Usai melepas rindu, oma pulang bersama opa dan Arman. Sepanjang perjalanan Arman hanya diam. Ingin rasanya ia berontak, tapi tak tahu pada siapa. Oma dan opa juga diam, seolah tahu apa yang terjadi pada Arman. “Arman, papa ingin ingin bicara denganmu,” ujar opa setibanya di rumah. Arman diam sejenak, sejujurnya ia malas bicara dengan siapapun. Saat ini yang paling diinginkannya adalah sendiri. Tapi bagaimana mungkin dia terlihat cengeng di depan papanya? “Baik, Pa,” sahut Arman mengangguk mengikuti papanya menuju ruang keluarga. Oma tidak ingin ikut camur urusan anak dan bapak itu, ia memilih beristirahat di kamar. “Arman, sebagai pewaris perusahaan Setiawan Grup, kamu harus benar-benar mempersiapkan diri. Papa ingatkan sekali lagi padamu, tidak mudah menjadi seorang pemimpin. Tidak m

