Aroma parfum begitu menyeruak seisi ruangan. Vyora tersenyum melihat pantulan tubuhnya di depan cermin.
Kemeja merah dengan rok span berwarna hitam yang dia pakai untuk meeting besar di kantornya.
“Akhirnya kamu akan hidup tenang sampai mati,” gumam Vyora tersenyum menatap diri.
Dia lalu masuk ke dalam kamar, matanya fokus ke pria tua yang menikahinya satu tahun lalu.
“Sayang ….”
Gunawan masih terbaring lemah, Vyora menatap wajahnya sesaat lalu memastikan jika suaminya itu masih hidup.
“Sayang bangun, kita sarapan,” tutur Vyora duduk di tepi ranjang.
Perlahan Vyora memegang pipi Gunawan, menyusuri hingga ke leher mencoba mengecek nadinya.
“Dia masih hidup,” batin Vyora. “Sayang.”
Perlahan Gunawan membuka matanya, dia sama sekali tak bersuara lalu sedetik kemudian menutup mata.
“Aku berangkat kerja dulu ya. Hari ini ada rapat yang sangat penting, karena ini keinginanmu aku harus datang ke sana,” ucapnya.
Lagi-lagi Gunawan tak respon. Vyora menyelimuti tubuh suaminya lalu beranjak dari ranjang—keluar dari dalam kamar.
“Bi Sari, sepuluh menit lagi suapin Bapak. Makanannya ada di nakas, sekalian dibersihkan kaki dan tangannya, nanti badannya biar aku saja sepulang kerja.”
“Iya Bu. Pulang kerja kan sore, nanti Bapak marah lagi kalau aku yang bersihin tangan sama kakinya,” ucap Sari.
“Hari ini aku cuma sebentar di kantor.” Mataku melihat jam tangan lalu berkata, “Cuma satu jam, selesai meeting aku langsung pulang.”
“Iya, Bu.”
“Oh ya, nanti dokter Oki datang, temani Bapak ya, biar tahu apa saja yang diperiksa sama dokternya.”
“Baik, Bu,” sahutnya.
Vyora masuk ke dalam mobil. Saat mobil berjalan meninggalkan halaman rumah, dia menoleh ke arah jendela kamarnya.
“Meskipun nanti dia sehat kembali, aku sudah menguasai semuanya,” gumamnya lalu menutup kaca mobil.
Selama ini Vyora bekerja sebagai staf di divisi finance dan kini dia menjadi CEO di perusahaan itu.
Banyak cibiran yang mengiringi langkahnya, tetapi Vyora tetap mengangkat kepalanya—tanda jika dia tidak peduli dengan siapapun.
Sesampainya di depan gedung Jaya Grup, Vyora merapikan penampilannya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kantor.
Sekuriti yang berjaga pun membantu membukakan pintu untuknya
“Selamat pagi, Bu,” sapa mereka.
“Pagi,” jawab Vyora berjalan masuk.
Semua mata tertuju padanya, cibiran tentang menikahi pria tua karena harta seketika berubah menjadi rasa iri. Gosip Vyora menjadi CEO seketika menyebar di kantornya dan membuat beberapa orang yang dulu mencibirnya ketar-ketir.
“Selamat pagi Bu Vyora,” sapa pria berjas hitam menatapnya.
Wajah yang tegas, tubuh atletis dengan tinggi sekitar 190cm, membuat Vyora terkesima sesaat.
“Pagi,” jawabnya.
Vyora mencoba mengingat-ingat lagi siapa pria yang saat ini berdiri di depannya. Jika dia orang kepercayaan suaminya, pasti Vyora tahu, tapi siapa pria itu?
“Selamat pagi Vyora,” sapa Doni yang baru saja datang.
“Pagi, Pak Doni.”
Mata Doni beralih ke pria yang berdiri di sampingnya lalu berkata, “Ini Aiden, sekretaris sekaligus bodyguard Bu Vyora.”
Hening, sesaat Vyora tak merespon ucapan Doni hingga akhirnya suara pintu lift terbuka menyadarkannya.
“Oh, senang bertemu denganmu,” ujar Vyora kemudian masuk ke dalam lift.
Suasana di dalam lift terasa canggung bagi Vyora. Dia merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat Aiden.
