-masing ternyata sangat berisik.
Clara yang melewati kelas-kelas berisik itu seketika menjadi pusat perhatian. Banyak para kaum cowo yang terhipnotis dengan kecantikan Clara.
Bahkan sebagian hampir saja menjatuhkan air liurnya dengan mulut yang terbuka. Melihat dia menjadi pusat perhatian Clara hanya memasang wajah super datarnya dan tetap melangkah angkuh.
Sebenarnya ia risih menjadi pusat perhatian seperti ini, tapi ini adalah resikonya ketika mengubah penampilan.
Dulu ia bahkan tidak pernah terlihat Dimata mereka, seakan adanya dulu hanya sebagai bakteri kecil yang merugikan.
Padahal dulu Clara tidak pernah mengusik mereka. Tapi yah lihat saja sekarang mereka. Dasar manusia memang hanya memandang fisik saja. Sampai di toilet sebenarnya ia hanya ingin mengaca saja tetapi ia malah tiba-tiba ingin buang air kecil.
Selesai dengan urusannya Clara membasuh tangannya sambil mengaca yang memperlihatkan wajahnya yang cantik. la tersenyum puas saat semua orang kini menatapnya kagum.
Belum selesai ia mencuci tangan dari belakangnya ada beberapa siswi yang masuk sambil membanting pintu toilet keras.
Brakk....
Juga terdengar pintu yang terkunci. Tanpa repot-repot menoleh Clara sudah tau siapa yang datang. la melihat dari pantulan kaca siswi dengan bando merah juga lipstik menyalanya.
"Ah Bianca, apa kabar?" tanyanya dengan tersenyum lebar.
Melihat Clara yang malah tersenyum lebar itupun sontak membuat kemarahan Bianca mengobar.
"Kau," tunjuknya dengan ekspresi marah. Jangan lupakan matanya yang melotot seperti mau keluar saja. la kemudian melihat kebelakang Bianca, ada 2 siswi lainnya yang bersedekap.
"Kenapa kamu marah Bianca, apakah aku membuat masalah denganmu."
"Oh atau kamu merasa tersaingi sekarang," Ucapnya sambil menutup mulut seolah-olah Clara salah berbicara.
"Ah tidak, Maaf-maaf. Tidak mungkin kan seorang ratu bullying disekolah ini yang cantik jelita tersaingi oleh seorang cupu sepertiku," ucapnya dengan senyum menyebalkan.
Mendengar itu sontak Bianca tidak bisa menahan kemarahannya lagi.
"Mulutmu itu harus diberi pelajaran." Ucap Bianca emosi sambil mengangkat tangannya tinggi berniat menampar Clara Tetapi sebelum tangan itu mengenai Clara, tangan Clara lebih dulu menggenggam kuat tangan Bianca.
Bianca yang merasakan cekalan Clara sangat kuat pun sontak meringis kesakitan. Sungguh rasanya Clara seperti ingin meremukkan tangan Bianca.
"Berani kau menyakitiku seujung jari saja akan kubalas lebih dari perbuatanmu," ucap Clara sambil berbisik di telinga Bianca.
Mendengar nada menyeramkan dari Clara Bianca hanya bisa mematung Kenapa tubuhnya tiba-tiba bergetar hanya karena ancaman dari cupu ini.
Kemudian ia berusaha memberontak agar cekalan Clara terlepas.
"Lepaskan aku sialan," serunya marah dengan suara yang bergetar. Entah antara menahan kesakitan atau takut, Clara tidak perduli.
Melihat sahabatnya yang kesakitan karena dicekal Clara teman Bianca yang ada dibelakangnya pun segera maju berniat ingin membebaskan Bianca.
Sebelum mereka berhasil menyentuh Clara, Clara lebih dulu mendorong Bianca kearah mereka, siswi yang tidak tahu apa pun terjungkal kebelakang dan juga Bianca yang tak mampu menahan dirinya itu. Mereka terjatuh dengan tidak etisnya. Melihat mereka bertiga yang tiduran dilantai toilet sontak Clara memasang senyum mengejek.
"Kalian memang menjijikkan." Ucapnya sambil melangkah melewati mereka dan dengan mudah membuka toilet yang terkunci.
Setelah Clara keluar dari toilet, teman Bianca pun segera berdiri dan membantu Bianca berdiri.
Bianca yang sudah berdiri pun sontak menjerit melihat baju seragamnya yang kotor akibat jatuh dilantai tadi, begitu juga dengan seraragam dua temannya.
"Sialan memang Clara bajuku jadi kotor gini," ujarnya menjerit sambil menghempaskan tangan di baju berharap noda kotor itu hilang.
Tapi apa yang diharapkan tidak sesuai dengan realita. Karena usahanya itu malah membuat seragamnya semakin kotor karena nodanya yang basah.
"Clara anjingg," umpatnya marah melihat seragamnya yang semakin kotor.
"Bagaimana ini Bianca kita tidak mungkin keluar dari toilet dengan keadaan seperti ini. Aku malu," ucap salah satu temannya bernama Chika.
"Iya aku juga," timpal temannya yang lain bernama Vera.
"Sialan, diam kalian. Ini aku masih cari cara," sentaknya jengkel.
Punya teman tidak berguna pikirnya. Kemudian ia segera mengeluarkan hp disaku seragamnya. la menekan tombol panggil ketika menemukan kontak yang ia cari.
"Halo, ada apa Bianca," jawab seseorang di sana dengan nada takut.
"Belikan 3 seragam baru di koperasi."
"Tetapi Bianca untuk apa beli seragam."
"Heh luna ga usah banyak nanya, cepat beli dan bawa ke toilet sebelah kanan SEKARANG."
"Ah baik aku akan berangkat."
"aku tunggu 15 menit awas saja sampai kamu belum datang habis kamu." Kemudian ia segera menutup telpon. Untung dia punya babu dikelasnya.
"Berguna juga dia selain mengerjakan PR ku." gumamnya
"Bagaimana sis dia mau kan belikan kita seragam." ucap Vera cemas. Bisa saja Luna tidak menuruti perintah Bianca, mereka bisa jadi terjebak di toilet sampai sekolah berakhir.
"Tenang guys, babu pasti nurut ke majikannya kan," ucapnya sambil tersenyum.
"Tapi kalau dia tidak kesini besok dengan senang hati aku akan memberinya pelajaran."
Senyum iblis terbit di wajah Bianca, Begitu juga dengan dua temannya. Ya mereka memang gemar membully orang, bagi mereka itu adalah kegiatan yang menyenangkan.
Apalagi melihat lawan mereka yang memohon-mohon kepada mereka atau melihat tangisan putus asa darinya.
Oh seperti mendapat mainan baru yang sangat menarik.