“Bukannya sekretarisku Pak Doni?” tanya Vyora memastikan.
“Ini perintah Pak Gunawan. Meskipun Aiden sekretaris, tetapi dia juga jago beladiri—bisa jadi bodyguard bersamaan. Untuk saat ini saya masih menjadi sekretaris Pak Gunawan sekaligus pengacaranya,” jelasnya.
Sudut mata Vyora melirik ke arah Aiden sebelum akhirnya dia kembali menatap pantulan dirinya di dinding lift.
Aiden berjalan lebih dulu saat pintu lift terbuka. Dengan sopan dia membukakan pintu ruang meeting dan mempersilahkan Vyora dan Doni masuk lebih dulu.
Hening beberapa saat sebelum akhirnya salah satu pria berdiri.
“Selamat pagi Bu Vyora,” sapa pria itu dengan kepala sedikit menunduk.
Tak hanya dia, beberapa orang yang ada di sana pun melakukan hal yang sama.
“Pagi, silahkan duduk,” ujar Vyora lalu duduk di kursinya.
“Baiklah kita mulai saja meeting hari ini. Sebelumnya aku yakin bapak-bapak sekalian pasti sudah tahu perihal Bu Vyora. Pasti ada selintingan kabar yang mungkin membuat kalian senang atau malah kesal.”
Doni menjeda ucapannya sambil menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di sana.
“Baiklah, sehubungan dengan wasiat yang sudah di tanda tangani oleh pemberi wasiat yaitu Pak Gunawan dan yang diberi wasiat yaitu Bu Vyora. Dengan ini saya sampaikan jika seluruh harta yang dimiliki Pak Gunawan di wariskan untuk Bu Vyora termasuk jabatannya sebagai CEO dan Dirut utama di Jaya Grup.”
Riuh tepung tangan dari beberapa orang yang setuju dengan wasiat itu. Sementara, beberapa orang terlihat muak bahkan membuang muka.
“Jika diantara Bapak-bapak disini ada yang tidak setuju dengan keputusan Pak Gunawan dan ingin mengambil saham kalian, dipersilahkan.”
Vyora meneliti setiap wajah orang-orang yang ada di sana. Meski dulunya hanya bagian finance tapi Vyora tau semunafik apa rekan-rekan kerjanya.
“Baiklah jika kalian setuju mari kita sambut Dirut baru Jaya Grup.”
Vyora pun berdiri lalu berkata, “Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik dan mohon bimbingannya. Terima kasih.”
Ucapan selamat terdengar tulus tapi Vyora tahu mana kawan mana lawan.
“Bu Vyora, mari saya antar ke ruangan.”
Vyora pun mengikuti langkah Doni hingga akhirnya berhenti didepan sebuah ruangan.
Bukan ruang kerja Gunawan, melainkan ruang kerja baru yang sudah di persiapkan sebelumnya.
“Kenapa ada dua meja di sini?” tanya Vyora saat melihat ada meja lain di sudut ruangan.
“Ah, itu meja kerja Aiden. Untuk sementara waktu dia akan berada satu ruangan dengan Bu Vyora.”
“Kenapa, bukannya masih ada ruangan kosong disini?”
“Ini atas perintah Pak Gunawan. Beliau meminta menyuruh saya agar membawa orang yang dapat di percaya sebagai sekretaris dan mungkin jadi orang kepercayaan Bu Vyora,” jelas Doni.
Vyora hanya berdesis kemudian duduk di kursinya.
“Baiklah, kalau begitu aku kembali ke ruang kerjaku. Selamat bekerja Bu Vyora.”
Setelah pintu di tutup hawa di ruangan itu pun terasa dingin. Vyora mengalihkan pandangannya saat Aiden berjalan ke arahnya.
“Mau aku buatkan kopi, coklat atau teh?” tanya Aiden.
Kali ini Vyora menatap wajah pria itu. Vyora merasa tidak asing dengan pria yang kini berada di hadapannya.
“Apa kita pernah bertemu?”
Aiden tersenyum, dia sedikit menggeser kursi agar lebih dekat dengan atasannya itu.
“Kamar 201.”
Mata Vyora membelak mendengar ucapan pria itu. Potongan ingatan seolah terangkai kembali saat mata mereka saling beradu.